Bab 1. Mabuk

1465 Words
“Bu Tara, ikut kami, kan?” Suara Rini membuat langkah Tara yang sejak tadi sibuk memeriksa beberapa dokumen di atas meja berhenti. Perempuan itu mengangkat wajah, kemudian menoleh ke arah beberapa karyawan yang sudah berkumpul di ujung ruangan. Jam pulang kantor tinggal beberapa menit lagi, tetapi suasana di antara mereka justru semakin ramai. Tara mengernyitkan kening. “Acara apa?” “Pak Andi ulang tahun. Katanya mau traktir kita semua.” Rini tersenyum lebar. “Bu Tara juga ikut, ya?” Tara menatap mereka satu per satu. Beberapa karyawan mengangguk penuh harap. Andi bahkan sampai melambaikan tangan dari kejauhan. “Bu, sekali-sekali ikut kumpul sama kita,” serunya. Tara tertawa kecil. Ia sebenarnya sudah memiliki jawaban yang sangat jelas. Tidak. Bukan karena tidak menyukai mereka. Tara justru cukup menghargai para karyawan di perusahaan itu. Hanya saja, ia merasa ada jarak yang tidak mungkin dihilangkan begitu saja. Usianya sudah menginjak kepala tiga bulan lalu. Sementara sebagian besar karyawan yang berdiri di hadapannya masih berada di usia dua puluhan. Mereka bisa tertawa lepas, bercanda tanpa memikirkan pekerjaan, lalu menghabiskan malam bersama. Sedangkan Tara? Ia terlalu terbiasa menjadi seseorang yang harus menjaga sikap. Terlebih lagi, posisinya di perusahaan bukan sekadar karyawan biasa. Tara berada di sana sebagai wakil adiknya, Raka Rahadi Mahesa, sang pemimpin perusahaan. Karena beberapa urusan perusahaan membuat Raka lebih sering bepergian, Tara sesekali turun tangan untuk mengawasi beberapa hal yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Itulah sebabnya ia merasa harus menjaga batas. Ia tidak ingin terlalu dekat dengan bawahan, tidak ingin dianggap pilih kasih dan yang paling penting, ia tidak ingin kehidupan pribadinya menjadi bahan pembicaraan di kantor. “Maaf, Rin. Kayaknya aku—” “Jangan kelamaan mikir, Bu.” Tara belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika Rini sudah lebih dulu meraih tangannya. “Ayo!” “Eh, tunggu!” “Enggak ada tunggu-tungguan. Sekali ini saja.” “Tapi aku belum—” “Pekerjaan sudah selesai, kan?” Tara terdiam. Rini menatapnya dengan senyum penuh kemenangan. “Sudah, kan?” Tara menghela napas. “Iya.” “Nah, berarti ayo.” Beberapa karyawan lain langsung bersorak kecil. Entah karena suasana hati sedang cukup baik atau karena terlalu lelah dengan rutinitas yang monoton, pada akhirnya Tara menyerah. “Baiklah. Tapi aku tidak akan lama.” “Yang penting ikut dulu!” Dan begitulah, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Tara ikut bergabung dengan beberapa karyawan kantor di luar jam kerja. Tempat yang mereka pilih malam itu adalah sebuah kelab ternama di pusat kota. Dari luar saja, tempat itu sudah terlihat ramai. Lampu-lampu neon menghiasi bangunan, musik terdengar bahkan sebelum mereka memasuki pintu utama. Tara sempat berhenti beberapa detik. Ia menatap Rini. “Serius di sini?” Rini tertawa. “Pak Andi yang pilih.”. Tara menghela napas panjang. “Seharusnya aku pulang saja tadi.” “Sudah terlambat.” Rini menarik tangannya lagi. Tara hanya bisa pasrah. Malam itu ternyata tidak seburuk yang ia bayangkan. Awalnya Tara hanya duduk di salah satu sudut meja, menikmati makanan sambil sesekali mendengarkan percakapan para karyawan. Namun lama-kelamaan suasana membuatnya sedikit lebih santai. Andi yang berulang tahun bahkan beberapa kali mengajaknya bersulang. “Bu Tara, satu gelas saja.” “Tidak.” tolak Tara. “Satu.” Andi masih berusaha membujuk. “Tidak.” “Setengah?” Tara akhirnya tertawa. “Kamu ini.” Pada akhirnya Tara mengambil gelas yang disodorkan. Ia tidak berniat mabuk. Sama sekali tidak. Tara tahu batas tubuhnya dan tahu konsekuensi jika kehilangan kendali. Ia hanya berniat mencicipi, satu gelas. Namun setelah gelas pertama habis, seseorang kembali menuangkan minuman ke gelasnya. Tara tidak terlalu memperhatikan. Hingga gelas kedua pun ikut tandas. Awalnya ia masih merasa baik-baik saja, namun beberapa menit kemudian, efek alkohol mulai terasa. Kepalanya terasa berat. Suara musik yang sejak tadi biasa saja mulai terdengar terlalu keras. Lampu-lampu yang berkelap-kelip membuat pandangannya sedikit tidak nyaman. Tara mengusap pelipis. “Aduh…” Rini yang duduk di sebelahnya langsung menoleh. “Bu Tara kenapa?” “Enggak apa-apa.” “Pusing?” “Sedikit.” Rini memperhatikannya dengan khawatir. “Mau pulang?” Tara mengangguk. “Iya. Sepertinya aku pulang dulu.” “Tapi mobil Ibu bagaimana?” Tara terdiam. “Mobil…” Ia mencoba mengingat. Mobilnya tadi diparkir di mana? Tara memejamkan mata sejenak. Ah. Tiba-tiba ingatannya terasa kacau, ia bahkan tidak yakin tadi masuk melalui pintu sebelah mana. “Tenang. Aku antar sampai depan,” ujar Rini. Tara menggeleng. “Tidak perlu. Aku cari mobilku sendiri.” “Tapi Ibu yakin?” “Yakin.” Tara mengambil tasnya, ia berpamitan kepada Andi dan beberapa karyawan lainnya sebelum berjalan keluar. Begitu pintu kelab terbuka, udara malam langsung menyambut wajahnya. Tara menghirup napas panjang. Sedikit lebih baik. Namun ketika ia berjalan menuju area parkir, langkahnya justru semakin tidak stabil. “Di mana…” Ia memandang ke sekeliling, deretan kendaraan memenuhi area parkir. Tara berjalan beberapa langkah, kemudian berhenti. Tidak ada. Ia tidak menemukan mobilnya. “Ya ampun…” Tara merogoh tas, mencari kunci mobil. Tangannya menemukan benda itu, setidaknya kuncinya masih ada. Masalahnya sekarang adalah ia tidak tahu mobilnya berada di sebelah mana. Tara berjalan lagi beberapa langkah, lalu berhenti ketika kepalanya kembali berdenyut. “Kenapa jadi begini…” Ia mengusap wajah. “Seharusnya tadi aku tidak minum.” Dalam keadaan sadar, Tara pasti akan menertawakan dirinya sendiri. Namun malam itu pikirannya tidak bekerja dengan baik. Saat ia mencoba mengingat lokasi mobilnya, suara mesin kendaraan tiba-tiba terdengar dari arah depan. Sebuah motor berhenti tepat beberapa meter di hadapannya. Pengendaranya mengenakan pakaian serba hitam. Jaket hitam, celana hitam, bahkan sarung tangan hitam. Ia mematikan mesin, kemudian membuka helmnya. Rambutnya sedikit berantakan tertiup angin. Begitu wajahnya terlihat jelas, lelaki itu langsung tersenyum. “Kak Tara?” Tara menyipitkan mata, berusaha mengenali wajah tersebut. Siapa? Ia yakin pernah melihatnya, tapi otaknya seperti menolak bekerja sama. “Kamu…” Lelaki itu tertawa kecil, “Aku Antares.” Tara masih mengerutkan kening, “Antares?” “Iya. Keponakannya Kak Sofia.” Tara terdiam beberapa detik, kemudian ia mengangguk pelan. “Oh…” Antares memperhatikannya dengan tatapan sedikit khawatir. “Kak Tara ngapain sendirian di sini?” “Aku mau pulang.” “Terus?” Tara menunjuk ke arah parkiran dengan wajah bingung. “Aku lupa bawa mobil.” Antares terdiam, menatap Tara, kemudian menatap area parkir. “Maksud Kak Tara lupa bawa mobil atau lupa mobilnya diparkir di mana?” Tara berpikir cukup lama. “Dua-duanya mungkin.” Antares hampir tertawa, tetapi melihat wajah Tara yang tampak benar-benar kebingungan, ia mengurungkan niatnya. “Kak minum?” Tara mengangguk.“Sedikit, hanya dua gelas.” Antares menghela napas. “Dua gelas besar?” Tara tidak menjawab. Antares turun dari motornya berjalan mendekat, tetapi tetap menjaga jarak. “Kak Tara, kayaknya Kakak enggak mungkin nyetir dalam kondisi begini.” “Aku bisa.” “Kakak tadi lupa mobil sendiri di mana.” Tara terdiam, pernyataan itu membuatnya tidak bisa membantah. Antares tersenyum tipis, “Kalau begitu, ayo aku antar pulang.” Tara menatapnya. “Pulang?” “Iya.” “Tapi…” Tara kembali melihat sekeliling. “Aku harus membawa mobilku.” “Besok bisa diambil.” Tara menggeleng pelan, “Enggak bisa.” “Kenapa?” Tara berpikir lagi, cukup lama. “Karena…Karena mobilku…” Tara tiba-tiba kehilangan kata-kata. Antares menahan senyum. “Sudah, Kak. Besok kita cari sama-sama. Sekarang yang penting Kak Tara pulang dengan aman.” Tara menatapnya cukup lama. Dalam kondisi normal, mungkin ia akan menolak. Ia bahkan mungkin akan bertanya lebih banyak. Siapa Antares, apakah benar keponakan Sofia, mengapa dia berada di tempat itu, dan apakah ia bisa dipercaya. Namun malam itu, alkohol telah membuat pertahanannya melemah. Kepalanya semakin berat, tubuhnya juga mulai terasa lemas. Akhirnya Tara mengangguk. “Iya.” Antares mengambil helm cadangan yang tersimpan di motornya. “Pakai ini.” Tara menerimanya, ia berusaha memasang helm sendiri, tetapi tali pengaitnya justru berkali-kali terlepas dari tangannya. Antares memperhatikan sebentar. “Biar aku.” Ia membantu mengaitkan tali helm Tara dengan hati-hati. “Sudah.” Tara akhirnya duduk di jok belakang. Tangannya sempat menggantung di udara, bingung harus berpegangan di mana, Antares menoleh sedikit. “Pegang jaketku saja kalau takut jatuh.” Tara mengangguk, beberapa detik kemudian, tangannya mencengkram bagian belakang jaket Antares. Motor perlahan meninggalkan area parkir, Tara menyandarkan kepalanya, berusaha melawan rasa pusing yang semakin berat. Sementara Antares sesekali melihat kaca spion. Perempuan di belakangnya terlihat sangat berbeda dari sosok Tara yang selama ini ia kenal. Biasanya perempuan itu selalu terlihat tegas, dewasa, dan sulit didekati. Namun malam ini, Tara justru terlihat rapuh. Antares menghela napas pelan ia tidak tahu malam ini akan menjadi awal dari sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan dan yang lebih tidak diketahui, keputusan sederhana Tara untuk menerima tumpangan darinya akan membawa mereka ke dalam sebuah cerita yang jauh lebih rumit daripada sekadar perjalanan pulang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD