..... Hanya dua blok dari Eclipse, taksi itu berhenti di depan sebuah hotel bintang lima yang menjulang tinggi, dengan lobi berkilauan dan karpet merah tebal. Hotel Regenza.
Reza membopong Ghea yang kini sudah meracau dan merengek.
Mereka menuju lift VIP.
Di dalam lift, hanya ada mereka berdua... dan seorang pria lain.
Pria itu berdiri di sudut lift, berjarak dari mereka. Ia mengenakan setelan jas abu-abu gelap, rambutnya tertata rapi, dan ekspresinya sedingin es. Aryan Wiratama.
Aryan baru saja menyelesaikan pertemuan larut malam dengan klien dari Timur Tengah. Ia lelah, tetapi matanya yang tajam dan terlatih tidak melewatkan detail apa pun.
Ia melihat Ghea yang terkulai di lengan Reza. Pakaian Ghea yang sedikit berantakan, wajahnya yang memerah, tatapan mata yang kosong namun sekaligus liar. Dan yang paling mencolok, cara Reza memegang Ghea. Bukan pegangan yang mendukung, melainkan pegangan yang posesif, seperti memegang barang berharga yang telah berhasil didapatkan.
Aryan yang sangat mengenal seluk-beluk bisnis kotor di sekitar SCBD langsung tahu apa yang sedang terjadi. Gadis malang, pikirnya, rasa jijik memuncak di dadanya melihat wajah puas Reza.
Reza merasakan tatapan Aryan dan membalasnya dengan sengit.
"Kenapa, Om?" tanya Reza sinis. "Ada yang salah dengan pacar saya?"
Aryan tidak menjawab. Ia hanya membalas tatapan itu dengan dingin, tatapan yang membuat Reza ... meski arogan .. merasa sedikit gentar. Aryan membiarkan matanya terpaku pada Reza, mengisyaratkan, Aku melihatmu, dan aku tahu apa yang kau lakukan.
Lift berdenting, mencapai lantai 28.
Reza menyeret Ghea keluar dari lift, sementara Aryan tetap diam, menekan tombol lantai 29, lantai kamarnya. Namun, sebelum pintu lift tertutup, ia sengaja membiarkan pintunya terbuka sedikit lebih lama dari biasanya.
Aryan menyaksikan Reza yang berjalan terhuyung-huyung di koridor mewah itu, dengan Ghea yang terus merengek dan memanggil namanya.
Ketika mereka sampai di depan pintu kamar nomor 2801, Reza merogoh saku jasnya untuk mencari kunci kartu. Karena repot membopong Ghea yang tiba-tiba memberontak karena efek perangsang, kuncinya yang seharusnya sudah di tangan malah terjatuh entah kemana.
Reza mengumpat pelan. Ia tidak mungkin bisa kembali mencari sambil membopong Ghea.
"Sialan!" Reza mendesis. Ia menoleh ke Ghea, yang kini sudah berlutut di lantai karpet, tangan dan kakinya mulai merangkak liar, merengek-rengek. Obat itu sudah sepenuhnya mengambil alih tubuhnya.
"Tunggu di sini, Sayang," Reza meninggalkannya. "Aku akan ambil kunci sialan itu. Jangan kemana-mana!"
Reza berlari menuju lift lagi, berharap kuncinya tidak jauh dari sana.
Saat itu, pintu lift berdenting di lantai 29. Aryan keluar, tetapi ia tidak langsung masuk ke kamarnya, 2901. Ia sengaja berjalan menuruni tangga darurat satu lantai, menuju lantai 28.
Saat kakinya menginjak karpet lembut di lantai 28, ia melihatnya.
Ghea, tergeletak di depan pintu kamar 2801, memanggil-manggil dengan suara yang sangat menyakitkan, dan tubuhnya menggeliat-geliat tak terkendali di bawah pengaruh obat.
Wajah Ghea yang tadinya penuh antusiasme, kini berubah menjadi topeng kesakitan dan keinginan liar yang menyedihkan.
Aryan tahu betul, jika ia meninggalkannya, nasib gadis ini sudah pasti hancur. Ia tidak bisa hanya menutup mata.
Tanpa berpikir dua kali, Aryan melangkah cepat mendekati Ghea.
"Hei," bisiknya pelan.
Ghea tidak merespons, hanya meracau tentang "panas" dan "tolong".
Aryan dengan hati-hati merangkul Ghea. Ia merasakan panas yang luar biasa dari tubuh gadis itu. Sambil menahan jijik pada keadaan tersebut, ia segera menggendong Ghea, menjauhkannya dari pintu kamar 2801. Ia membawa Ghea naik lagi satu lantai, menuju kamarnya, 2901. Lewat tangga darurat.
Aryan membuka pintu kamarnya dengan kartu, lalu membawa Ghea masuk. Ia membaringkan Ghea di ranjang king size yang tertutup sprei putih bersih.
Tujuan Aryan hanya satu, menyelamatkan gadis ini dari nasib buruk dan segera memanggil bantuan.
Ia memutar tubuhnya, hendak meraih telepon hotel untuk menghubungi keamanan atau ambulans, tetapi sebelum ia sempat melangkah, tangan Ghea dengan kekuatan yang mengejutkan mencengkeram pergelangan tangannya.
Cengkeraman itu panas, kuat, dan penuh putus asa.
"Om..." bisik Ghea, matanya yang liar menatap lurus ke mata Aryan. "Tolong aku, Om... Panas... Aku butuh... tolong..."
Permintaan tolong itu, yang dibalut hasrat liar yang memilukan, menusuk hati Aryan. Ia menatap wajah Ghea. Ia tahu gadis itu tidak bersalah.
"Dengar, gadis kecil," kata Aryan, mencoba melepaskan tangannya, suaranya serak dan memperingatkan. "Jangan coba-coba memancing sesuatu yang tidak kau inginkan. Aku bukan pria yang akan memanfaatkanmu. Aku akan memanggil bantuan."
Namun, di bawah pengaruh obat perangsang yang mematikan logika, Ghea tidak mendengar peringatan itu. Baginya, Om-Om berjas ini adalah satu-satunya harapan untuk meredakan siksaan di tubuhnya.
Ghea menarik Aryan lebih dekat, tubuhnya melengkung, tangannya melingkari leher Aryan dengan posesif. Ia mendesis frustrasi dan putus asa.
"Tolong aku, Om... Kumohon..."