Tragedi Besar

1526 Words
"Itu mobil kenapa makin mepet aja, Kak?" tanya Aurora yang mulai merasa takut. Gama tak menjawab pertanyaannya wanita itu, akan tetapi tak lama kemudian Gama menghentikan motornya di pinggir jalan, hal itu membuat mobil tadi juga ikut berhenti. "Turun dulu!" titah Gama kepada Aurora. Wanita itu langsung turun tanpa bertanya, walaupun sebenarnya ia masih merasa heran dan penasaran. Seorang gadis keluar dari mobil tadi, lalu membanting pintu mobilnya dengan kasar sampai menimbulkan bunyi keras. Aurora terkejut, ia langsung membulatkan matanya setelah melihat siapa yang keluar dari mobil tadi. Pantas saja mobil itu terus membuntuti mereka, ternyata pemilik mobil tersebut adalah Kimberly, kekasih Gama. Kimberly berjalan dengan cepat menghampiri Gama dan Aurora. "Oh, jadi ini yang kamu sebut disuruh Papa ikut ke pemakaman temannya Papa kamu? Ternyata kamu malah bonceng sama cewek kampungan ini!" Kimberly menunjuk ke arah Aurira, gadis itu berbicara dengan nada kencang sampai membuat orang-orang di sekitar mereka langsung menoleh. "Kim, aku bisa jelasin dulu," ucap Gama yang berusahalah menenangkan gadis itu, meskipun ia tahu Kimberly adalah orang yang sangat susah ditenangkan. Kimberly juga memiliki amarah yang tinggi dan bisa meledak dimana saja. "Heh, lo cewek kampung! Berani-beraninya lo deketin pacar gue! Lo gak tahu siapa gue?" Kimberly kembali menunjuk ke arah Aurora dengan sorot mata penuh amarah. Terlihat jelas kalau gadis itu sedang dilanda emosi. "Aku gak deketin Kak Gama kok, dia sendiri yang deketin aku," balas Aurira, ia sengaja berkata seperti itu, karena ia merasa ini adalah kesempatan emas baginya untuk menghancurkan hubungan Kimberly dan juga Gama. Bukan berniat untuk menjadi pelakor, tapi Aurora tahu Gama adalah miliknya, oleh karena itu ia akan menyingkirkan siapapun wanita yang mendekati suami masa depannya itu. Mendengar ucapan Aurora barusan, Kimberly semakin tersulit emosi. Wanita itu bagaikan api yang disiram bensin. Sorot matanya tajam penuh amarah, giginya mengerat, tangannya mengepal. "Dasar lo ya cewek murahan!" Kimberly tak dapat menahan amarah yang meluap, wanita itu mendorong tubuh Aurora dengan kasar sampai membuat wanita itu terhuyung ke arah jalan dan .... Bruk! Aurora terjatuh ke arah jalan raya bertepatan dengan itu ada sebuah motor yang melintas dengan kecepatan cukup tinggi dan seketika menabrak tubuh Aurora. "Arrgghhhh ...." Wanita itu berteriak kencang sambil terkapar di atas aspal. Seketika orang-orang melihat ke arah Aurora, tak hanya itu, mereka juga melihat ke arah Kimberly yang tadi mendorong tubuh wanita itu. Kimberly langsung merasa panik, terlebih lagi ketika ia melihat darah segar yang keluar dari kening Aurora. "Heh, kalian sudah membuat keributan di jalan! Kamu parkir sembarang sampai menyebabkan kemacetan dan kamu juga mendorong dia sampai jatuh dan tertabrak motor!" teriak seorang pria yang melihat dengan jelas kejadian itu. "Waduh, bahaya ini. Sayang, ayo kita pergi!" Kimberly menarik tangan Gama agar pria itu ikut dengannya. "Lepasin!" ucap pria itu seraya menarik tangannya dari genggaman Aurora. "Kenapa? Ayo kita pergi, Sayang. Ini bahaya!" Kimberly semakin terlihat panik, apalagi kini mulai ada beberapa orang yang mendekat ke arah mereka. "Kamu pergi aja sendiri!" Gama meninggalkan Kimberly, pria itu mendekat ke arah Aurora yang kini sedang terkapar di tengah jalan dan dikerumuni banyak orang. Kimberly yang merasa ketakutan sendiri, akhirnya berlari masuk ke dalam mobil dan menjalankan roda empat itu dengan kecepatan tinggi meninggalkan TKP. Gama merasa terkejut ketika ia melihat luka pada kening Aurora yang mengeluarkan darah cukup banyak. Kedua mata wanita itu terpejam, sepertinya Aurora sudah tak sadarkan diri. "Astaga, Aurora!" Gama berjongkok, pria itu mengusap pipi Aurora yang terlihat dipenuhi oleh pasir. "Gimana ini, Mas? Makanya jangan berantem di jalan," ucap seorang bapak-bapak yang melihat kejadian tadi. Gama merasa panik, bahkan tubuhnya mendadak panas dingin, entah kenapa ia sangat mengkhawatirkan keadaan wanita itu. "Pak, tolong teleponkan ambulan, saya akan bawa dia ke rumah sakit," pinta Gama yang terlihat tak karuan. Ia mengangkat kepala Aurora dan meletakkan di atas pahanya. Tak perduli celana yang ia kenakan terkena darah dari luka Aurora. "Aurora, bangun ... Aurora ...." Gama kembali menyentuh pipi Aurora, ia berusaha menyandarkan wanita itu. Namun, Aurora tak kunjung sadar sampai mobil ambulans datang. Gama langsung mengangkat tubuh Aurora dan membawanya ke arah ambulans. Pria itu segera menurunkan tubuh Aurora dengan perlahan ke atas brankar. Setelah itu, Aurora di bawa masuk ke dalam ambulans yang langsung meluncur menuju rumah sakit. Gama bergegas menaiki motornya dan mengikuti mobil ambulans yang membawa Aurora. Gama membawa motornya dengan kecepatan tinggi, ia benar-benar mengkhawatirkan keadaan wanita itu. Perjalanan dari tempat kejadian menuju rumah sakit terasa jauh, entah mungkin karena Gama benar-benar dilanda rasa cemas sehingga membuat waktu terasa lama. Setelah tiba di rumah sakit, pria itu langsung menghentikan motornya dan berjalan mengejar perawat yang mendorong brankar pasien ke arah ruang IGD. Bahkan, Gama sampai lupa melepaskan helmnya. Pria itu terpaksa menghentikan langkah, karena petugas telah membawa Aurora masuk ke ruangan IGD untuk segera mendapatkan perawatan intensif. Gama melepaskan helmnya dan membanting benda tersebut ke atas kursi tunggu. Ia menyugar rambutnya dan mengusap wajah dengan kasar. Semua gara-gara Kimberly, gadis itu terlalu egois dan keras. Gama menjauhkan tubuhnya ke atas kursi tunggu, ia menatap ke arah pintu ruangan IGD yang masih tertutup rapat. Belum ada tanda-tanda dokter keluar dari sana. "Gimana kalau dia terluka parah?" ucap Gama sendiri yang sedang dilanda kebingungan dan kekhawatiran. Saat ini ia tidak tahu harus berbuat apa, menghubungi papanya pun percuma karena papanya sedang ada acara penting dan itu tidak akan bisa diganggu. "Ya Tuhan ... Selamatkanlah dia." Tak terasa, Gama mengucapkan doa untuk keselamatan Aurora. Ia mengucapkan itu dengan sangat tulus, padahal awalnya Gama sempat membenci wanita itu. Akan tetapi, setelah melihat Aurora terluka karena Kimberly, justru ia malah merasa kesal kepada kekasihnya dan merasa kasihan kepada Aurora. Tak lama kemudian, seorang dokter keluar dari ruangan itu yang membuat Gama buru-buru bangkit dan menghampiri dokter laki-laki tadi. "Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Gama dengan wajah khawatir. "Mohon maaf, Anda ini siapanya pasien ya?" tanya dokter itu sambil menatap wajah Gama yang seketika terdiam. Entah kenapa, tiba-tiba saja di kepalanya terbayang saat Aurora berkata padanya, 'aku adalah istri masa depanmu.' Bahkan suara itu terngiang di telinganya. "Mohon maaf, Anda siapanya pasien?" tanya dokter itu kembali, karena sedari tadi Gama hanya terdiam dengan wajah bingung. "Saya suaminya," jawab pria itu dengan cepat. Entah dorongan dari mana sampai ia mengakui kalau Aurora adalah istrinya. "Oh, suaminya. Pasien sudah ditangani, akan tetapi belum sadarkan diri, karena luka di keningnya cukup dalam dan memiliki jahitan. Tapi, itu hanya luka luar saja, sebentar lagi pasien pasti akan siuman," jelas dokter laki-laki itu. Seketika Gama menyentuh bibirnya sendiri, bisa-bisanya ia mengaku sebagai suaminya wanita itu. Akan tetapi, ia merasa lega karena telah mendengar kalau Aurora sebentar lagi akan siuman. "Kalau mau menjenguk pasien, silahkan masuk," ucap dokter itu lagi seraya mempersilahkan Gama untuk masuk. "Terima kasih, Dok." Gama mengangguk, setelah itu ia segera masuk ke dalam ruangan tersebut dan berpapasan dengan dua orang perawat yang akan keluar dari ruangan itu. Sehingga saat ini di ruangan tersebut hanya ada ia dan juga Aurora. Gama berjalan mendekat ke arah Aurora yang sedang terbaring dengan kedua mata yang masih terpejam sempurna. Pria itu berdiri di samping Aurora dan menyentuh tangan wanita tersebut dengan perlahan. Gama menatap wajah Aurora yang terdapat sedikit luka goresan akibat terjatuh ke atas aspal. Tiba-tiba saja Gama merasakan desiran aneh di dalam hatinya, ia sendiri tidak bisa mendeskripsikan perasaannya saat ini. Gama memegang tangan Aurora dan mengusap punggung tangan wanita itu dengan perlahan. Kedua bibirnya terkunci rapat, Gama tak mengucapkan sepatah katapun. Hanya sorot kedua matanya saja yang tak berhenti menatap ke arah wajah Aurora. "Mas Gama ...." Suara lembut dan pelan itu keluar dari mulut seorang wanita yang masih memejamkan matanya. Gama merasa heran, Aurora masih belum sadarkan diri, akan tetapi wanita malah memanggil namanya. "Mas Gama ... Kamu dimana?" Aurora kembali memanggil Gama. "Mas, jangan tinggalin aku ... Mas Gama ...." Untuk yang ketiga kalinya wanita itu memanggil Gama. Hal tersebut membuat Gama semakin merasa heran, kenapa Aurora memanggil dirinya seperti seorang wanita yang sedang memanggil suaminya? Mendengar ucapan Aurora barusan, Gama menggenggam jemari lentik Aurora supaya wanita itu bisa merasakan keberadaannya di sana. Bibir Gama terasa berat untuk membalas ucapan Aurora barusan, ia hanya menggenggam jemari wanita itu sebagai jawaban kalau dirinya sedang berada di sana. Tak lama kemudian, kedua mata Aurora terbuka dengan perlahan. Hal yang pertama ia lihat adalah jemari tangannya yang sedang digenggam oleh sebuah tangan kekar. Aurora hafal betul itu adalah tangan Gama, tangan yang pernah menjamah tubuhnya. Tangan yang sering melingkar pada perutnya. "Kamu disini," ucapnya sambil menatap ke arah wajah Gama. Pria itu masih terdiam, kedua matanya menatap dalam-dalam wajah Aurora yang terlihat pucat. "Terima kasih sudah menemaniku dan menggenggam tanganku, jangan lepaskan genggaman ini dulu ya, aku kangen sama kamu." Tiba-tiba saja Aurora mengangkat tangannya beserta tangan Gama, ia mengarahkan tangan mereka dengan perlahan ke arah bibirnya. Wanita itu mencium punggung tangan Gama dengan lembut. Melihat itu, Gama semakin merasa heran atas apa yang dilakukan Aurora, akan tetapi hatinya seolah menolak untuk menarik tangannya dari Aurora. Desiran aneh di hatinya semakin terasa yang membuat Gama hanya bisa terdiam dan berusaha menelaah rasa apa yang saat ini sedang menguasai hatinya. Benarkah itu rasa cinta? Atau hanya sekedar kepedulian saja karena keadaan Aurora yang seperti itu? Gama dibuat bingung oleh perasaannya sendiri. "Mas, gak mau cium aku gitu?" celetuk Aurora.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD