Al menutup, dan mengunci pintu. Aya turun dari atas ranjang. Dinaikkan bagian bahu gaunnya, karena kancing gaunnya sudah dibuka semua oleh ammanya. "Mau ke mana?" tanya Al. "Kamar mandi," jawab Aya dengan nada ketus. "Mau menangis lagi? Menangisi apa? Sedih, atau bahagia? Atau ...." "Berisik!" Mata besar Aya melotot ke arah Al. Al bergerak mendekat, Aya mundur untuk menghindari, sampai punggungnya menyentuh pintu lemari. "Di antara suami, dan istri, tidak boleh ada rahasia, Aya." Al mengurung Aya dengan kedua tangannya yang ditempelkan di pintu lemari. Wajah Aya mendongak, untuk menantang tatapan Al. "Harusnya, saling mengenal dulu baru menikah. Anda pikir, saya tidak tahu tujuan anda menikahi saya? Ini bukan karena anda jatuh cinta pada saya, tapi karena cinta anda pada Ibu!"

