Pagi hari mulai berganti menjadi siang, siang pun digantikan oleh sore yang membuat langit menjadi kelabu hingga tergantikan oleh sang rembulan di malam hari.
Sesudah acara lamaran yang baru saja dilaksanakan tadi pagi, Farah masih membayangkan tentang pernikahannya yang akan diadakan beberapa hari lagi. Sebenarnya Farah tidak perlu memikirkan tentang peralatan yang diperlukan karena semuanya sudah disediakan oleh keluarga Dion yang sangat royal kepadanya.
Hanya saja Farah memang masih suka kepikiran tentang apa yang akan terjadi esok hari, terlebih lagi besok dirinya akan ke kantor untuk mengajukan pernyataan bahwa dirinya akan resign demi menuruti kemauan Dion yang tidak mengizinkan Farah bekerja sesudah menikah dengannya. Mau tak mau Farah harus menurutinya.
Jika boleh memilih, Farah sebenarnya masih ingin bekerja menjadi wanita karir. Bukan karena alasan finansial, ia melakukannya karena ingin mempunyai kegiatan selain berdiam diri di rumah. Farah tahu niat Dion baik karena tidak mau dirinya kelelahan. Tapi, Farah masih ingin bekerja di kantornya. Namun apa boleh buat? Dirinya harus menurut dengan apa yang dikatakan oleh calon suaminya.
“Udah, nggak apa-apa. Niat Dion baik dia nggak mau kamu kelelahan bekerja, Farah. Kamu harus percaya sama dia. Dion itu orang baik!” kata Farah kepada dirinya sendiri. Ia meyakinkan agar ikhlas untuk memilih resign sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Dion.
***
Pagi ini, Farah tengah bersiap untuk pergi ke kantornya. Bukan untuk bekerja melainkan untuk memberitahu atasan dan teman-teman kantornya bahwa dirinya akan resign dengan alasan menikah. Mungkin akan ada beberapa perkataan yang akan ia dengar hari ini dari beberapa orang, namun tidak apa-apa. Ia siap mengambil risiko dari semua keputusan yang ia buat.
“Mau kemana kamu pagi-pagi begini udah cantik aja, Nak?” tanya Diana melihat putrinya sudah rapih memakai kemeja sedangkan dirinya masih mengenakan daster.
“Farah mau ke kantor, Bun. Mau resign.”
“Apa? Resign?” kata Diana terkejut dengan apa yang Farah katakan. Ya, Farah memang belum memberitahu soal ini kepada Diana. Yang tahu persoalan ini hanyalah dirinya dan Dion semata.
“Kenapa kamu memilih untuk resign, Nak? Sayang sekali kalau kamu resign. Apa kamu tahu? Untuk meniti karir di kantormu itu bukanlah suatu hal yang mudah, Farah. Banyak orang yang ingin bekerja di sana. Namun kamu malah memilih untuk resign. Bunda sangat menyayangkan hal itu, Nak.” jelas Diana panjang lebar. Ia hanya sangat menyayangkan Farah jika anaknya benar akan memilih untuk mengundurkan diri.
Mengapa Diana terkejut dengan apa yang Farah katakan? Hal itu tentu saja memiliki alasan. Karena sejak duduk di bangku kuliah, Farah mempunyai mimpi untuk bekerja di tempat yang sekarang menjadi tempat kerjanya ini. Namun setelah ia berhasil menggapainya, Farah malah memilih untuk resign yang membuat Diana bingung.
Ternyata, percakapan Farah dan Diana terdengar oleh David. David pun' ikut bertanya kepada Farah mengenai apa alasan sang anak memilih untuk resign dari pekerjaannya tersebut.
Farah akhirnya menjelaskan tentang apa alasannya resign kepada kedua orang tuanya. Ia menjelaskan dengan detail satu persatu hingga David dan Diana paham dengan apa yang Farah katakan.
“Jadi, Farah resign karena Dion menyuruh Farah untuk mengundurkan diri dari pekerjaan Farah. Ayah dan Bunda jangan merasa khawatir karena Dion melakukan itu semua karena tidak ingin Farah kelelahan. Dion juga bilang bahwa ia akan memberikan jaminan kepada Farah seperti kartu debit yang bisa Farah pakai kapan saja.” tutur Farah yang membuat David dan Diana bernapas lega.
“Kalau baiknya memang begitu, baiklah tidak apa-apa.“ kata David.
“Iya, aku juga merasa bahwa Dion sangat menyayangi putri kita. Syukurlah kalau begitu, semoga kamu selalu bahagia bersama Dion, Farah.” timpal Diana yang akhirnya menyetujui keputusan Farah untuk resign.
Di saat yang demikian, tiba-tiba saja telepon rumah berbunyi. Diana langsung mengangkat telepon rumah tersebut.
Farah dan David menunggu sebuah kabar dari balik telepon rumah itu. Setelah Diana selesai mengangkat telepon, dirinya langsung memberitahu kepada Farah dan David bahwa besok mereka akan diundang makan malam di sebuah restoran oleh keluarga Dion.
“Bunda dapat telepon dari keluarga Dion, kalau besok kita akan diundang makan malam di restoran yang sudah dipesan oleh mereka.” ujar Diana, “mereka meminta kita untuk memakai dress code warna merah. Apa kamu punya dress warna merah, Farah?”
“Nggak ada, Bunda. Kebanyakan baju Farah warna earth tone.”
“Berarti kamu habis pulang dari kantor langsung ke Mall saja ya, Nak. Beli dress warna merah untuk dipakai besok. Pokoknya kamu harus kelihatan cantik!”
“Oke, Bunda.” jawab Farah mengiyakan apa yang Diana katakan.
***
Kini, Farah telah sampai di depan kantor perusahaan tempat dirinya bekerja. Ia langsung masuk dan menemui atasannya.
Butuh waktu satu jam untuk Farah menjelaskan apa alasannya memilih untuk resign kepada sang atasan. Sebenarnya, atasan Farah sangat menyayangkan jika Farah mengundurkan diri dari pekerjaannya. Namun apa boleh buat? Keputusan itu sudah menjadi hal yang Farah yakinkan.
Setelah selesai berpamitan kepada atasannya, sekarang adalah waktunya untuk Farah berpamitan kepada teman-teman kantornya.
Tanpa berpikir panjang Farah langsung mengatakan niatnya kepada teman-temannya yang sedang bekerja. Mendengar hal tersebut tentu saja membuat beberapa teman Farah menunjukkan ekspresi sedih atas kepergiannya. Akan tetapi mereka tetap menghargai keputusan yang Farah buat.
“Far?”
“Ada apa Gibran?”
“Lo beneran mau resign?” tanya Gibran Sanjaya yang kerap dipanggil Gibran. Gibran adalah teman seperjuangan Farah sedari mereka kuliah sampai bekerja seperti sekarang ini.
“Iya, Gib. Ini sudah menjadi keputusan yang Farah pikirkan dari jauh-jauh hari.”
Gibran menghela napasnya pelan lalu menghembuskannya, ia harus menerima kenyataan saat Farah mengatakan bahwa dirinya memilih untuk mengundurkan diri demi pernikahannya.
Padahal kalau Gibran tidak terlalu pengecut mengutarakan perasaannya, mungkin saja Farah akan menjadi miliknya. Ya, Gibran memang sudah menyukai Farah sejak pertama kali mereka kenal. Ia hanya bisa memendam rasa kepada Farah selama bertahun-tahun. Sampai akhirnya Farah mengatakan bahwa dirinya akan menikah dengan seseorang pilihan kedua orang tuanya.
Tentu saja Gibran harus merasa senang mendengarnya bukan? Ya, walaupun hatinya sedikit merasa sakit namun demi kebahagiaan Farah yang sudah jelas di depan mata, dirinya harus merelakan Farah menikah bersama pria lain. Ia harus mengikhlaskan dan mencari pujaan hati yang lain.
“Oke Far, kalau itu sudah menjadi keputusan lo. Semoga lo bahagia bersama pilihan orang tua lo, Far. Kalau ada yang perlu dibantu atau ada apa-apa, jangan sungkan ya, Far. Hubungi aja gue.”
“Iya, Gibran. Terima kasih.”
***
Setelah selesai mengundurkan diri dari pekerjaannya, kini Farah kembali berjalan pergi menuju Mall untuk membeli dress yang akan ia kenakan besok malam untuk makan malam bersama keluarga Dion.
Setelah menelusuri satu persatu Mall sekitar setengah jam, akhirnya Farah telah menemukan dress berwarna merah yang cocok untuknya. Farah membawanya ke kasir dan mengantre sesuai urutan antrean.
Tiba-tiba saja matanya menangkap sebuah pemandangan yang membuatnya terkejut dalam sekejap.
Farah melihat sosok tinggi mirip seperti Dion sedang menemani seorang wanita cantik memilih sebuah gaun di sana.
“D-Dion?”
***