Calon Istri

1562 Words
“Loh, itu kok kayak suara bersin?” ucap Arnold sambil melihat ke arah ranjang. Aurora yang mendengar itu semakin terlihat tegang, ia takut tiba-tiba Gama keluar dari sana, atau Arnold yang melihat ke arah bawah ranjang. Lagi pula, Aurora merasa kesal kenapa Gama harus sampai bersih segala? Apa mungkin pria itu sengaja bersin agar keberadaannya diketahui oleh Arnold? “Emmm … itu … itu suara cicak, Kak. Dari tadi aku udah denger suara itu kok,” jawab Aurora sedikit gugup, akan tetapi ia harus terlihat tenang agar Arnold tidak mencurigainya. “Cicak? Masa suara cicak seperti suara orang bersin?” Arnold mengerutkan keningnya. “Mungkin saja itu cicak jantan, Kak. Sudah, biarkan saja, paling sebentar lagi cicaknya pingsan karena flu,” jelas Aurora yang membuat Gama merasa geram setelah mendengar ucapan wanita itu. “Gila! Bisa-bisanya gue disamain sama cicak, dasar gadis gila!” geturu Gama sambil mengepalkan tangannya. Akan tetapi, ia tak bisa keluar dari kolong ranjang itu sebelum Arnold keluar dari kamar itu. “Kamu ini ada-ada aja, tapi aku merasa penasaran ….” Arnold berjalan mendekat ke arah ranjang yang membuat Aurora semakin panik. “Emmm … Kak, sebaiknya Kakak kembali ke kamar ya. Ini udah malam, aku juga mau tidur. Aku ngantuk banget. Hoammm ….” Aurora berpura-pura menguap agar Arnold percaya kalau ia benar-benar merasa ngantuk. “Kita gak jadi tidur bareng?” celetuk Arnold yang membuat Gama semakin merasa geram ketika mendengar itu. Padahal ia sendiri juga tidak ada hubungan apa-apa dengan Aurora. “Nanti saja, terlalu berbahaya jika kita melakukan itu. Kakak kembali ke kamar ya, selamat malam Kak Arnold!” Aurora sedikit mendorong tubuh Arnold agar pria itu keluar dari kamarnya. Mau tidak mau Arnold meninggalkan kamar Aurora, ia keluar dengan raut wajah yang terlihat sedikit kesal. Setelah Arnold benar-benar keluar dari kamarnya, Aurora kembali mendekat ke arah ranjang, wanita itu berjongkok dan melihat ke arah kolong ranjang. Akan tetapi, beriringan dengan itu, tiba-tiba saja kepala Gama muncul dari bawah ranjang yang membuat jidat keduanya seketika saling beradu. “Aw, sakit!” keluh Aurora sambil duduk di lantai. “Kamu ngapain sih?” protes Gama, pria itu keluar dari kolong ranjang dan ikut duduk di samping Aurora. “Ya aku mau lihat kamu lah, masih bernyawa atau nggak,” jawab Aurora seraya mengusap jidatnya yang terasa sakit akibat terbentur dengan kepala Gama. “Enak aja! Walaupun kolong ranjang lo kotor banget, tapi gue masih hidup. Gila, alergi debu gue sampe kambuh. Kotor banget, dasar jorok!” oceh Gama yang membuat Aurora langsung menatap ke arahnya. “Apa kamu bilang? Aku jorok? Eh, siapa yang punya rumah ini? Aku baru pertama kali menempati kamar ini, enak aja aku dibilang jorok.” Wanita itu mengerucutkan bibirnya. Gama memperhatikan wajah Aurora, semakin dilihat secara intens, wajah wanita itu semakin terlihat cantik, entah mungkin karena Gama yang mulai merasa tertarik kepada Aurora. “Jidat kamu kenapa merah?” tanya Gama secara tiba-tiba sambil mengulurkan tangannya. Pria itu menyentuh kening Aurora yang terlihat memerah. Hal tersebut langsung membuat kedua bibir Aurora mengembangkan senyum, ia merasa diperhatikan oleh Gama. Namun, Aurora harus tetap berusaha jual mahal, agar bisa menarik Gama agar lebih mendekatinya lagi. “Gara-gara kebentur kepala kamu, dasar keras kepala,” balas Aurora sedikit jutek. “Mana ada kepala lembek? Tadi kamu ngapain aja sama Arnold?” tanya Gama secara tiba-tiba, tangan pria itu masih mengusap kening Aurora dengan perlahan. “Nggak ngapa-ngapain, kenapa emangnya?” Aurora menatap wajah Gama, ia seperti melihat ekspresi tidak suka dari wajah pria itu ketika membicarakan Arnold. “Jangan terlalu dekat, dia itu sudah dewasa,” balas Gama gang tiba-tiba saja menjadi posesif. “Maksudnya?” Aurora mengerutkan kening. “Ya dia udah dewasa, pasti pikirannya soal perempuan juga beda. Jadi, kalau dia mendekati kamu, pasti ada maunya,” jelas Gama lagi. “Maunya apa?” Aurora kembali memberikan pertanyaan, akan tetapi pertanyaan wanita itu terdengar sedikit memancing. “Kamu tidak perlu tahu, cukup menghindarinya saja,” jawab Gama yang tak mau menjelaskan secara intens. “Tapi aku mau tahu, bila perlu kamu mempraktekannya supaya aku benar-benar tahu.” Aurora menatap wajah Gama dengan bibir tersenyum. Seketika pria itu menghentikan gerakkan tangannya yang sedang mengusap kening Aurora. “Aku gak tahu,” balas Gama singkat. “Gimana kalau kita sama-sama melakukannya biar sama-sama tahu?” Aurora memberikan tatapan berbeda pada Gama, tatapan dari jarak dekat yang sering ia berikan jika mereka akan melakukan hubungan suami istri di masa depan. Tatapan itu juga yang selalu berhasil meluluhkan Gama. “Jangan main-main ya, aku ini laki-laki normal,” balas Gama yang terlihat jual mahal. “Tidak apa-apa, kamu kan suamiku di masa depan.” Aurora tersenyum manis. “Sok tahu.” Gama mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia seolah tak ingin saling beradu tatap dengan wanita itu. “Aku memang tahu semuanya. Aku akan memberitahumu, beberapa tahun lagi kita akan menikah, kita tinggal di sebuah rumah minimalis dan kita mempunyai seorang anak laki-laki,” tutur Aurora yang mengatakan itu dengan untaian kata yang indah dan nada bicara lemah lembut seolah sedang menceritakan kisah yang menyenangkan untuk didengar. “Kenapa kamu pandai sekali mengarang?” Gama menatap heran ke arah wanita itu, ia masih belum percaya atas apa yang dikatakan Aurora. Karena itu semua memang susah diterima oleh akal sehatnya. “Aku tidak mengarang, semua yang aku katakan itu benar. Tenanglah, aku akan melindungimu dari masalah besar yang akan terjadi di masa depan. Aku tidak akan membiarkanmu dibunuh,” terang Aurora lagi dengan wajah yang sangat meyakinkan. “Aku tidak bisa menerima semua yang kamu katakan. Aku menganggap itu semua hanyalah cerita palsu yang kamu karang sendiri. Sebaiknya sekarang kamu tidur saja, besok kamu akan dibawa ke dokter.” Setelah mengatakan itu, Gama keluar dari kamar tersebut meninggalkan Aurora tanpa pamit. Aurora menatap punggung tegak Gama yang semakin lama semakin menjauh dan perlahan menghilang dari balik pintu. Air mata Aurora hampir menetes, tidak akan ada satu orang pun yang bisa mengerti semua yang ia katakan soal masa depan dan tidak akan ada satu orangpun yang percaya akan hal itu. Padahal, seandainya Gama tahu apa yang akan terjadi di masa depan, ia bisa mengajak pria itu untuk menjauhi Arnold. Kepala Aurora mendadak terasa pusing, wanita itu naik ke atas ranjang dan mencoba merebahkan tubuhnya. Ia memeluk guling dan membayangkan kalau benda itu adalah putranya. Aurora sangat merindukan Ganda, rasanya sakit jika mengingat hal itu. *** Malam mengantarkan semua sampai bertemu pagi dan sang mentari yang kembali menampakkan sinarnya. Aurora membuka kedua mata saat sinar matahari menerobos lewat celah jendela di kamar itu. Ia bergegas bangun dan menoleh ke kanan serta ke kiri. “Mas Gama … Ganda … semalam aku mimpi kalian, aku kangen kalian.” Aurora memeluk tubuhnya sendiri, ia masih ingat jelas di mimpi itu mereka tidur bersama dan rasanya seperti nyata. Mungkin itu cara Tuhan mengobati rasa rindunya. Aurora mengarahkan sorot mata pada jam dinding di kamar itu, waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi. Ia harus segera mandi dan keluar dari kamar. Rasanya kurang enak jika ia bangun siang, meskipun Aurora tahu pak Danuarta tidak pernah mempermasalahkan itu. Namun, Aurora juga tahu ada bu Puspa yang terkadang banyak komentar dan bersikap kurang baik. Aurora membersihkan diri, setelah itu ia keluar dari kamar. Ia tidak tahu apakah hari ini dirinya akan benar-benar dibawa ke dokter atau tidak. “Selamat pagi, Senja! Ayok sarapan!” ajak Arnold yang langsung menyapanya ketika pria itu baru saja menuruni anak tangga. “Pagi, Kak,” balas Aurora diiringi dengan senyuman. Ia harus tetap bersikap ramah dan baik kepada pria itu. “Ayok kita ke ruang makan!” ajak Arnold sekali lagi, pria itu mengulurkan tangannya dan akan menggandeng Aurora menuju ruang makan. Aurora ingin melepaskan tangan Arnold, akan tetapi ia merasa tak enak, jika ia melakukan itu, Aurora takut Arnold akan marah padanya. Jadi, ia harus mencari cara dan alasan yang tepat. “Ekhemmm ….” Tiba-tiba saja terdengar suara orang batuk yang membuat Arnold dan Aurora langsung menoleh ke arah anak tangga. Gama sedang berjalan menuruni anak tangga dengan kedua mata yang menatap intens ke arah Aurora dan Arnold. “Tidak usah pedulikan dia, ayok kita ke ruang makan sekarang. Papa sama Mama pasti sudah menunggu di sana,” ajak Arnold kembali sambil menarik tangan Aurora agar mengikutinya ke ruang makan. Melihat itu, Gama merasa geram sendiri, ia mengepalkan tangan akan tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Ia mengikuti Arnold dan Aurora menuju ruang makan, di sana sudah ada kedua orang tuanya yang sedang menunggu. “Selamat pagi, Mah, Pah!” sapa Arnold pada kedua orang tuanya. “Pagi, Arnold, Aurora, silahkan duduk!” balas pak Danuarta dengan bibir tersenyum. “Arnold, kenapa kamu menggandeng tangan Aurora?” Bu Puspa menatap intens ke arah tangan Arnold yang sedang menggandeng Aurora. Sepertinya wanita paruh baya itu kurang menyukai jika Arnold terlalu dekat dengan Aurora. “Memangnya kenapa, Mah? Bukankah ini hal yang biasa?” Arnold bertanya dengan santai. “Biasa kamu bilang? Jangan terlalu dekat dengan perempuan, jika itu bukan calon istrimu,” balas bu Puspa dengan nada bicara yang terdengar sedikit ketus dan sorot mata sinis. Wanita paruh baya itu melirik ke arah Aurora yang membuat Aurora langsung menundukkan kepalanya. “Bagaimana jika aku menganggap Senja adalah calon istriku?” ucap Arnold yang membuat semua orang tercengang, termasuk Gama yang baru tiba di ruangan itu dan seketika menghentikan langkah setelah ia mendengar apa yang dikatakan Arnold barusan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD