Juliet

1180 Words
Sepasang kaki beralas sepatu mewah khas seorang trillionaire melangkah dengan gagah, celana berbahan elegan serta tuxedo berkelas yang dilengkapi wajah tampan oleh si pemakai membuat kesan luar biasa pada dirinya. Tundukan hormat dari kiri dan kanan terus ia jumpai. Kini, langkah itu terhenti di depan sebuah kamar 106. Tok... Tok... Tok... Tangan kanan mengetuk untuk tuannya, menunggu beberapa saat, pintu terbuka menampilkan wanita cantik beraura kuat dengan gaun glamornya. Wanita itu mengeluarkan senyum anggun kemudian keduanya terlibat perbincangan singkat tentang rapat. Menit demi menit berlalu, keduanya sampai di lantai bawah yang terdapat restoran VVIP, memesan makanan berkelas mereka masing-masing dan berbincangan tentang bisnis. "Jadi, apa anda akan menghadiri pesta Alfio Orlando? Maksudku, Verona dekat dengan Roma jadi mengapa tidak?" Wanita itu tiba-tiba membicarakan hal yang di luar topik mereka. Hans menatapnya datar, ia tidak menjawab pertanyaan wanita itu. Lucy kembali mengaduk-aduk minumannya setelah itu menenggaknya. "Aku dengar kalian sudah berkerja sama sejak lama." Ucap Lucy. "Tidak ada kaitannya." Pria itu meminum wine-nya. Lucy hanya menatapnya kemudian mereka selesai dengan makan malam yang membosankan itu. Dan lagi-lagi Hans yang membayar tagihannya membuat Lucy berdecak dan protes, mereka terlibat perdebatan singkat dan berakhir dengan wajah cemberut dari Lucy. Wanita itu menghempaskan tubuhnya ke queen size miliknya, berbaring untuk sedikit berpikir, mungkin tidak sedikit bahkan otaknya seperti akan meledak rasanya. Wanita itu menghela napasnya gusar, mengetik sesuatu pada ponselnya. Sebenarnya apa tujuanmu, Hans? Mengapa aku tidak tahu setiap pola pikirmu? Mengapa kau penuh dengan misteri? Kau berhasil membuatku fokus hanya padamu... Wanita itu memutar tubuhnya, menopang berat pada sikunya dan mengetik ponsel kemudian menadahkannya pada telinga. "Kita ke Roma besok."                                            ★ Tatapan dingin itu tertuju pada sebuah gelas kaca bening yang ia pegang berisi cairan beer mahal Grape Ale Sorrento Ligia. Sarrento Ligia adalah salah satu beer dengan kualitas terbaik di Italia. Tampilannya pun menarik dengan warna kuning jerami, busa putih, sedikit kasar. Minuman ini juga cukup bergengsi. Hans menenggak minuman itu dan menatap Ken yang tengah duduk di sampingnya, mengodekan pria itu untuk pergi ke kamarnya. Ken mengangguk dan segera pergi ke kamar hotelnya. Hans membaringkan tubuhnya, pikirannya selalu jatuh pada wanita pujaannya. Lucy Setya Febriana... Kedua mata dinginnya tertutup, mengingat setiap kenangan yang membuatnya terus bahagia, membuatnya semakin merindukan wanitanya, membuatnya semakin mencintai wanitanya. Hingga, ia terlelap ditarik oleh Lucy dalam khayalannya menuju alam mimpi. ★ Malvin meminum vodka-nya untuk melampiaskan kekesalan, dirinya yang mendominan menginginkan Lucy secepatnya tidak terwujud. Pria itu membanting gelas mewahnya, tatapan tajamnya semakin menyeramkan. Pelayan-pelayan yang ada di rumahnya pun melirik dengan penuh rasa takut. Tanpa mempedulikan tatapan mereka, pria itu menelepon seseorang di sebrang sana. "Lanjutkan rencananya!" Tanpa menunggu balasan pria itu langsung memutuskan sambungan, tangannya dengan lincah mencari kontak seorang wanita yang berkerja sama dengannya. "Tiffany, ke tempatku sekarang! Kita harus memikirkan jalan selanjutnya!" Bentak Malvin. "..." "Aku tidak peduli! Kau cepat ke sini!" Malvin lagi-lagi memutuskan sambungan. Keningnya bertaut, tangannya mengepal, ekspresi frustasi tertera pada dirinya sekarang. Pria itu bisa gila jika dirinya terus dikalahkan oleh kakak kembarnya, ia tidak rela kalah untuk yang kesekian kalinya! "Aku pasti menang, Hans! Aku tidak akan kalah dari dirimu lagi! Tidak akan! Lucy adalah milikku!" ★ Lucy berusaha menikmati pesta pada malam itu, tatapannya terus mencari sosok yang ia tunggu-tunggu. Tidak ada yang istimewa, hal itu membuatnya benar-benar bosan. Para manusia berkelas sibuk mencemooh, menggosip, memaki orang lain. Bahkan ada juga yang bermesraan, saling memuji diri sendiri, dan bersenda gurau. Wanita itu melangkah santai ke balkon, menatap indahnya pemandangan bulan purnama yang menyinari tanpa adanya bintang-bintang penghias langit, sendirian dan kesepian. Wanita itu mengutak-atik ponselnya, menanyakan keadaan kedua anaknya pada pengasuh. Hati kecilnya benar-benar merindukan suasana tentram bersama suaminya ditemani kedua anaknya yang masih bayi, merangkak, belajar berdiri, ia menginginkan kebersamaan mereka menuntun kedua anaknya. Tapi semua tidak terjadi, bagaikan angan-angan. Drrt... drrt... drrt... Lucy kembali menatap ponselnya, menekan tombol hijau lalu mengarahkannya pada indra pendengarnya. "..." "Hans masih di Verona? Apa dia tidak datang ke Roma? Apa dia benar-benar tidak menghadiri Pesta Alfio Orlondo? Bagaimana bisa? Apa yang ia lakukan di Verona?" "..." "Dia pergi ke Casa Giulietta? Apa yang ia lakukan di sana? Segera dapatkan informasi lebih! Kirim mata-mata untuk ke sana, aku juga akan menyusul!" Casa Giulietta adalah salah satu tempat wisata terbaik di Italia yang berada di Verona. Di sina adalah setting tempat pertama Romeo and Juliet yang diangkat menjadi film. Casa Giulietta diyakini adalah tempat tinggal Juliet karena di ujung jalan terdapat sebuah bangunan kediaman resmi keluarga Dal Capello. Desas-desusnya, nama Capello diturunkan menjadi nama Capullet, (Nama keluarga Juliet). "..." Lucy kembali menutup ponselnya, menggeram dengan tangan terkepal kuat. Dirinya melangkah cepat menuju mobil mewahnya bersama Jimmy. Mobil mewah khas Italia melaju membelah keramaian jalan raya, deruman mesin semakin nyaring akibat lajunya mobil, putaran ban yang semakin cepat membuat mobil semakin ringan. Tatapan datar dari keduanya menghiasi kesunyian dan keterbungkaman keduanya, ambisi untuk menghancurkan suaminya tidak pudar. Decitan ban yang cukup nyaring menandakan sampainya kendaraan itu pada tujuan. Wanita itu berlari menjelajah untuk mencari sosok yang ia cari, derap kaki yang kini semakin cepat menjelajahi setiap sudut, tidak ada apa pun. Tidak ada mobil atau pun keberadaan manusia di sana. Deru napas yang tidak berarturan menghirup sebanyak yang ia bisa, sorot mata tidak pernah berhenti mencari hingga tatapannya jatuh pada patung Juliet. Seketika ia terpaku dan terpukau, angin malam menyapu permukaan kulitnya, hatinya menjadi sakit melihat patung itu. Jemari indah Lucy menyentuh tangan patung itu, halus dan kasar tekstur yang membuat Lucy terpana. "Nona?" Lucy menoleh, mendapati Jimmy yang menatapnya bingung. Menyadari tatapan itu, Lucy melepas sentuhannya dari patung. Kakinya kembali berlari untuk menelusuri tempat-tempat yang ia harap bisa menemukan Hans tapi tidak ada, tatapannya beralih pada gembok-gembok yang ada tepat di depannya, gembok warna-warni itu menuliskan nama sepasang kekasih. Menurut mitos yang beredar, jika nama pasangan di tempel di gembok itu maka cinta mereka akan terkunci, setia, dan tidak akan terpisahkan. Entah kenapa perasaannya mendorong dirinya untuk melihat gembok itu. Tangan mulusnya menyentuh salah satu gembok berwarna merah, kemudian tangannya beralih pada gembok berwarna hitam. Deg! Jantungnya berdegub dengan kencang, airmata mulai membanjiri pelupuk matanya, deru napasnya tidak berarturan. Hans & Lucy. Airmatanya tumpah, isak tangis yang berusaha ia pendam tidak lagi dapat membendung, bibirnya bergetar lantaran tidak percaya dengan apa yang ia baca, kaki yang menumpu tubuhnya kini jatuh, pertahanannya runtuh. Hans... aku mencintaimu... Wanita itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, anak buahnya yang mendengar tangisan itu langsung menghampirinya. "Nona?" Tidak ada jawaban hanya ada tangisan yang memilukan darinya, wanita itu tidak mengubah posisinya sama sekali. Jimmy langsung membantunya untuk naik ke dalam mobil, wanita itu tidak melawan, ia sibuk dengan perasaan serta pikirannya. Hingga ia lelah untuk menangis, ia terlelap. Jimmy mengangkat nonanya dengan bridal dan meletakkannya di atas queen size. Pria itu terus menatap nonanya dan tersenyum tipis, menyelimutinya dan mencium keningnya. ★ Hans menopang dagunya, tatapannya lurus keluar jendela, gelap gulita, hanya ada bulan purnama sendirian yang menyinari angkasa. Ia membuka kaca mobil, terpaan angin segar menyentuh permukaan kulitnya, tatapannya masih lurus pada bulan yang ia rasa tengah menatapnya juga. Pria itu tersenyum tipis. Aku tahu kau mencintaiku, Lucy... kau tidak akan meninggalkanku...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD