Aroma Cemas di Lautan Musik
Mobil sedan silver itu berhenti dengan halus di depan sebuah gedung megah yang fasad kacanya berwarna gelap mengkilap, memantulkan cahaya lampu sorot yang menyapu jalanan. Di atas pintu masuk yang dijaga ketat, sebuah papan neon raksasa berkedip-kedip angkuh, membentuk satu kata: ECLIPSE.
Ghea menelan ludah. Ini bukan restoran mewah di Senopati yang ia bayangkan. Tidak ada aroma pasta atau denting garpu perak di sini. Sebaliknya, bahkan dari dalam mobil yang kedap suara pun, detak bass yang rendah dan menghentak sudah terasa menggetarkan jok mobil, merambat naik ke tulang punggungnya. Tempat ini adalah pusat pusaran malam Jakarta—tempat di mana uang, rahasia, dan gairah dilebur jadi satu.
"Kenapa kita ke sini, Za?" tanya Ghea. Ia mencoba tertawa kecil untuk menutupi getar di suaranya, tapi tangannya yang mencengkeram tas selempang tidak bisa berbohong.
Reza mematikan mesin, lalu menoleh. Cahaya neon biru dari luar masuk ke dalam mobil, membuat fitur wajahnya tampak lebih tajam, lebih misterius. Ia tersenyum—senyum yang sangat menenangkan, tipe senyum yang bisa membuat cewek-cewek di Tinder langsung menekan tombol super like.
"Tenang saja, Sayang. Jangan tegang begitu," suara Reza lembut, hampir seperti bisikan. "Tempat ini punya private lounge di lantai atas. Aku sudah pesan meja di pojok yang paling tenang. Kita bisa bicara lebih dalam tanpa perlu teriak-teriak kayak di pasar. Anggap saja ini upgrade dari rencana awal. Kamu suka kejutan, kan?"
"Tapi... aku nggak pernah ke klub, Za. Dress gue juga..." Ghea melirik pakaiannya. Di bawah lampu neon, dress hitamnya terasa jauh lebih pendek dan terbuka dari saat ia bercermin di kosan Claudia tadi. Ia merasa seperti domba yang salah kostum di tengah pesta serigala.
"Kamu terlihat sangat cantik, Ghea. Malah, kamu yang paling bersinar di sini. Aku akan menjagamu, oke? Percaya padaku."
Reza tidak menunggu jawaban. Ia keluar dari mobil dengan gerakan sigap, seolah setiap detiknya berharga, dan membukakan pintu untuk Ghea. Gerakannya begitu cepat dan penuh d******i, membuat Ghea kehilangan momentum untuk protes.
Begitu kakinya menyentuh aspal, udara malam yang dingin langsung menusuk pori-porinya, kontras dengan hawa panas yang memancar dari gedung itu. Saat mereka berjalan menuju pintu masuk, Ghea merasa seperti sedang berjalan di red carpet yang salah. Wanita-wanita dengan gaun desainer ketat dan pria-pria berjas mahal meliriknya dengan tatapan yang sulit diartikan—antara meremehkan atau menilai harganya. Ghea merasa kecil. Benar-benar kecil.
Di pintu masuk, mereka melewati dua pria bertubuh raksasa dengan setelan jas hitam yang tampak tidak memiliki leher. Reza hanya menyebutkan sebuah nama—nama yang terdengar seperti kode akses—dan dalam sekejap, tali pembatas beludru dibuka. Mereka masuk tanpa antre. Ghea baru menyadari satu hal: pria di sampingnya ini jelas bukan sekadar freelancer yang sedang beruntung.
Gelombang suara langsung menghantam indra pendengaran Ghea begitu pintu kedap suara itu terbuka. Aroma whisky mahal, asap rokok elektrik yang manis, dan parfum pria yang pekat menyerbu hidungnya. Cahaya strobe berkedip gila-gilaan, membuat gerakan orang-orang di lantai dansa tampak seperti potongan film yang patah-patah.
Reza menggenggam tangan Ghea—erat, posesif—dan membimbingnya membelah kerumunan. Tubuh-tubuh panas yang berkeringat bersenggolan dengan mereka.
Ghea harus memiringkan badannya agar telinganya bisa menangkap suara Reza.
"Ikuti aku! Jangan lepas!" seru Reza di tengah dentuman musik.
Mereka naik ke lantai dua, melewati lorong yang dilapisi karpet tebal yang meredam suara langkah kaki. Di sini, suasananya berbeda. Lebih eksklusif. Lebih tenang, tapi terasa lebih berbahaya. Reza membawanya ke sebuah sofa kulit hitam di sudut yang agak tersembunyi oleh pilar marmer. Di atas meja kaca, sudah tersaji dua gelas kristal tinggi berisi cairan berwarna keemasan yang berkilau.
"Duduklah, Sayang." Reza menarik kursi, posisinya sangat dekat dengan Ghea. "Kamu pasti haus karena macet tadi. Ini, aku sudah siapkan cocktail khusus. Signature tempat ini. Coba sedikit."
Ghea menatap cairan itu. Ingatan tentang Claudia yang berteriak soal red flag tiba-tiba muncul di kepalanya seperti alarm rusak. "Za, aku nggak bisa minum alkohol. Besok aku ada kelas pagi, Dosennya killer banget, bisa-bisa gue dikuliti hidup-hidup kalau telat."
Reza tertawa. Tawa yang kali ini terdengar sedikit meremehkan, seolah alasan Ghea sangatlah kekanak-kanakan. "Ayolah, Ghea. Satu gelas nggak akan bikin kamu telat kelas. Ini perayaan pertemuan kita. Kamu nggak mau merusak suasana, kan? Ini manis, cuma kayak jus buah dengan sedikit 'tendangan'. Aku janji, cuma satu gelas untuk menenangkan sarafmu yang tegang itu."
Reza mengangkat gelasnya, menatap mata Ghea dengan sorot yang menuntut dan memaksa. Ghea, yang sifat "cegil"-nya sebenarnya punya sisi lemah terhadap validasi dari pria tampan, merasa tidak enak. Ia tidak ingin dicap sebagai gadis rumahan yang membosankan di depan pria "premium" seperti Reza.
"Hanya satu ya?" gumam Ghea pelan.
"Janji," jawab Reza singkat.
Ting. Gelas kristal itu beradu.
Ghea menyesapnya. Rasa manis buah yang segar langsung membanjiri lidahnya, diikuti sensasi asam dan sedikit getir alkohol yang samar. Rasanya enak. Terlalu enak untuk disebut minuman keras.
"Gimana?" tanya Reza, matanya tidak berkedip sedikit pun dari wajah Ghea.
"Enak... segar," jawab Ghea, tanpa sadar ia meneguknya lebih banyak untuk mendinginkan tenggorokannya yang mendadak kering.
Saat Ghea sedang sibuk menikmati sensasi minuman itu, Reza mengeluarkan ponselnya. Jarinya bergerak cepat mengirimkan sebuah pesan singkat—sebuah laporan bahwa "umpan sudah dimakan"—lalu ia kembali menyimpan ponselnya dan merapat ke arah Ghea.
"Kamu tahu, Ghea," Reza berbisik, aromanya kini memenuhi ruang personal Ghea. "Aku sudah swipe ribuan profil, tapi cuma kamu yang bikin aku nggak bisa tidur. Kamu punya sesuatu yang... berbeda. Sesuatu yang liar tapi tersembunyi."
Pujian itu bekerja lebih cepat dari alkoholnya. Pipi Ghea merona hebat. Semua peringatan Claudia tentang sindikat penjualan organ atau istri simpanan seolah menguap menjadi asap shisha yang beterbangan. Claudia emang terlalu drama, pikir Ghea sambil tersenyum bodoh.
Ghea mulai merasa hangat. Bukan hanya hangat, tapi kepalanya mulai terasa seringan balon gas. Ia tertawa lebih kencang dari biasanya, bahkan untuk lelucon Reza yang sebenarnya tidak lucu-lucu amat.
"Minum lagi," desak Reza. Ia mengisi ulang gelas Ghea yang baru kosong setengah. "Jangan malu-malu, Nyonya Arsitek."
Ghea menurut. Ia merasa sangat percaya diri sekarang. Namun, saat ia menoleh sebentar untuk melihat orang di lantai bawah, Reza dengan kecepatan tangan seorang pesulap menjatuhkan dua butir kecil berwarna putih ke dalam gelas Ghea. Obat itu larut dalam hitungan detik, tak berbekas.
Ghea kembali menoleh, meraih gelas itu, dan menghabiskannya.
Efeknya datang seperti badai.
Awalnya hanya pusing biasa, tapi kemudian musik yang tadinya keras berubah menjadi dentuman yang bergema di dalam tengkoraknya. Lampu-lampu strobe tampak seperti kilatan petir yang menyakitkan mata.
"Reza... kok... kok jadi gini?" Ghea memegangi kepalanya yang terasa seberat beton. Ia mencoba berdiri, tapi lututnya lemas. Dunianya berputar 360 derajat.
"Oh, Sayang," Reza berbisik. Suaranya kini terdengar licin, penuh kemenangan. Ia meraih dagu Ghea, memaksa gadis itu menatapnya. "Kamu cuma mabuk sedikit. Nggak apa-apa. Kita keluar dari sini, ya? Cari tempat yang lebih... privat."
Ghea hanya bisa mengangguk pasrah. Mabuk. Ya, gue cuma mabuk, batinnya mencoba menenangkan diri.
Tapi ini bukan mabuk. Ini adalah horor kimiawi.
Obat perangsang itu mulai membakar logikanya. Suhu tubuh Ghea naik drastis. Ia merasa gerah, sangat gerah, hingga ingin merobek dress-nya sendiri. Setiap gesekan kain pada kulitnya terasa seperti sengatan listrik. Dan yang paling mengerikan, ketakutannya terhadap Reza mendadak berubah menjadi rasa lapar yang tak terkendali.
"Reza... panas... aku..." Ghea meracau, suaranya serak dan terdengar asing di telinganya sendiri. Ia mencengkeram kemeja Reza, menarik pria itu mendekat dengan gerakan impulsif yang liar.
Reza menyeringai. Senyum predator yang akhirnya mendapatkan mangsanya. "Aku tahu apa yang kamu butuhkan, Sayang. Ayo, tempat tidurnya sudah menunggu."
Ghea tidak lagi peduli pada sharing location. Ia tidak peduli pada plat nomor mobil. Ia hanya ingin sensasi terbakar di tubuhnya segera padam. Saat Reza membimbingnya menuruni tangga, Ghea bersandar sepenuhnya pada pria itu, bahkan mulai menciumi leher Reza tanpa sadar.
Di luar, sebuah taksi online mewah sudah menunggu—semuanya sudah diatur.
"Ke Hotel Regenza. Lewat pintu belakang saja," perintah Reza kepada supir dengan nada dingin yang sama sekali berbeda dari "Reza yang sopan" di dalam chat.
Mobil bergerak menjauh dari gemerlap Eclipse, menuju kegelapan yang sesungguhnya.