Seorang gadis bertubuh tinggi dan sedikit berisi berjalan mendekat ke arah ibunya.
"Jeng Puspa, Nak Arnold, perkenalkan ini putuku, namanya Zoya," ucap bu Tisa yang sepertinya sangat haus validasi.
Wanita paruh baya itu menunjuk ke arah putrinya yang langsung menatap Arnold dengan bibir tersenyum manis.
"Hai, namaku Zoya!" ucapnya seraya mengulurkan tangan ke hadapan Arnold.
Arnold masih terdiam, ia memperhatikan wanita itu dari atas sampai bawah.
Zoya memiliki tinggi hampir sama dengannya, tubuh wanita itu juga cukup berisi, hidungnya mancung, matanya bulat, dan pipinya yang chubby. Kulitnya putih serta rambutnya berwarna pirang.
Cantik memang, tapi entah kenapa Arnold sama sekali tidak merasa tertarik.
Apa mungkin karena tubuh wanita itu yang tinggi dan berisi sehingga ia merasa kurang cocok jika Zoya bersanding dengannya.
Karena Arnold lebih menyukai wanita dengan tinggi yang berada di bawahnya.
"Arnold, ayo terima uluran tangan Zoya," bisik bu Puspa seraya menyenggol lengan putranya dengan pelan.
Arnold menoleh ke arah ibunya, sorot mata bu Puspa sudah menggambarkan anti penolakan.
Arnold segera mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Zoya dengan bibir yang terpaksa mengembangkan senyum.
"Namaku Arnold," balasnya singkat.
"Nice to meet you, semoga setelah ini kita bisa bertemu kembali dan menjalin hubungan dengan baik," tutur Zoya dengan sangat ramah. Wanita itu menatap Arnold, bibirnya tak berhenti mengembang senyum, sorot matanya menggambarkan ketertarikan.
Meskipun Arnold tetap bersikap cuek padanya, akan tetapi Zoya memberikan respon yang sangat baik.
Mereka berkumpul dan berbincang, Zoya sangat ramah, Arnold hanya mengimbangi wanita itu saja, meskipun sebenarnya ia merasa sudah tak nyaman berada di sana dan ingin segera pulang.
Beberapa kali Arnold mengecek ponselnya, ia berharap ada pesan masuk dari Aurora, namun nyatanya wanita itu sama sekali tak ada kabar yang membuat Arnold ingin segera pulang secepat mungkin.
"Mah, kita harus segera pulang, Papa mendapat kabar kalau Gama masuk rumah sakit," ucap pak Danuarta sedikit berbisik pada istrinya.
Karena saat ini mereka sedang berada di tengah-tengah keramaian para petinggi perusahaan, jadi mereka harus sangat hati-hati ketika berbicara hal pribadi.
Karena bisa saja ada musuh di balik selimut yang mengambil titik lemah mereka dan menjadikan itu sebagai peluru penghancur.
"Baiklah, kita pulang sekarang," balas bu Puspa tanpa banyak bertanya lagi.
Mereka bisa kembali membicarakan hal itu di mobil.
"Jeng Tisa, Zoya, kami pamit pulang dulu ya." Bu Puspa segera berpamitan seraya menenteng tas mewahnya yang tentu saja memiliki harga fantastis karena berasal dari luar negeri.
"Cepat sekali, padahal setelah ini kita masih ada acara," balas bu Tisa dengan anggunly seraya ikut berdiri dari duduknya.
"Kami ada keperluan lagi setelah ini, Bu. Emmm ... Arnold, ayo pamitan dulu sama Zoya!" titah bu Puspa dengan sorot mata penuh perintah.
Tentu saja Arnold tidak akan bisa membantah perintah ibunya.
"Zoya, aku pulang dulu," pamit Arnold yang langsung dibalas senyuman manis oleh Zoya.
"Oke, hati-hati, nanti call aku ya, atau aku yang call kamu." Zoya terdengar akrab.
Arnold hanya membalas dengan anggukan, setelah itu ia mengikuti papanya keluar dari tempat tersebut.
"Mah, katanya Gama masuk rumah sakit," ucap pak Danuarta setelah mereka berada di dalam mobil. Wajah pria paruh baya itu terlihat panik.
"Hmmm ... Iya, Papa tenang ya, kita kesana sekarang." Bu Puspa mengusap punggung suaminya agar merasa lebih tenang. Setelah itu, ia segera meminta sopir untuk menjalankan mobil mewah itu menunju rumah sakit.
Arnold yang duduk di kursi depan, lebih tepatnya di samping pak sopir, ia sibuk dengan ponselnya.
Arnold mengirim pesan kepada Aurora, akan tetapi tak satupun pesannya dibalas oleh wanita itu.
Arnold menjadi gelisah sendiri, ia meletakkan ponselnya di atas paha dan menyandarkan kepala pada jok mobil.
Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi menandakan ada pesan masuk, pria itu langsung membuka ponselnya dengan penuh semangat.
Akan tetapi, apa yang ia lihat tidak sesuai ekspektasinya, pesan itu bukan berasal dari seseorang yang sedang ia tunggu, melainkan dari sebuah nomor baru yang belum sempat ia simpan.
(Hai, ini aku Zoya. Jangan lupa save nomorku ya).
Arnold membuang nafas kasar, ia tak langsung membalas pesan itu.
Tak lama kemudian, ponselnya kembali berbunyi, lagi-lagi pesan masuk dari nomor yang sama.
(Kalau sudah save nomorku, balas pesanku ya).
Arnold terpaksa membalas pesan itu agar Zoya tak lagi mengirim pesan sampai beberapa kali padanya.
(Iya). Balasnya singkat dan malas.
Arnold terdiam dan tak berbicara sampai mobil yang ia tumpangi tiba di tempat tujuan.
Mereka langsung keluar dari mobil dan berjalan serentak masuk ke dalam rumah sakit.
Kedatangan mereka langsung disambut oleh seorang bodyguard yang tadi memberi kabar pada pak Danuarta kalau putranya masuk rumah sakit.
Mereka langsung diarahkan ke sebuah ruangan.
Pak Danuarta masuk dengan wajah khawatir, namun seketika pria paruh baya itu tercengang ketika melihat Gama sedang berdiri di samping brankar yang sedang ditempati oleh seorang wanita yang tak lain adalah Aurora.
"Loh, katanya Gama masuk rumah sakit, kok Aurora yang dirawat?" tanya pak Danuarta dengan wajah bingung.
Aurora dan Gama menoleh serentak.
"Siapa yang bilang aku masuk rumah sakit, Pah?" tanya Gala yang menatap heran ke arah papanya.
"Dia!" Pak Danuarta menunjuk ke arah bodyguard tadi.
"Asem, lo nyumoahin gue sakit!" Gama langsung mengumpati pria itu.
"Mohon maaf, Tuan, kan saya cuma bilang kalau Tuan masuk rumah sakit, bukan Tuan yang sakit. Ini kan di dalam rumah sakit, jadi masuk rumah sakit, bukan keluar rumah sakit," jelas pria itu yang terdengar membela dirinya sendiri.
"Keluar lo!" usir Gama yang membuat pria itu langsung berlari ketakutan keluar dari ruangan tersebut.
Pak Danuarta hanya geleng-geleng kepala.
"Ya ampun, Senja, kamu kenapa? Pantas saja kamu gak balas pesan aku, ternyata kamu terluka." Arnold langsung mendekat ke arah Aurora dengan wajah panik, sepertinya pria itu sangat mengkhawatirkan keadaan Aurora.
"Apa yang sakit, Senja?" Arnold akan menyentuh tangan Aurora, akan tetapi dengan cepat Gama menepisnya.
"Jangan sentuh tangannya!" ucap pria itu seraya menepis tangan Arnold agar tidak menyentuh Aurora.
Entah karena ia refleks atau bagaimana, yang jelas perlakuannya tadi mampu membuat bibir Aurora tertarik untuk mengembangkan senyuman.
Namun, Aurora berusaha menahan senyumannya agar tidak ada yang melihat.
"Apa maksudmu? Kenapa kamu menepis tanganku?" Arnold menatap kesal ke arah Gama.
"Emmm ... Maksudku, jangan sentuh tangannya, Kak. Karena kata dokter tulang pada tangan dia agak retak," elak Gama yang membuat Aurora ingin sekali mencomot bibir pria itu.
"Apa? Sebenarnya kejadiannya seperti apa? Kenapa Aurora sampai seperti ini sedangkan kamu baik-baik saja? Papa beneran gak paham, tolong jelaskan!" Pak Danuarta semakin terlihat bingung.
Aurora menatap Gama dengan bibir tersenyum tipis, ia mengisyaratkan kepada pria itu agar Gama menghangat janjinya.
"Jangan katakan yang sebenarnya, gue akan menepati perjanjian itu asal lo jangan bilang kalau Kimberly yang melakukan ini," bisik Gama yang membuat semua orang menatap ke arah Gama dan Aurora dengan wajah heran.
Aurora mengangguk sebagai jawaban.
"Kenapa pada bisik-bisik? Ada apa sebenarnya?" Pak Danuarta kembali melempar pertanyaan.
"Emmm ... Jadi gini, Pak, saya jatuh dari motor Kak Gama," jawab Aurora.
"Iya, Pah. Dia jatuh dari motor aku, maklum lah dia kan belum pernah naik motor bagus dan tinggi, jadi dia gak tahu caranya sampai jatuh," timpal Gama yang lagi-lagi membuat Aurora merasa jengkel.
"Ya ampun, ada-ada saja. Kalau begini caranya, gimana Aurora bisa pulang? Yang ada nanti keluarga kita semakin disalahkan oleh keluarganya Aurora." Pria paruh baya itu geleng-geleng kepala.
"Saya juga tidak tahu bagaimana caranya saya pulang, sebenarnya di rumah saya tidak ada siapa-siapa. Kakak saya masih belum pulang dari luar kota. Kalau saya pulang, berarti saya harus sendirian di rumah, sedangkan kondisi saya lagi kayak gini. Kepala saya luka dan pusing, kaki saya juga luka, tangan saya juga luka. Badan saya sakit semua," tutur Aurora dengan wajah melas.
Gama menatap tajam ke arah wanita itu, ternyata Aurora lebih pandai bersandiwara daripada dirinya.
"Hemmm ... Ya sudah begini saja, sebagai rasa tanggung jawab kami, kamu ikut pulang ke rumah bersama kami saja. Kamu tinggal di rumah kami sampai keadaan kamu benar-benar membaik dan sembuh total," putus pak Danuarta yang membuat Aurora ingin sekali jingkrak-jingkrak, karena rencananya berjalan dengan sangat mulus.
Gama yang mendengar itu langsung membuang nafas kasar seraya menoleh ke arah Aurora yang menjulurkan lidah ke arahnya.