Istri Masa Depan

1082 Words
“Eh, iya Kak. Aku cuma kasian aja tadi liat Kak Gama keselek, jadi aku ambilkan air,” ucap Aurora yang langsung menjauh dari Gama. Ia mendekat ke arah Arnold dan duduk di samping pria itu, sebenarnya ada kursi kosong di sebelah Gama, akan tetapi Aurora lebih memilih untuk duduk di samping Arnold, karena ia tak ingin pria itu kembali merasa kesal padanya akibat ia terlalu dekat dengan Gama. Aurora ingin bersikap baik kepada Arnold, mungkin saja jika ia lebih dekat dengan pria itu, ia bisa menggagalkan rencana Arnold yang akan membunuh Gama di masa depan. Gama menoleh ke arah Aurora, bahkan pria itu menatap cukup lama. Akan tetapi ia tak berkata-kata lagi. Gama hanya menatap Aurora dengan bibir yang tertutup rapat, entah apa yang sedang ada di dalam pikirannya saat ini. Tapi, raut wajah Gama terlihat kesal ketika ia melihat Aurora dan Arnold begitu akrab. Mungkinkah ia mulai merasakan getaran berbeda di dalam hatinya? Bahkan, sampai makan malam usai, Gama tak mengeluarkan sepatah katapun, pria itu mendadak menjadi pendiam. “Papa sama Mama ke kamar dulu, selamat istirahat semua. Dan kamu juga Senja, istirahat ya. Pulihkan kondisi kamu,” ucap pak Danuarta kepada Aurora, pria paruh baya itu terlihat ramah. “Iya, Pah, terima kasih,” balas Aurora, akan tetapi ia langsung menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangan ketika ia keceplosan memanggil pria paruh baya itu dengan sebutan papa. “Kamu ingin memanggil papaku dengan panggilan Papa juga, Senja?” tanya Arnold sambil terkekeh. “Maaf, aku keceplosan,” jawab Aurora dengan wajah yang terlihat tegang. “Tidak apa-apa, kamu mau manggil saya Papa juga tidak apa-apa. Kebetulan saya tidak punya anak perempuan,” balas pak Danuarta sambil mengulas senyum lembut pada wajah teduhnya. “Terima kasih banyak, Pah.” Aurora benar-benar merasa terharu, pak Danuarta memang sebaik itu, namun sayangnya orang sebaik itu harus dipanggil terlebih dahulu oleh sang ilahi dan sejak meninggalnya pak Danuarta, perang saudara dimulai. Jika Aurora bisa, ia ingin meminta agar pak Danuarta diberikan umur yang lebih panjang lagi agar perang saudara antara Gama dan Arnold tidak terjadi. “Pah, jangan terlalu baik sama orang, apalagi orang yang baru kita kenal. Lebih baik sekarang kita istirahat ya, kamu juga Arnold, tidur sekarang, karena besok kamu harus kuliah,” ucap bu Puspa yang membuat mood Aurora langsung menurun. Ia tahu wanita paruh baya itu juga kurang baik, bahkan penyebab utama dari keserakahan Arnold di masa depan berasal dari ibunya sendiri dan ditambah lagi dengan wanita yang akan menjadi istri Arnold di masa depan. Aurora sempat berpikir, apa dia menikah saja dengan Arnold agar ia bisa menyelamatkan Gama? Akan tetapi, jika ia menikah dengan Arnold, bagaimana dengan Gama? Aurora sangat tidak rela jika Gama harus bersanding dengan wanita lain. “Iya, Mah. Senja, aku ke kamar dulu ya. Kamu juga langsung tidur,” ucap Arnold kepada Aurora. Pria itu terlihat sangat menurut kepada ibunya. “Iya, Kak,” balas Aurora sambil tersenyum. Setelah itu, bu Puspa mengajak pak Danuarta langsung menuju kamar mereka yang terletak di lantai bawah. Sementara Arnold menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya. Saat ini, disana hanya tersisa Gama dan Aurora. Entah dorongan dari mana, tiba-tiba saja keduanya saling beradu tatap. Aurora menoleh ke arah Gama dan Gama menoleh ke arah wanita itu. Keduanya terdiam sejenak, sorot mata Gama membuat Aurora sangat merindukan keharmonisan mereka setelah menjadi suami istri. Terbayang ketika Gama menggendong putra mereka dan membangunkannya karena ia kesiangan. Aurora sungguh sangat merindukan momen itu, namun percuma saja, karena Gama tidak akan mengetahui apapun tentang masa depan mereka. Aurora seperti sedang menghadapi orang yang sama, tapi dengan ingatan yang berbeda. Air matanya hampir menetes, akan tetapi tiba-tiba saja ia mendengar ucapan Gama yang membuat air matanya berhenti dan tak jatuh mengalir. “Kenapa lo?” celetuk Gama dengan nada bicara yang terdengar angkuh. “Nggak, aku gak papa. Kok kamu gak tidur?” Aurora mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia berpura-pura membuang muka, padahal ia sedang berusaha membendung air mata yang berusaha menerobos dinding kelopak matanya. Jujur saja ia merasa sakit ketika mendengar pertanyaan Gama barusan, karena setelah mereka menikah, Gama tidak pernah berbicara kasar padanya. Aurora juga sangat tidak menyukai jika Gama berbicara dengan nada yang lebih tinggi. “Suka-suka gue lah, mau tidur, mau nggak.” Setelah mengatakan itu, Gama berjalan ke arah ruang televisi, mungkin pria itu akan bermain games di sana. Karena Aurora tahu jelas kalau Gama suka bermain Games. Gama duduk di atas sofa, tapi tiba-tiba saja Aurora mengikutinya dan duduk di samping Gama tanpa permisi lagi. Pria itu langsung menoleh ke arahnya, Gama menatap Aurora dengan dahi mengerut. Namun, yang ditatap malah senyum-senyum sendiri sambil mengedipkan matanya beberapa kali. “Ngapain lo ikutan ke sini?” tanya Gama yang terdengar sinis. “Emang gak boleh? Orang cuma duduk doang juga,” balas Aurora dengan santai. “Ganggu orang aja.” Gama mengambil ponselnya dari dalam saku celana. “Wah, hp kamu bagus juga ya. Aku boleh pinjam gak buat foto-foto?” Dengan beraninya, Aurora mengambil ponsel tersebut dari tangan pria itu. Aurora membuka kamera dan melakukan selfie beberapa kali pada ponsel Gama. “Apa-apaan sih? Seenaknya aja ambil hp orang.” Gama akan merampas ponsel itu kembali dari tangan Aurora, akan tetapi wanita itu malah menahannya. Ia memegang tangan Gama dengan erat. “Ayo kita foto dulu.” Aurora kembali mengangkat ponsel Gama dan mengarahkan kamera pada wajah mereka. Dengan berani, Aurora menyandarkan kepala pada bahu Gama dan mengambil foto beberapa kali. “Ck … apaan sih? Pake nyender-nyender segala.” Gama menggerakkan tangannya agar Aurora menjauh. Akan tetapi, wanita itu malah semakin terlihat menggila, Aurora tak dapat menahan diri. Ia merasakan kehangatan dan rindunya sedikit terobati ketika berada di dekat Gama, meskipun sikap pria itu masih kurang baik padanya. “Sebenarnya lo ini siapa sih? Kok aneh banget.” Gama menatap heran ke arah Aurora. “Yakin kamu mau tahu siapa aku sebenarnya?” Aurora membalas tatapan pria itu. Sorot mata yang sama, akan tetapi memberikan rasa yang berbeda. Aurora berusaha memberi isyarat rasa lewat tatapan matanya kepada Gama, ia ingin pria itu merasakan sedikit saja getaran cinta padanya. “Iya siapa? Lo kan cuma adek tingkat gue di kampus, tapi kok kayak aneh aja.” Gama mengerutkan keningnya. Aurora tersenyum ketika melihat itu, ia menggerakkan tangannya dan menempelkan telapak tangan tepat di tengah-tengah d**a pria itu. “Aku adalah istri dari masa depanmu, bahkan aku tahu bagaimana gaya kesukaanmu ketika bermain s*x,” jawab Aurora dengan nada pelan akan tetapi masih terdengar jelas di telinga Gama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD