Berdua di Kamar

1567 Words
Gama terkejut ketika mendengar ucapan Aurora tadi, ia menatap heran ke arah gadis itu. “Makin gak waras aja, udah mending sekarang lo ke kamar sana! Ngapain ngintilin gue ke sini?” usir Gama, pria itu malah semakin menganggap Aurora Gila. “Mas Gama ikh! Ngeselin banget, biasanya juga minta jatah sama aku,” gerutu Aurora yang keceplosan berkata seperti itu. “Minta jatah?” Seketika Gama mengerutkan keningnya. “Iya, kamu itu adalah suamiku, kamu selalu minta jatah sama aku setiap malam, kalau gak dikasih, kamu selalu uring-uringan dan gak bisa tidur,” cerocos Aurora, ia sudah terlanjur keceplosan, jadi ia lanjutkan saja, karena di sana juga tidak ada orang lain yang mendengar ucapannya selain Gama sendiri. “Mending sekarang lo tidur! Besok Papa bawa lo ke rumah sakit,” usir Gama lagi, pria itu memang susah ditaklukan. “Ya udah, aku ke kamar dulu! Tapi, kalau kamu mau jatah malam ini, aku siap kok ngasih.” Aurora mencolek dagu Gama, wanita itu tersenyum sambil mengedipkan matanya ke arah Gama yang masih menatap heran ke arahnya. “Kamu bisa apa? Paling juga gak enak.” Sepertinya Gama mulai terpancing. “Nyoba juga belum, udah bilang gak enak.” Aurora bersedekap d**a. “Gak yakin kalau kamu bisa ngasih aku yang enak.” Gama terdengar meremehkan. “Makanya coba dulu, ayok ikut aku ke kamar biar aman.” Aurora menarik tangan Gama, wanita itu semakin bertingkah Gila, Aurora merasa Gama adalah suaminya, jadi sah-sah saja jika mereka berduaan. “Eh, beneran gila ni cewek!” Gama terpaksa mengikuti langkah Aurora menuju kamar wanita itu yang terletak di lantai bawah. Saat ini, di rumah itu terlihat sepi, semua anggota keluarga sudah berada di kamar masing-masing dan mungkin sudah tidur. Hanya Gama dan Aurora yang belum tidur. “Ayo masuk, Mas!” Aurora membuka pintu kamarnya, ia kembali menarik tangan Gama agar mengikutinya masuk ke dalam kamar. “Beneran ini gue diajak ngamar?” Gama malah terlihat bingung. “Iya, kan katanya kamu mau nyoba. Ayo aku kasih.” Aurora mendorong Gama ke arah ranjang. Wanita itu tersenyum manis dengan langkah yang semakin mendekat. Sementara Gama malah mematung di tepi ranjang, wajahnya terlihat bingung. Ia menganggap Aurora Gila dan hanya terobsesi padanya, akan tetapi entah kenapa jiwanya malah merasa penasaran atas apa yang akan dilakukan wanita itu selanjutnya. Sebagai laki-laki normal, pikiran Gama tentu saja sudah kemana-mana, apalagi Aurora semakin mendekat padanya dengan sorot mata yang terlihat berbeda. “Kamu pake baju Kak Arnold ya?” tanya Gama secara tiba-tiba ketika ia memperhatikan kaos yang dikenakan Aurora, ia tahu itu adalah kaos kakaknya. “Kenapa? Kamu gak suka aku pake kaos ini, Mas? Baiklah, bagaimana kalau aku membukanya saja?” Aurora melangkah semakin mendekat, wanita itu memegang ujung kaos yang ia kenakan seolah akan membukanya. Gama semakin dibuat terkejut, wanita itu sangat nekat. Akan tetapi, ia semakin tak dapat menolak, terlebih lagi jarak mereka yang semakin dekat. Ia menatap wajah Aurora, semakin dekat, wajah wanita itu semakin terlihat cantik. Hidungnya mancung, alisnya cukup tebal, bulu matanya lentik, dan bibirnya sangat seksi. Gama memperhatikan wajah Aurora hampir tak berkedip. Ia baru menyadari kalau wanita itu sangat cantik dan manis. Pantas saja Arnold terus mendekat Aurora. “Kenapa, Mas? Kamu mulai tertarik padaku, hmmm?” Aurora menempelkan telapak tangannya pada d**a bidang Gama, wanita itu mendorong tubuh Gama dengan perlahan sampai terjatuh ke atas kasur empuk di kamar itu. Gama masih belum mengeluarkan sepatah katapun, pria itu malah terlihat pasrah. Apa mungkin Gama belum pernah sedekat ini dengan perempuan? Tapi, bukankah pria itu berpacaran dengan Kimberly, rasanya tidak mungkin jika mereka berpacaran biasa saja. Aurora ikut naik ke atas kasur, wanita itu membuka kedua pahanya dan mengapit kedua kaki Gama yang sedang terlentang di atas kasur. Pria itu menatap intens ke arah Aurora yang kini sedang berada di atasnya. “Aurora …” panggil Gama dengan suara yang mulai terdengar sensual. Sepertinya pria itu mulai terangsang dengan apa yang dilakukan oleh wanita yang semula ia anggap gila. Aurora tersenyum ketika mendengar Gama memanggilnya, ia langsung teringat beberapa adegan yang sering mereka lakukan di dalam kamar, ketika mereka telah menjadi pasangan suami istri. Hal tersebut pula yang membuat pikiran Aurora semakin liar dan ingin melakukan hal yang lebih dari itu. Aurora mendekatkan wajahnya ke arah Gama, beberapa senti lagi wajah keduanya beradu. Ada rindu begitu besar di salam d**a Aurora yang ingin ia salurkan malam ini. Jemari lentiknya menyentuh d**a Gama dengan lembut. Akan tetapi tiba-tiba saja …. “Senja, kamu sudah tidur?” ucap seseorang di depan pintu kamar itu. Mendengar itu, Aurora langsung menoleh ke arah pintu dengan wajah panik. Begitupun dengan Gama, mereka tahu betul itu adalah suara Arnold. Ternyata pria itu belum tidur, lalu apa tujuan Arnold malam-malam datang ke kamar Aurora. “Senja, bolehkah aku masuk?” ucap Arnold lagi yang membuat Aurora semakin terlihat panik. Terlebih lagi, pintu kamar itu sama sekali tidak dikunci, bisa bahaya jika Arnold tiba-tiba saja masuk. “Senja, aku masuk ya ….” Terlihat kenop pintu diputar dari luar, Aurora semakin panik, walau bagaimanapun, Arnold tidak boleh tahu apa yang sedang dilakukannya bersama dengan Gama. Cklek!!! Pintu kamar itu berhasil dibuka …. Bruk!!! Sebelum Arnold membuka pintu kamar itu secara lebar, ia mendorong tubuh Gama dengan kasar sampai membuat pria itu terjatuh dari atas ranjang. “Aduh …” keluh Gama yang akan bangkit dari atas lantai, akan tetapi ia mengurungkan niatnya ketika melihat langkah kaki Arnold telah masuk ke dalam kamar itu. Gama menggeser tubuhnya, ia masuk ke dalam kolong ranjang dengan perlahan. “Sial, dia mendorong aku kasar sekali, padahal tongkat saktiku sudah mau bangkit. Untung saja aku jatuhnya terlentang, jadi senjataku masih aman,” gumam Gama sendiri dengan suara yang sangat pelan, bahkan hanya terdengar oleh dirinya sendiri. Ia memperhatikan langkah kaki Arnold yang semakin mendekat ke arah Aurora yang kini telah berdiri di tepi ranjang. Entah kenapa, tiba-tiba saja Gama merasa panas sendiri ketika Arnold mendekat ke arah Aurora. Bagaimana jika mereka melakukan hal yang sama dengan apa yang tadi dilakukan oleh Aurora padanya. Gama ingin keluar dan menghampiri Arnold agar mereka tidak melakukan hal macam-macam. Akan tetapi ia merasa gengsi, jika ia melakukan itu, Aurora akan tahu kalau ia tak suka jika Arnold mendekatinya. “Senja, sepertinya tadi aku mendengar suara seseorang di sini,” ucap Arnold secara tiba-tiba. Refleks Aurora menoleh ke arah ranjang setelah ia mendengar pertanyaan Arnold barusan. Tapi, Aurora langsung membuang nafas lega karena Gama sama sekali tak terlihat, sepertinya pria itu benar-benar mengumpat. “Senja, ada apa?” tanya Arnold lagi yang cukup mengejutkan wanita itu. Aurora langsung menoleh ke arah Arnold yang berdiri di hadapannya. “Emmmm … nggak papa, itu tadi suaraku, Kak. Kebetulan tadi aku agak sedikit batuk, jadi suaraku terdengar besar. Ekhem ….” Aurora terbatuk di akhir kalimatnya. “Oh, suaramu. Aku kira ada orang lain di sini.” Arnold mengedepankan pandangannya ke sekeliling kamar itu yang membuat jantung Aurora kembali berdetak kencang, ia takut pria itu menyadari keberadaan Gama. “Sepertinya jendela kamarmu belum dikunci, Senja.” Tiba-tiba saja Arnold berjalan ke arah jendela kamar yang terletak di sebelah ranjang. Mendengar itu, Aurora semakin terlihat ketar-ketir. Ia langsung mengikuti langkah kaki Arnold. “Emmmm … Kak Arnold, gak papa biar aku yang tutup aja nanti, Kak,” ucap Aurora yang mencegah Arnold agar pria itu tidak menghentikan langkahnya. Bahkan, Aurora sampai berdiri di hadapan pria itu untuk menghentikan langkah Arnold. Mau tidak mau Arnold menghentikan langkahnya, meskipun tubuh pria itu hampir menabrak Aurora yang tiba-tiba saja berdiri di hadapannya. “Hey, aku hampir aja menabrakmu.” Arnold memegang kedua bahu Aurora. “Maaf, Kak, tapi aku gak mau merepotkan kamu. Biar aku aja nanti yang kunci. Oh iya, ada apa? Kenapa Kak Arnold memcariku? Aku kira Kakak udah tidur,” ucap Aurora dengan nada bicara yang terdengar lemah lembut. Wanita itu juga tersenyum manis sambil menatap Arnold. “Kenapa? Tidak boleh, hmmm?” Tiba-tiba saja Arnold memegang dagu Aurora yang membuat wanita itu langsung gemetar. Ia takut Arnold melakukan hal macam-macam padanya. Akan tetapi, ia tidak boleh melawannya dengan cara kasar, Aurora harus tetap bersikap lembut kepada pria itu. Bukan hanya Aurora yang merasa takut, Gama yang saat ini sedang berada di bawah ranjang pun ikut merasa penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Arnold. Pria itu mengintip dan berusaha melihat ke arah Arnold dan Aurora. Entah kenapa, tiba-tiba saja ia merasa geram ketika melihat kedua tangan Arnold memegang bahu Aurora. Walaupun Gama tidak dapat melihat keduanya dengan jelas, akan tetapi ia yakin saat ini Aurora dan Arnold sedang berdekatan. Gama tahu betul bagaimana kakaknya, Arnold tak sepolos apa yang Aurora lihat jika terhadap perempuan. Jadi, ketika Arnold mendekati Aurora, itu bukan berarti tanpa alasan yang tepat. “Bukan begitu, Kak. Tapi ….” “Tapi apa? Bagaimana kalau aku menginap saja di kamarmu?” tanya Arnold secara tiba-tiba. “Hah? Menginap di kamarku?” tanya Aurora refleks. “Iya, kita tidur bareng,” jawab Arnold ragu. Gama yang mendengar itu merasa terkejut sekaligus geram, ia mengepalkan tangannya seolah ingin menonjok wajah kakak tirinya itu. Tiba-tiba saja, Gama merasa hidungnya gatal, pria itu melihat ke atasnya, ternyata cukup banyak debu di bawah ranjang itu. Ia yang mempunyai riwayat alergi debu, tentu saja tidak bisa bertahan lama-lama di sana. Sementara Arnold menggerakkan tangannya, pria itu menyentuh kedua pipi Aurora dan …. “Haciwwwww ….” Terdengar suara bersin dari bawah ranjang yang membuat keduanya langsung menoleh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD