Kecupan

1513 Words
"Arnold, apa yang kamu katakan?" gertak bu Puspa yang langsung menyangkal ucapan putranya. "Aku ingin menjadikan Senja sebagai calon istriku, Mah," jawab Arnold dengan lantang dan tanpa ragu. "Jangan ngarang kamu ya! Kita ini adalah keluarga terpandang dan terhormat, kamu harus menikah dengan perempatan yang jelas asal usulnya dan harus satu kasta dengan kita. Jangan sampai karena kamu salah mencari calon istri, hidupmu menjadi hancur," tegas bu Puspa yang dengan terang-terangan melontarkan penolakan atas keputusan putranya. Aurora yang mendengar itu, langsung menundukkan kepalanya, meskipun sebenarnya ia juga tidak tertarik kepada Arnold, akan tetapi apa yang dikatakan oleh wanita paruh baya itu terdengar sangat menyakitkan sampai membuat air matanya hampir menetes begitu saja. "Pagi-pagi sudah mempermasalahkan calon istri, lebih baik makan saja," celetuk Gama yang seolah bersikap tak perduli atas apa yang terjadi di ruang makan itu. Ia duduk dengan santai dan langsung mengambil makanan. "Emmm ... Semuanya, lebih baik sekarang kita sarapan saja ya, karena setelah ini kita juga akan menjalankan aktifitas masing-masing," ucap pak Danuarta yang lebih memilih menjadi penengah saja. Pria paruh baya itu sebenarnya merasa tak enak kepada Aurora atas apa yang diucapkan oleh istrinya barusan. Namun, jika ia membela Aurora tentu saja bu Puspa akan marah besar padanya. Begitupun sebaliknya, jika ia membela istrinya, pak Danuarta merasa tak tega. Justru ia merasa kasihan kepada Aurora. "Aurora, silahkan makan. Maaf atas kegaduhan tadi," ucap Arnold seraya mempersilahkan Aurora untuk menikmati hidangan pagi ini. Wanita itu hanya mengangguk, ia tak kuasa mengeluarkan suara karena jujur saja dadanya masih terasa sesak akibat menahan tangis karena mendengar ucapan bu Puspa barusan. "Arnold, karena hari ini kamu tidak ada jam kuliah, kamu ikut Mama sama Papa saja kW acara kantor temannya Papa. Sekalian kamu juga akan dikenakan ke beberapa teman-temannya Papa. Karena tidak lama lagi kamu akan terjun ke dunia bisnis untuk mengembangkan perusahaan," tutur bu Puspa yang selalu mengatur semua kehidupan putranya. Akan tetapi, itu hanya berlaku untuk Arnold yang merupakan anak kandungnya. Bernada dengan Gama yang sama sekali tidak pernah diatur, bahkan diperhatikan pun tidak. Akan tetapi, Gama tidak pernah merasa iri ataupun keberatan atas sikap ibu tirinya yang pilih kasih. Justru ia malah merasa senang, karena ia bisa terbebas dari aturan apapun. Karena Gama adalah orang yang menyukai kebebasan. Yang terpenting, segala kebutuhannya tetap terpenuhi oleh sang ayah. Berbeda dengan Arnold, jadwal kuliahnya saja dipegang oleh bu Puspa. Wanita paruh baya itu sangat mengekang putranya. "Aku mau mengantarkan Senja ke dokter," balas Arnold yang menolak ajakan ibunya. "Pergi ke tempat bisnis jauh lebih penting daripada kamu mengantarkan gadis itu," tegas bu Puspa yang seolah tak bisa diganggu gugat. Bahkan, pak Danuarta sendiri pun tak akan bisa mencegah kehendak istrinya. Entah mungkin karena pria paruh baya itu terlalu menyayangi istrinya. Karena jarak usia dirinya dengan bu Puspa cukup jauh berbeda. Bu Puspa jauh lebih muda darinya, usia mereka selisih sekitar dua puluh tahun, akan tetapi usia anak mereka tak jauh berbeda, karena pak Danuarta nikah telat bersama dengan mendiang ibunya Gama, akan tetapi justru bu Puspa menikah cepat dengan mantan suaminya yang merupakan ayah dari Arnold. "Kalau aku ikut Mama sama Papa, terus yang antar Senja ke rumah sakit siapa?" tanya Arnold yang masih memikirkan Aurora. Padahal ia sudah meniatkan hari ini ia akan mengantar Aurora ke dokter, agar mereka memiliki waktu lebih banyak untuk berdua saja. Mendengar pertanyaan putranya barusan, bu Puspa menoleh ke arah pak Danuarta, wanita itu seolah memberikan isyarat kepada suaminya untuk menjawab pertanyaan Arnold barusan. "Biar Gama yang mengantar Aurora ke dokter," jawab pak Danuarta dengan enteng. Seketika Gama yang sedang asik makan, menghentikan kunyahannya setelah mendengar ucapan pak Danuarta barusan. "Aku? Kenapa harus aku? Tidak ada yang lain?" protes Gama sambil menunjuk ke arah dirinya sendiri. "Gama, jangan terlalu banyak membantah, Papa minta tolong sama kamu untuk mengantarkan Aurora ke rumah sakit, karena Papa sama Mama ada acara. Anggap saja itu adalah bentuk tanggung jawab kamu, karena disebabkan oleh kamu juga Aurora menjadi seperti itu. Belajarlah untuk bertanggung jawab," jelas pak Danuarta dengan nada bicara yang terdengar tentang, akan tetapi penuh penekanan. Gama hanya membuang nafas kasar, pria itu melirik kesal ke arah Aurora yang justru malah tersenyum sambil menundukkan wajahnya. "Ya sudah, kita lanjutkan sarapan!" ucap lah Danuarta lagi sebagai penanda kalau tidak ada yang boleh berdebat lagi sampai sarapan seissai. Pak Danuarta meninggalkan ruang makan terlebih dahulu setelah ia menghabiskan sarapannya, pria paruh baya itu pamit untuk bersiap. Setelah itu, disusul oleh bu Puspa yang akan mengikuti suaminya. Namun, sebelah wanita itu masuk ke dalam kamar, ia terpaksa menghentikan langkah kakinya. "Mah, tunggu!" panggil Arnold yang membuat bu Puspa langsung menoleh ke arahnya. "Ada apa?" tanya wanita paruh baya itu dengan santai. "Mah, aku sangat malas sekali untuk ikut sama Mama dan Papa, bagaimana jika Gama saja yang ikut sama Mama dan Papa, biar aku mengantarkan Senja ke dokter," ucap Arnold yang masih berusaha menawar. Bu Puspa maju beberapa langkah sampai jaraknya begitu dekat dengan Arnold, wanita paruh baya itu menatap intens ke arah putranya. "Arnold, dengarkan Mama ... Kamu turuti saja semua kata Mama, ini adalah kesempatan emas bagi kamu untuk terjun langsung ke dunia bisnis. Semuanya akan menjadi lebih mudah jika kamu sudah bisa memahami dunia bisnis. Apalagi jika kamu sudah kenal dengan orang-orang yang dekat dengan Papa. Kamu harus memanfaatkan kesempatan ini, karena ini adalah kesempatan emas untuk kamu. Papa akan memperkenalkan kamu kepada rekan bisnisnya sebagai penerus perusahaan. Jadi, sangat rugi kalau kamu malah melemparkan kesempatan emas ini kepada Gama yang tidak berguna itu," bisik bu Puspa pada telinga Arnold dengan penuh penegasan dan penekanan. "Tapi aku belum siap, Mah! Kenapa Mama selalu mengekang aku?" Arnold masih melakukan perlawanan. "Ini bukan mengekang, ingat Arnold, walaupun kamu bukankah anak kandung Papa, tapi kamu harus menjadi penerus perusahaan dan kamu juga harus menjadi ahli waris perusahaan. Mama akan membantu itu. Jangan sampai perusahaan jatuh ke tangan Gama, karena jika itu terjadi, kamu tidak akan mendapatkan apapun. Jadi, ikuti saja permainan ini, jangan pernah membantah. Sekarang, kamu bersiaplah, berpakaian yang rapi agar kamu semakin terlihat gagah dan pantas menjadi penerus perusahaan." Wanita paruh baya itu menepuk bahu Arnold, setelah itu ia melanjutkan langkahnya menuju kamar. Arnold mengusap wajahnya secara kasar, sebenarnya ia merasa sangat tidak nyaman dengan sikap ibunya yang selalu mengekang dirinya. Akan tetapi, jika dipikir ulang, tujuan ibunya sangatlah bagus. Dengan menjadi penerus perusahaan, tentu saja ia akan bisa menikmati harta yang berlimpah seumur hidupnya. *** Di ruang makan, kini hanya tersisa Gama dan Aurora saja. Gama adalah tipe orang dengan porsi makan banyak, jadi pria itu sering menjadi bagian terakhir di ruang makan. Wajar saja jika tubuhnya tinggi dan kekar, bahkan lebih tinggi dan lebih kekar Gama dibandingkan dengan Arnold. Sedari tadi, keduanya hanya terdiam, Aurora sengaja tidak meninggalkan ruang makan, bukan karena ia belum merasa kenyang, akan tetapi ia sengaja berlama-lama di sana agar ia bisa berduaan dengan Gama dalam waktu yang lebih lama. Meskipun diantara keduanya tidak ada pembicara, Aurora juga merasa gengsi untuk mengajak Gama berbicara terlebih dahulu. Ia malah sibuk memperhatikan pria itu yang sedang menikmati sarapannya. Aurora senyum-senyum sendiri ketika ia melihat Gama makan dengan lahap. Di masa depan, Gama selalu meminta dibuatkan sarapan olehnya, karena pria itu menganggap masakan isterinya jauh lebih enak dari masakan siapapun. Jadi, hampir setiap hari Aurora membuatkan sarapan untuk suaminya, walaupun itu hanya menu sederhana, akan tetapi Gama akan tetap makan dengan lahap. Persis seperti sekarang ini, Aurora seperti melihat suaminya di masa depan. "Kenapa lo liatin gue sambil senyum-senyum gitu? Awas lo ya kalau mikir m***m tentang gue," ucap Gama tiba-tiba yang membuat Aurora langsung tersadar dari lamunan masa depannya. "m***m? Siapa yang m***m?" sangkal wanita itu. "Lo lah ... Lo kan orangnya m***m, semalam aja gue mau diperkaos sama lo," jawab Gama yang membuat Aurora langsung menoleh ke kanan dan ke kiri, ia takut ada orang lain yang mendengar ucapan pria itu. "Kenapa? Lo takut ada yang mendengar ucapan gue? Lo takut diusir sama bokap gue?" celetuk Gama dengan wajah tengil. "Nggak, siapa yang takut? Aku melihat ke kanan dan ke kiri cuma mau mastiin aja kalau gak ada orang," balas Aurora dengan wajah yang kembali terlihat santai. "Emangnya kalau gak ada orang, lo mau ngapain?" tanya Gama lagi masih dengan wajah yang terlihat tengil dan menyebalkan bagi Aurora. "Mau cium kamu," balas wanita itu dengan berani. "Heleh, kayak yang berani aja," balas Gama dengan nada meledek. "Berani lah, siapa takut." Aurora merasa tertantang, wanita itu langsung bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekat ke arah Gama. Aurora berdiri tepat di samping pria itu, ia kembali menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan kalau di sana benar-benar tidak ada orang. Dan tanpa basa-basi .... Cup! Aurora melabuhkan ciuman pada pipi Gama yang membuat pria itu seketika mematung. "Kenapa? Mau lagi?" tawar Aurora dengan bibir tersenyum manis, sorot mata wanita itu terlihat menggoda. Gama masih terdiam membeku, pria itu menoleh ke arah Aurora dan menatap wajah wanita itu yang terlihat begitu cantik dari jarak dekat. Aurora tersenyum manis dan kembali mendekatkan wajahnya. Cup! Satu kali kecupan lembut kembali mendarat, akan tetapi kali ini bukan mendarat pada pipi Gama, melainkan pada bibir pria itu yang sedikit berisi dan padat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD