“O gitu. Berarti nggak terlalu pagi, ya?” “Enggak.” Bian mengangguk - angguk, lalu memberanikan diri. “Aku juga besok terbang siang. Kalo kita mampir ke kafe dulu, keberatan nggak?” Pertanyaan itu membuat Nadira menoleh. Ada hening sejenak sebelum akhirnya ia tersenyum samar. “Boleh. Aku juga masih belum ngantuk.” Senyum lebar muncul di bibir Bian, merasa kenekatannya terbayar. “Mau di mana?” Nadira menambahkan. Bian nyengir. “Nggak tahu juga.” Nadira terkekeh pelan, matanya melirik ke arah jalan. “Kamu nggak minum kopi kan malam - malam gini?” “Nggak,” jawab Bian cepat. “Ya udah, ada satu kafe yang keren menurutku. Sayangnya kopinya B aja. Tapi minuman lain lumayan oke lah,” ucap Nadira sambil mengangkat tangan, memberi gestur ‘so-so’. “Boleh aja. Yang penting tempatnya enak bua

