"Dibilangin kalau aku ini adalah istri dari masa depanmu," jawab Aurora tanpa berpikir panjang setelah ia mendengar pertanyaan Gama.
"Sungguh tidak masuk akal," balas Gama seraya mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Aurora hanya terkekeh pelan ketika melihat ekspresi Gama saat ini yang terlihat bingung.
Ia sudah menemukan ide bagaimana caranya agar ia tetap bisa tinggal di rumah keluarga Gama.
Aurora tersenyum sendiri sambil bermonolog, ia merasa senang karena menemukan ide baru.
Meskipun ia sempat terluka seperti saat ini, akan tetapi itu semua justru membuka jalan untuk ia melakukan rencana selanjutnya.
"Oh iya, aku mau bilang sesuatu sama kamu," ucap Gama secara tiba-tiba yang membuat kedua bibir Aurora langsung tersenyum.
'Hmmm ... Mas Gama mau bilang apa ya ke aku? Jangan-jangan dia mau bilang cinta sama aku. Aku gak sabar untuk segera mendengar itu. Tapi, kayaknya asyik juga kalau aku sok jual mahal. Pas Mas Gama bilang, Aurira sebenarnya aku suka sama kamu, kamu mau kan jadi istriku? Terus aku balas aja, nanti aku pikir-pikir dulu, Mas. Seru juga kalau gitu, biar Mas Gama berjuang untuk mendapatkan cintaku," gumam Aurora sambil senyum-senyum sendiri.
Gadis itu memutar bola matanya sambil menatap ke arah langit-langit ruangan tersebut, ia seolah sedang melihat adegan indah itu yang berputar di kepalanya.
"Heh, kenapa malah senyum-senyum sendiri?" sergah Gama yang membuat Aurora langsung tersadar dari lamunannya.
Aurora menoleh ke arah Gama yang kini sedang menatapnya dengan intens.
"Kamu mau bilang apa tadi?" tanya Aurora dengan bibir yang tak kuasa menahan senyuman.
"Nanti kamu jangan bilang sama Papa kalau kamu celaka gara-gara didorong sama Kimberly. Kamu bilang aja kalau kamu jatuh dari motor," tutur Gama yang seketika menghancurkan ekspektasi Aurora.
Senyum pada bibir wanita itu seketika memudar secepat mendengar ucapan Gama barusan.
"Gak mau! Aku mau ngadu sama Pak Danuarta, aku mau bilang kalau aku celaka gara-gara didorong pacar kamu!" balas Aurora dengan wajah angkuh.
"Heh, jangan sembarangan! Btw, kok kamu tahu nama papaku? Siapa yang ngasih tahu?" Gama menatap heran ke arah Aurora.
"Apa sih yang aku gak tahu? Isi dalaman kamu aja aku tahu." Aurora masih memasang wajah angkuh.
"Stres!" umpat Gama yang malah membuat Aurora terkekeh.
"Kalau kamu mau aku menuruti perintah kamu, kamu harus ngasih aku reward," pinta Aurora.
"Reward apaan?" Gama menatap wanita itu dengan dahi mengerut.
"Ada deh, pokoknya kamu janji dulu bakal menuruti kemauan aku, setelah itu barulah aku akan menuruti perintah kamu, bagaimana?" Aurora mengulurkan tangannya ke hadapan Gama.
Pria itu terdiam dengan wajah bingung.
"Bilang dulu kamu mau apa?"
"Janji dulu sama aku kalau kamu mau menuruti apa kemauan aku." Aurora mengarahkan sorot mata pada tangan dirinya yang sedang ia ulurkan ke arah Gama yang masih terdiam dengan wajah bingung.
"Mau gak? Ya udah kalau gak mau nanti aku tinggal bilang sama Papa kamu kalau aku ketabrak motor gara-gara didorong sama Kimberly. Terus abis itu, nanti pasti Papa kamu akan semakin tidak menyukai Kimberly dan mengusir Kimberly setiap datang ke rumah kamu," cerocos Aurora yang malah semakin memanas-manasi Gama.
"Ck ... Ya udah lo mau apa?" Dengan terpaksa Gama harus menyetujui permintaan Aurora.
"Deal dulu!" Aurora mengangkat tangannya agar dilihat oleh Gama.
"Iya-iya, bawel banget. Udah, cepetan maunya apa?" tanya Gama dengan tak sabar.
Bukannya langsung menjawab, Aurora malah kembali tersenyum dengan kedua mata yang tertuju ke arah wajah tampan Gama.
"Aku mau kamu pulang pergi ke kampus sama aku. Jadi, setiap berangkat ke kampus kamu harus bonceng aku dan begitupun pulang dari kampus, kamu juga harus bonceng aku," jawab Aurora yang membuat Gama seketika menatap tajam ke arahnya.
"Sehari aja ya!" pintanya.
"Oh tidak bisa, aku mau sampai kita lulus," jawab Aurora tak tanggung-tanggung.
"Gila ... Ini gila!" Gama mengusap wajah dan mengacak rambutnya sendiri.
"Gak mau? Ya udah, aku tinggal lapor aja sama Papa kamu." Aurora memasang wajah angkuh, ia yakin kali ini pasti menang.
"Lo beneran stres ya!" Gama menunjuk ke arah Aurora dengan wajah kesal.
Jika pak Danuarta mengetahui kalau Kimberly yang telah mendorong Aurora sampai tertabrak motor, ia yakin pasti papanya itu akan semakin memandang buruk terhadap Kimberly dan bisa saja mengancam Gama untuk menjauhi gadis itu.
"Beneran gak mau? Gak papa sih, bukan aku kok yang rugi. Paling abis itu kamu diminta untuk menjauhi Kimberly, aku tahu pak Danuarta itu adalah orang yang sangat baik dan lembut, pak Danuarta tidak suka orang yang bermain kekerasan," tutur Aurora seraya memainkan jemari lentiknya, ia memperhatikan kukunya yang lumayan panjang.
Meskipun saat ini tangan kirinya sedang terpasang jarum infus.
"Ya sudah ... Oke, gue menerima tawaran lo dan gue akan menuruti kemauan lo. Asal lo gak bocorin kejadian ini sama Bokap, lo harus janji itu!" Gama memberikan tatapan penuh ancaman, mau tidak mau ia harus menyetujui permintaan gila dari Aurora.
"Deal!" Aurora kembali mengangkat tangannya.
"Deal!" balas Gama seraya menerima jabatan tangan Aurora.
Kedua bibir wanita itu tersenyum merekah, ia benar-benar merasa jadi pemenang.
Setelah ini, ia akan dengan mudah mendekati Gama, apalagi jika ia bisa bertahan lebih lama untuk tinggal di rumah keluarga Gama.
***
Sementara di tempat lain, bu Puspa sibuk memperkenalkan Arnold sebagai calon penerus perusahaan milik pak Danuarta hampir pada semua orang yang hadir di tempat itu.
Pak Danuarta sama sekali tidak menyangka semua ucapan bu Puspa kepada orang-orang.
"Ini adalah putra pertama kami yang bernama Arnold dan akan menjadi penerus perusahaan Mahada grup," ucap bu Puspa dengan bangga sambil menunjuk ke arah Arnold.
"Wah hebat ...."
"Tampan sekali putranya ...."
"Hebat sekali, pasti perusahaan Mahada akan semakin maju ...."
Terdengar desas-desus dari orang-orang sekitar yang menuju Arnold dan tentu saja hal tersebut membuat bu Puspa semakin tersenyum merekah.
Pak Danuarta hanya ikut tersenyum tipis, di dalam hatinya ia mengingat Gama yang merupakan putra satu-satunya ia.
Sementara Arnold hanyalah anak sambungnya.
Akan tetapi, pak Danuarta sudah terlanjur dibutakan dan dilumpuhkan oleh seorang wanita yang memiliki usia jauh lebih muda darinya. Seorang wanita yang telah ia jadikan istri dan sekarang seolah menyetir hidupnya.
Bu Puspa selalu mengatakan, jangan menganggap Arnold sebagai anak sambung, anggap saja Arnold adalah putra kandung.
Karena Arnold sendiri menganggap pak Danuarta adalah papa kandungnya.
Akan tetapi, justru dengan kalimat itu bu Puspa memiliki rencana besar. Berdalih anak sambung hanya harus dianggap anak kandung, sampai menjadikan Arnold sebagai ahli waris utama perusahaan.
Padahal yang seharusnya mendapatkan itu adalah Gama, anak kandung dan darah dagingnya pak Danuarta.
Namun, pria paruh baya itu hanya bisa bungkam dan menyetujui semua yang telah menjadi keputusan istrinya.
Arnold mendapat tatapan kagum dari orang-orang di sekitarnya yang merupakan para petinggi perusahaan.
Pria itu tersenyum bahagia dan bangga atas apa yang telah dirujukkan padanya. Meskipun saat ini ia masih menjalani kuliah, akan tetapi masa depannya sudah terjamin dan semua harta kekayaan sudah berada di depan mata tanpa ia harus sibuk mencari dengan susah payah.
"Jeng Puspa, anaknya ganteng banget. Boleh nih dikenalkan sama anak saya. Kebetulan tahun ini lulus di universitas Oxford," ucap seorang wanita berpakaian glamor setelah menghampiri bu Puspa.
"Jeng Tisa yang punya toko berlian itu kan?" balas bu Puspa dengan wajah yang langsung terlihat berbinar.
"Iya dong Bu Puspa, masa lupa sih? Kan biasanya Bu Puspa beli berlian di toko saya," jawab wanita bermakeup menor itu.
"Wow, kayak seru kalau kita besanan, Bu." Bu Puspa terdengar berterus terang.
"Boleh, Bu. Sebentar saya panggilkan putri saya dulu. Zoya, sini Sayang, Mami kenalkan sama anaknya teman Mami yang ganteng dan calon penerus perusahaan besar," ucap wanita itu memanggil putrinya.