bc

RANJANG HANGAT CEO MUSUHKU

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
love-triangle
contract marriage
family
HE
forced
dominant
badboy
boss
drama
sweet
bxg
office/work place
seductive
like
intro-logo
Blurb

WARNING 17++

Bagaimana jika pria yang paling kamu benci justru menjadi suamimu?

Mahardhika Montregard seorang CEO muda, pewaris Aurélie Jade, dan pria yang dingin, galak, serta penuh intimidasi. Sepuluh tahun lalu, ia adalah mimpi buruk di masa SMA. Si ketua geng yang merundung, menginjak harga diri, dan meninggalkan trauma yang tak pernah sembuh.

Kaluna, sang wanita tangguh, CEO parfum ternama. Ditinggal orangtua sejak kecil, ia hanya punya kakek dan nenek yang menjadi segalanya. Saat dijodohkan oleh Kakek dan Nanek, Kaluna menerima demi membalas budi, ia tak kuasa menolak.

Namun, tak ada yang memperingatkan Kaluna bahwa pria itu adalah Mahardhika. Musuh lamanya.

Pernikahan mereka dingin, penuh ejekan dan siasat saling menyakiti. Tapi ketika malam-malam berlalu dan ranjang yang sama menjadi saksi bara kebencian berubah menjadi gairah yang tak bisa mereka tolak. Semakin dibenci, semakin diinginkan.

“Aku membencimu.”

“Terlambat, Sayang. Kamu sudah menjadi milikku.

Di antara dendam masa lalu dan desahan di balik pintu kamar, mampukah dua musuh bebuyutan ini menahan badai yang mereka ciptakan sendiri?

chap-preview
Free preview
Takdir Buruk
Di balik dinding kaca setinggi langit dari lantai 39 kantor pusat Aurélie Jade Asia, seorang pria berdiri bagai bayangan yang tak tersentuh. Mahardhika Montregard, sang CEO termuda dalam sejarah ekspansi Asia brand perhiasan legendaris asal Paris itu dikenal sebagai figur yang dingin, kejam, dan tidak pernah gagal menundukkan siapa pun. Wajahnya tampan, setajam ukiran patung marmer klasik dengan rahang tegas, mata tajam seolah mampu membaca kebohongan dalam sekejap. Dalam balutan jas hitam custom-made dari Maison Margiela, sosoknya seperti dewa dari ranah bisnis yang turun untuk menghakimi para manusia di meja rapat. Tidak ada yang berani menantang, sebab satu tatapan darinya bisa membungkam bahkan pemegang saham terbesar kedua sekalipun. Ia tak hanya dibesarkan dengan kejam oleh tangan besi kakeknya, Lucien Montregard, sang pendiri Aurélie Jade, tapi juga ditempa untuk menjadi algojo di balik perhiasan kemewahan. Rapat direksi baru saja berakhir. Hening. Tak satu pun dari enam pemegang saham utama berani berbicara setelah Mahardhika melemparkan hasil restrukturisasi secara sepihak dan mereka semua menyetujui tanpa suara. Pria itu melangkah menjauh dari meja oval hitam, tangannya menyapu setelan jasnya, lalu menatap semua yang hadir dengan ketenangan mematikan. Sebelum membuka pintu keluar, ia berkata dengan suara rendah namun tegas, nada khas predator yang baru saja memangsa, “You either adapt to the way I run this empire, atau tunggu undangan pemakaman dividen kalian.” Dhika mengendurkan dasinya begitu keluar dari ruangan. Lehernya terasa sesak, seperti dicekik oleh tekanan yang tak tampak. Di belakangnya, seseorang mengikitu, Anton, sang ajudan yang ditugaskan kakeknya. “Bapak, mohon maaf. Keluarga meminta Bapak segera pulang ke rumah. Darurat, kata mereka.” Dhika menoleh setengah, alis kirinya terangkat. “Bukankah sore ini aku harus menyelesaikan due diligence report untuk ekspansi butik Singapura?” “Sudah saya delegasikan ke Head of Strategy, Pak. Mereka meminta pulang sekarang juga,” ucap Anton hati-hati. “Apa sebenarnya yang mereka mau? Kalau untuk makan malam, aku bisa pulang lebih cepat.” “Sepertinya bukan sekedar itu saja, Pak.” “Kenapa kamu tidak tanyakan dulu, Anton?” Pria dibelakangnya berdehem. “Ayah anda terdengar menakutkan, jadi saya rasa ini hal yang sangat… penting, Pak.” “Baiklah,” ucap Dhika pada akhirnya. Dhika melangkah menuju lift eksekutif. Mobil Maybach hitam dengan interior krem sudah menunggu di parkiran bawah tanah. Anton duduk di balik kemudi, sementara Dhika menyandarkan tubuhnya pada jok belakang, memandang langit Jakarta yang mulai berubah jingga. Sudah sepuluh tahun sejak terakhir kali ia menghirup udara kota ini. Lima bulan lalu, ia kembali dengan peran baru, sebagai CEO Asia untuk imperium perhiasan Aurélie Jade. Gelar yang terdengar prestisius, namun pada hakikatnya hanyalah satu lagi tali tak terlihat yang mengikat hidupnya pada kehendak sang kakek. Hidupnya telah menjadi boneka. Sejak Dhika dikirim ke Paris 10 tahun lalu, dikirim pada Kakeknya. Mobil perlahan berhenti di depan sebuah rumah minimalis berarsitektur modern klasik. Tertutup rapat pagar besi hitam dengan jalur marmer yang membelah taman kecil yang rapi. Dhika turun. Langkahnya mantap menapaki anak tangga granit menuju pintu utama. Begitu pintu terbuka, aroma lavender samar menyambutnya, bersama pemandangan yang membuatnya mematung. Di ruang tengah, tak hanya ada Mama dan Papa yang duduk canggung di sofa krem elegan… tapi juga Lucien Montregard. Kakeknya, pria tua Prancis yang berdiri tegap dengan bertumpu pada tongkat kayu gelap berlapis emas di kepala genggamannya. “Dhika.” Suaranya dalam dan berwibawa. “Kamu ingat, kan, janji yang pernah kamu buat pada Kakek? Bahwa kamu akan mengikuti semua yang Kakek minta?” “Tentu. Aku ingat. Apa yang Kakek mau kali ini?” Senyum tipis muncul di bibir Lucien. “Jodohmu sudah Kakek tentukan.” **** “Are you sure, Na? Ini bukan pilihan bijak kalau ujung-ujungnya kamu pertaruhkan hati kamu sendiri,” ujar Vita, sahabat sekaligus makeup artist pribadi Kaluna, sambil merapikan sapuan highlighter di tulang pipi sahabatnya. “Aku gak bisa nolak, Vit.” Kaluna membuka suara, suaranya dalam dan mantap. “Kakek dan Nenek yang ngebesarin aku. Mereka yang ngadopsi aku waktu keluarga aku… ya, kamu tau lah. Aku bisa hidup karena mereka. Ini cara aku balas budi.” Vita menghentikan gerakannya, menatap Kaluna lewat pantulan cermin. “Tapi kamu bahkan gak tahu kamu dijodohin sama siapa. Itu gila, Na. Gila. Gimana kalau nanti dia tonggos atau jelek?” “Makanya nanti aku nego.” Kaluna tertawa ringan, penuh percaya diri. “Aku bukan Kaluna yang dulu, yang bisa didikte seenaknya. Kalo calonnya gak waras, ya tinggal aku setir balik.” Vita mencibir. “Kalau orangnya gak bisa di nego? Terus dia mau nikahin kamu beneran?” “Tenang napa, Vit, aku jamin tuh orang dalam genggamanku juga.” Kaluna berdiri, mengambil sebotol parfum dari meja rias dan menyemprotkannya ringan di belakang telinga. Aromanya elegan, mewah, dengan hint musky dan bunga iris. Ia menatap dirinya sendiri di cermin. Kulitnya secerah gading, rahang halus dan tegas, alis tebal terbingkai sempurna. Wajah itu tak butuh validasi. Hanya saja, ia lalu mengambil sepasang kacamata bening dan memakainya. “Astaga, kacamatanya lagi. Kamu tuh CEO, Na, kalau pakai kacamata malah keliatan kayak anak kutu buku yang cupu! Lepasin gak?!” Kaluna mengangkat sebelah alis. “Daripada aku nabrak pintu restoran kayak orang buta?” “Hadahhhhh, duit banyak, lasik susah.” “Ya kan sibuk nyari duit, nggak kayak kamu sibuk nganggur.” “Bibirmu perlu disetrika ‘kah? Udah dibilangin aku kerja remote.” “Iya, iya, maaf, bestie.” Kaluna mengambil clutch kulit crocodile warna burgundy, lalu memeriksa ulang penampilannya sekali lagi sebelum berbalik. “Titip apartemen, ya. Jangan sentuh koleksi wine punyaku. Aku hapal isinya.” “Iya, paling satu doang. Jangan pelit gitu, besok aku kasih cookies.” “Hahaha, oke deh. Doain aku ya.” Walaupun Kaluna mengalami banyak perubahan, tapi tetap saja…. Tetap saja ada rasa ragu. “Na, kamu pasti bisa. Semangat.” Vita memberikan pelukan hangat sebelum sang sahabat pergi. Malam itu, Kaluna mengendarai sendiri sedan sport hitamnya. Lampu-lampu kota Jakarta memantul di kaca jendela, menggambarkan hidup yang tak pernah benar-benar ia pilih. Tapi malam ini, segalanya akan berubah. Katanya, di restoran itu, ia akan bertemu dengan pria yang telah ditetapkan menjadi suaminya. Ia tidak tahu siapa orangnya. Tapi satu hal yang pasti, ia bukan lagi Kaluna yang bisa dikendalikan. Benar, ia bukan lagi Kaluna yang culun, berkacamata tebal, dan selalu berjalan membungkuk di lorong sekolah. Bukan lagi gadis kutu buku yang terlalu takut bersuara, yang menjadi sasaran empuk olok-olok murid-murid popular atau lebih tepatnya, menjadi kacung tanpa bayaran dari mereka yang bahkan tidak layak disebut teman. Kaluna telah bangkit. Bersama kakek dan neneknya, ia dibesarkan dan disekolahkan dari hasil perkebunan. Dari perihnya memasarkan sendiri botol-botol parfum racikannya ke butik kecil, lalu toko kecantikan, lalu mall. Kini, Namara Essence, brand parfumnya telah mencengkeram pasar dalam negeri. Mobil berhenti tepat di depan sebuah restoran Prancis bergaya klasik di kawasan SCBD. Seorang pelayan bersetelan hitam menyambutnya dengan ramah. “Ibu Kaluna?” “Benar.” “Silakan ikuti saya, ruangan sudah disiapkan.” Sepatu Kaluna yang berhak tipis menjejak lantai marmer dengan irama tenang. Senyumnya dipasang, senjata terkuat perempuan sukses masa kini, senyum yang bisa menyembunyikan gundah, getir, dan kekhawatiran. Pintu kayu ukir itu terbuka. “Hallo, maaf atas ke—” Kalimat Kaluna menggantung, terhempas oleh kejut yang menampar tanpa suara. Matanya menatap pria itu. Duduk tenang di ujung meja panjang, jas gelap membalut tubuhnya, jam tangan Swiss berkilau di pergelangan, dan sepasang mata tajam yang masih sama… sama dinginnya seperti sepuluh tahun lalu. Mahardhika. Pria itu. Bayangan dari masa lalu yang pernah mengubahnya menjadi abu. Mahardhika yang dulu selalu mempermalukannya di hadapan semua murid, menjadikannya bahan tertawaan, memberikan label “Si kutu buku culun” dan memintanya mengerjakan buku PR seluruh geng ke kelas setiap pagi, cukup untuk menghancurkan harga dirinya kala itu. Dan karena pria itulah orang lain mulai merundungnya juga, sebab si Pangeran sekolah juga melakukan hal yang sama. Tangannya bergetar pelan. Dalam elegan lipstik dan parfum mewah yang kini melekat padanya, Kaluna berdiri di ambang pintu, dihadapkan pada satu hal yang paling tak pernah ia duga, yaitu calon suaminya adalah musuh masa lalunya. Dan pria itu…Tersenyum.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
229.3K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
154.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
179.5K
bc

My husband (Ex) bad boy (BAHASA INDONESIA)

read
300.1K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
14.4K
bc

My Secret Little Wife

read
127.4K
bc

Ibu Susu Anak Dosen Duda

read
4.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook