Bian hanya mengangguk pelan, fokus ke jalanan. Itulah titik pecahnya. Clarissa membuang tatapannya, matanya berkedip - kedip menahan supaya airmatanya tidak jatuh, tapi gagal, air mata tetap jatuh begitu saja. Tangisnya tidak terdengar, tapi ketika ia mengambil tisu untuk menyeka lendir dari hidungnya, Bian baru sadar tunangannya itu menangis. "Kamu nggak pernah mau berusaha ngerti aku, A’… selalu nyerah duluan…" Bian diam. Tangannya tetap di kemudi, wajahnya kaku. Ia tahu kalau ia menjawab sekarang, bisa jadi pertengkaran. Dalam hati ia berkata pada dirinya sendiri, mungkin kita berdua memang terlalu lelah hari ini. Tidak sampai setengah jam, mereka tiba di komplek perumahan tempat Clarissa tinggal. Mobil berhenti di depan rumah Clarissa. Bian hanya mengucapkan singkat, "Istirahat, y

