“Mana kuncinya…?”
Tara kembali mengaduk-aduk isi tasnya.
Dompet.
Lipstik.
Tisu.
Ponsel.
Kartu akses.
Semuanya ada.
Kecuali satu benda yang sejak tadi ia cari.
“Kunci…”
Tara mengeluh untuk kesekian kalinya. Dahinya berkerut, sementara tubuhnya sudah tidak lagi mampu berdiri tegak tanpa bersandar pada sesuatu.
“Ya ampun…”
Ia menutup wajah dengan kedua tangan.
Malam ini benar-benar sebuah kesalahan, seharusnya menolak ajakan Rini.
Seharusnya pulang ke rumah seperti biasa, mandi, mengganti pakaian dengan piyama, kemudian merebahkan diri di atas tempat tidur sambil menonton sesuatu yang ringan atau bertukar pesan dengan dua sahabat terbaiknya, Kanara dan Naura.
Mungkin saat ini mereka sedang membicarakan hal-hal tidak penting seperti biasanya, Naura sedang mengirim foto makanan, Kanara sedang mengeluhkan sesuatu dan Tara akan tertawa membaca percakapan keduanya.
Namun semuanya hanya angan-angan sekarang.
Ia malah berakhir di lobi apartemen dalam keadaan setengah sadar, kepalanya berdenyut, perutnya terasa tidak nyaman, dan kunci mobil entah tertinggal di mana.
“Mana kuncinya…”
Tara mengulanginya lagi.
Antares yang berdiri di sampingnya hanya bisa menghela napas.
“Kak.”
“Hm?”
“Biar aku yang buka.”
Antares mengambil kartu akses dari tangan Tara setelah melihat perempuan itu bahkan hampir menjatuhkannya.
Sebenarnya niat Antares sejak awal hanya ingin mengantar Tara sampai lobi, setelah itu ia akan pergi.
Tara tinggal masuk ke unitnya sendiri.
Namun melihat kondisi perempuan itu, Antares langsung tahu rencana tersebut tidak mungkin dilakukan.
Tara bahkan kesulitan berjalan lurus.
“Kak, unitnya nomor berapa?”
Tara mengangkat satu tangan, kemudian menunjuk ke arah lift.
“Di atas.”
Antares menatapnya. “Itu saya tahu. Nomornya?”
Tara diam, kemudian tersenyum kecil.
“Lupa.”
Antares mengusap wajahnya.
“Ya ampun, Kak Tara.”
“Aku ingat.”
“Nomornya?”
Tara kembali diam.
Antares akhirnya mengambil ponsel Tara.
Untungnya, layar ponsel masih terbuka.
Ia menemukan informasi unit dari salah satu pesan yang tersimpan.
“Sudah ketemu.”
Mereka akhirnya masuk ke lift.
Tara berdiri dengan tubuh bersandar pada dinding, matanya terpejam, kepalanya semakin berat.
Antares berdiri di sampingnya, sesekali memperhatikan wajah Tara melalui pantulan pintu lift.
“Kak?”
“Hm?”
“Masih sadar?”
Tara membuka mata sedikit, “Masih.”
Beberapa detik kemudian kepalanya kembali terkulai, Antares menggeleng.
“Ini namanya bukan masih sadar.”
Pintu lift terbuka, Antares membantu Tara berjalan menuju unitnya.
Begitu sampai di depan pintu, Tara kembali mencari sesuatu di dalam tas.
“Kuncinya…”
“Pakai kartu akses.”
“Oh iya.”
Antares membantu membuka pintu.
Begitu pintu terbuka, Tara langsung melangkah masuk.
Namun baru beberapa langkah, ia berhenti, tangannya menekan pelipis.
“Kepalaku…”
Antares segera mendekat. “Kak, pusing?.”
Tara menarik napas dalam.
“Pusing banget.”
Belum sempat Antares menjawab, wajah Tara berubah.
Ia menutup mulut.
“Antares…”
Antares langsung memahami.
“Ke toilet?”
Tara mengangguk cepat.
Ia berusaha berjalan sendiri, tetapi baru beberapa langkah tubuhnya sudah kehilangan keseimbangan.
Antares segera menopang tubuhnya.
“Ayo.”
Mereka berhasil sampai ke kamar mandi tepat waktu.
Tara berlutut di depan toilet dan langsung memuntahkan isi perutnya.
Antares berdiri di belakangnya, ia mengambilkan rambut Tara yang terurai agar tidak mengganggu, kemudian mengambil air dan tisu.
“Kak, tarik napas pelan.”
Tara tidak menjawab, beberapa saat kemudian, ia kembali muntah.
Antares tetap berada di sana membantu sebisanya.
Setelah beberapa menit, Tara akhirnya bersandar lemas di dinding.
“Sudah?”
Tara mengangguk lemah.
Antares mengambil segelas air.
“Berkumur dulu.”
Setelah itu ia mencoba berdiri, namun kakinya terasa begitu lemas. Antares langsung menangkap lengannya.
“Pelan-plan.”
“Aku bisa.”
“Kalau bisa, enggak mungkin hampir jatuh.”
“Sudah bertahun-tahun enggak berubah.”
Antares kemudian membantu mengangkat tubuhnya dengan hati-hati.
Ia melepaskan sepatu hak tinggi yang masih dikenakan Tara satu per satu agar perempuan itu lebih nyaman.
“Kak, duduk dulu.”
Tara akhirnya didudukkan di tepian sofa dengan Antares berjongkok di depannya, memastikan kedua kaki Tara tidak terluka.
“Lebih enak?”
Tara mengangguk, Antares hendak berdiri namun tiba-tiba tangan Tara mencengkram pergelangan tangannya.
“Antares…”
Antares menoleh.“Iya?”
“Kamu pulang aja. Aku enggak apa-apa.”
Tara mencoba tersenyum.
“Pergi aja. Aku bisa sendiri.”
Namun ironisnya, tangannya justru semakin erat mencengkram pergelangan tangan Antares.
Antares menatap tangan itu, kemudian menatap wajah Tara.
“Kak, kalau memang aku disuruh pergi, tangannya dilepas dulu.”
Tara melihat tangannya sendiri, seolah baru sadar bahwa sejak tadi ia masih memegang Antares.
Ia hendak melepaskannya namun baru saja jemarinya terbuka, tubuhnya kembali oleng. Antares refleks menahannya.
“Sudah.”
Antares menghela napas.
“Aku enggak akan pergi.”
“Tapi…”
“Aku tunggu sampai Kak Tara benar-benar sadar.”
Tara memandangnya beberapa saat.
Kemudian menyerah.
“Ya sudah.”
Antares mengambil selimut tipis dari sandaran sofa dan menyampirkannya ke tubuh Tara.
Namun ketika ia hendak mengambil air, Tara justru memperhatikannya lekat-lekat.
Tatapan perempuan itu berubah.
Seolah sedang mencoba mengingat sesuatu dari masa lalu.
“Kamu…”
Antares berhenti.
“Apa?”
Tara menyipitkan mata.
“Aku pernah lihat kamu.”
Antares tersenyum kecil.
“Jelas pernah.”
“Di mana?”
Antares duduk di kursi yang tidak jauh dari sofa.
“Di rumah Tante Sofia.”
Nama itu seperti membuka sebuah pintu kecil dalam ingatan Tara.
“Sofia…”
“Iya.”
Tara mengangguk pelan. “Sahabat kuliahku.”
“Betul.”
Tara menatap Antares lebih lama.
Sedikit demi sedikit ingatan lama mulai muncul.
Antares keponakan Sofia, dulu masih remaja.
Anak laki-laki yang sering datang ke rumah Sofia dan kadang membuat Tara kesal karena terlalu suka mengganggunya dan satu hal yang paling ia ingat,
Antares pernah menyatakan cinta kepadanya.
Saat itu Tara tertawa, bukan karena ingin menyakitinya ia hanya menganggap Antares masih terlalu muda.
Baginya, Antares hanyalah bocah kecil yang baru mengenal perasaan sendiri.
Tara bahkan pernah berkata bahwa suatu hari nanti Antares akan menertawakan dirinya sendiri karena pernah menyukai perempuan yang jauh lebih tua.
Namun sekarang Tara memandangi lelaki di hadapannya.
Rambut hitam sedikit berantakan, wajah tegas, rahang yang jelas, tatapan tenang, tubuh tinggi dan tegap.
Antares bukan lagi bocah kecil.
Ia sudah tumbuh menjadi seorang lelaki dewasa.
Tara terkekeh pelan. “Kamu,,,Ganteng banget.”
Antares terdiam.
Pujian itu keluar begitu saja, Tara sendiri seperti tidak sadar dengan apa yang baru saja dikatakannya.
Antares akhirnya tersenyum.
“Baru sadar?”
Tara tertawa kecil, “Jangan sombong.”
Tara kembali memperhatikannya.
“Dulu kamu memang suka sama aku?”
Antares tidak langsung menjawab, ia bersandar pada sofa, kemudian menatap Tara.
“Dulu?”
“Iya.”
“Kak Tara benar-benar lupa?”
Tara terkekeh. “Enggak ingat.”
Antares tersenyum tipis.
“Pernah. Dulu aku benar-benar suka sama Kak Tara.”
Tara tersenyum. “Sekarang?”
Antares diam beberapa detik, kemudian menjawab santai.
“Kak Tara masih cantik seperti dulu.”
Tara langsung terkekeh, “Bohong. Aku sudah tua.”
Antares menggeleng, “Enggak.”
“Sudah kepala tiga.” Tara menghela, mengingat usianya yang sudah tidak muda lagi.
“Memangnya kepala tiga itu tua?”
Tara tertawa.“Kamu…” Ia menunjuk wajah Antares.
“Justru kamu yang makin ganteng.”
Antares tersenyum. “Terima kasih.”
Tara terus memandanginya.
Entah karena alkohol, atau karena pikirannya sedang tidak sepenuhnya sadar. Atau mungkin karena ada sesuatu yang sebenarnya selama ini tersembunyi jauh di dalam ingatannya, tiba-tiba kedua tangan Tara terangkat. Ia menangkup wajah Antares.
Antares terkejut. “Kak?”
Tara tersenyum kecil. “Maaf.”
“Untuk apa?”
“Dulu aku sempat ngetawain kamu.”
Antares terdiam, saat Tara mengusap pipinya pelan.
“Padahal…”
Tara mendekat.
“Sekarang aku lihat…Kamu ganteng banget.”
Antares membeku, jarak mereka menjadi begitu dekat.
Namun Antares segera menangkap keadaan Tara.
Tatapan perempuan itu tidak sepenuhnya fokus, gerakannya pun tidak stabil. Tara sedang mabuk.
Maka sebelum sesuatu terjadi, Antares menahan kedua tangan Tara dengan lembut.
“Kak.”
Tara mengerutkan kening.
“Hm?”
“Kak Tara lagi enggak sadar sepenuhnya.”
“Aku sadar.”
Antares tersenyum kecil.
“Kalau besok Kak Tara masih mengatakan hal yang sama dalam keadaan sadar, baru aku percaya.”
Tara menatapnya dengan mata setengah terpejam.
“Kenapa?”
“Karena aku enggak mau memanfaatkan keadaan Kak Tara.”
Untuk sesaat Tara hanya diam, kemudian kepalanya perlahan bersandar ke bahu Antares.
“Antares, jangan pergi dulu.”
Antares terdiam, membiarkan Tara bersandar namun sesuatu terjadi di luar kendali saat Tara tiba-tiba menangkup wajahnya dan mencium Antares..