Aurora masih berada di rumah itu, bahkan ia disiapkan sebuah kamar yang terletak di lantai bawah.
Aurora masuk ke dalam kamar itu, ia tahu itu adalah kamar tamu.
Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang, tiba-tiba saja Aurora teringat Gama. Sedang apa pria itu di kamarnya?
“Ah, aku sangat merindukanmu, Mas, biasanya kamu ngisengin aku kalau kita lagi di kamar. Aku kangen banget sama kamu. Aku lagi berusaha menahan diri agar aku tidak mendatangi kamu ke kamar,” gumam Aurora sendiri.
Ia memeluk guling dan membayangkan kalau benda itu adalah Gama.
Namun, tiba-tiba saja pintu kamar itu diketuk dari luar yang membuat Aurora buru-buru bangkit dari atas ranjang.
Wanita itu turun dan dengan tergesa-gesa berjalan ke arah pintu.
Ia membayangkan kalau yang saat ini berada di depan pintu kamarnya itu adalah Gama.
Ia segera membuka pintu kamar tersebut dan ….
“Hai!” ucap Arnold yang kini sedang berdiri di hadapan Aurora.
Aurora sebenarnya merasa kesal kepada pria itu, tapi ia harus menahan diri agar tetap terlihat baik.
Karena berkat Arnold juga dirinya bisa ada di sana.
“Hai, ada apa, Kak?” tanya Aurora dengan sopan.
“Sorry ganggu kamu, aku cuma mau ngasih ini. Ini bajuku, barangkali kamu mau ganti pakaian. Disini gak ada anak perempuan, jadi gak ada yang bisa minjemin kamu baju,” ucap Arnold sambil menyodorkan dua buah kaos ke arah Aurora.
“Emmmm … makasih ya, Kak. Maaf merepotkan.” Aurora mengambil kaos itu dari tangan Arnold, mungkin ia bisa memanfaatkan Arnold untuk lebih dekat dengan Gama dan barangkali ia juga bisa menemukan jalan untuk ke depannya agar Arnold tidak jadi membunuh Gama.
“Sama-sama, kamu mandi aja dulu, nanti abis itu kita makan malam bareng,” ucap Arnold yang terdengar ramah, bahkan pria itu berbicara diiringi dengan senyuman.
Jika begini, siapa sangka pria itu di masa depan akan berubah menjadi iblis.
“Oke, Kak. Aku mandi dulu.” Aurora kembali masuk ke dalam kamarnya.
Ia akan membersihkan diri.
Sebenarnya Aurora merasa jijik jika ia harus memakai kaos milik Arnold, namun ia harus tetap memakainya agar Arnold merasa dihargai dan terus bersikap baik padanya.
Ketika mandi, Aurora memperhatikan tubuhnya sendiri, ini benar-benar tubuhnya ketika ia masih kuliah dan belum menikah.
Aurora kembali menjadi seorang gadis yang memiliki tubuh langsing.
“Aku masih perawan, semuanya masih kencang, aku belum disentuh Maa Gama, aku belum melahirkan Ganda,” gumam Aurora sendiri yang masih memperhatikan tubuhnya sendiri.
Setelah melahirkan Ganda, terkadang ia merindukan tubuhnya yang dulu, karena setelah melahirkan, ia mengalami perubahan pada tubuhnya. Terutama pada berat badan, karena setelah melahirkan Ganda, berat badannya naik cukup drastis yang membuatnya terkadang merasa kesal sendiri. Akan tetapi, Gama sama sekali tidak mempermasalahkan itu.
Di masa depan, Gama benar-benar menjadi suami yang baik untuk Aurora oleh karenanya, Aurora akan berjuang agar Arnold tidak dapat membunuh Gama.
Aurora menyelesaikan ritual mandinya sambil terus berpikir keras agar ia bisa menemukan jalan keluar untuk menggagalkan aksi buruk Arnold di masa depan. Ia tahu waktunya masih cukup lama, akan tetapi Aurora takut disaat hal itu terjadi ia masih belum memiliki rencana yang tepat.
Setelah selesai mandi dan berpakaian, Aurora keluar dari kamar, ia berharap bisa bertemu dengan Gama.
Dan benar saja, ketika ia akan menuju ruang tengah, ia melihat pria itu sedang menuruni anak tangga, ia tahu kamar Gama terletak di lantai dua.
Seketika bibir Aurora mengembangkan senyum, Gama terlihat sangat tampan, tubuhnya tinggi, kulitnya putih bersih, hidungnya mancung, alisnya tebal, serta bibirnya yang sedikit berisi terkesan seksi.
Pantas saja pria itu jadi incaran banyak wanita, karena selain tampan, Gama juga adalah anak dari orang kaya. Pria itu pantas bersanding dengan Kimberly yang merupakan anak dari orang kaya juga, selain itu, Kimberly juga cantik dan putih, akan tetapi, Aurora merasa tetap lebih cantik dirinya dan hanya ia yang lebih pantas untuk Gama.
“Mas Gama … Eh, Kak Gama,” panggil Aurora yang membuat pria itu langsung menoleh ke arahnya.
Namun, Gama tak mengatakan apapun, pria itu hanya menoleh sekilas ke arahnya, setelah itu, Gama melanjutkan langkah dan berjalan menuju ruang makan.
“Ih … sombong banget, kayak gak akan jadi suamiku aja,” gerutu Aurora sambil meremas jemari tangannya sendiri. Ia merasa kesal kepada pria itu, akan tetapi saat ini ia tidak bisa berbuat apa-apa, ngambek pun percuma, karena Gama tak akan peduli padanya.
“Senja, kamu udah selesai mandi?” tanya Arnold yang tiba-tiba saja muncul di samping Aurora. Wanita itu cukup terkejut, ia mengelus dadanya sendiri.
“Kenapa? Kaget ya?” tanya Arnold sambil terkekeh. Pria itu memang lebih ramah daripada Gama yang sombong kepada orang asing.
“I-iya, Kak.” Aurora tertawa pelan.
“Makan yuk, Papa sama Mama pasti udah nunggu di ruang makan,” ajak Arnold.
“Aku? Ikut makan?” Aurora menunjuk ke arah dirinya sendiri.
“Iya kamu, siapa lagi?” jawab Arnold dengan yakin.
Pria itu menatap ke arah Aurora dengan bibir tersenyum. Tatapan Arnold terlihat berbeda, entah mungkin itu hanya pikiran Aurora saja.
Tapi, jika pria itu menyukainya, justru lebih bagus, karena dengan begitu ia bisa memanfaatkan Arnold agar ia bisa lebih dekat dengan Gama dan ia juga bisa mencegah rencana jahat Arnold di masa depan.
“Aku beneran boleh ikut makan bareng keluarga Kakak?” tanya Aurora yang kini mulai memberanikan diri menatap ke arah wajah pria itu dan tersenyum manis.
Mulai sekarang, ia akan bersikap manis kepada Arnold.
Tidak ada salahnya juga ia mendekati pria itu, karena secara wajah dan tubuh, Arnold tak jauh berbeda dengan Gama.
Akan tetapi, Aurora harus tetap membatasi diri, walau bagaimanapun ia adalah istri Gama di masa depan.
“Ya boleh lah, Mama sama Papa aku memang selektif terhadap orang, apalagi jika memasukkan orang ke dalam rumah, tapi saat ini Mama sama Papa aman-aman aja. Mereka malah meminta kamu untuk menginap di sini. Itu artinya Mama sama Papa aku bisa menerima kamu,” jelas Arnold yang membuat Aurora merasa lebih tenang. Setidaknya dengan begitu ia bisa lebih sering datang ke rumah ini.
“Beneran, Kak?” Kedua mata Aurora terlihat berbinar.
“Iya beneran, kamu lihat kan gimana reaksi Papa aku sama pacarnya Gama? Papa langsung meminta Kim untuk pulang, itu karena Papa kurang menyukai Kim,” jelas Arnold lagi agar Aurora semakin yakin.
“Aku seneng banget dengernya,” balas wanita itu dengan bibir tersenyum merekah.
“Seneng denger sikap Papa aku sama Kim?” Arnold menatap dalam-dalam wajah Aurora.
Seketika senyum pada bibir gadis itu perlahan memudar, Aurora terkejut dengan pertanyaan Arnold.
“E-enggak, maksud aku bukan gitu. Emmm … aku seneng denger kalau Papa kamu menerima aku sebagai menantunya ….” Aurora langsung menutup mulut dengan telapak tangannya sendiri.
Ia malah kebablasan dalam berbicara.
Arnold membuka matanya lebar-lebar ketika mendengar ucapan Aurora barusan.
“Kamu mau menjadi menantu papaku?” Arnold mengangkat alisnya sebelah.
Aurora membalas dengan senyuman, di dalam hati wanita itu mengiyakan pertanyaan Arnold, akan tetapi bukan untuk menjadi istri pria itu, melainkan menjadi istri dari Gama.
“Biar nanti ku katakan pada papaku, ayo kita ke ruang makan sekarang!” Arnold menarik tangan Aurora menuju ruang makan, di sana sudah ada pak Danuarta, bu Puspa, dan juga Gama.
“Pah, Senja katanya mau menjadi menantu Papa,” ucap Arnold secara tiba-tiba setelah mereka tiba di ruang makan.
Seketika semua orang menoleh ke arah Arnold dan Aurora, termasuk Gama yang sedang mengunyah makanan dan langsung menghentikan kunyahannya setelah mendengar ucapan kakaknya barusan.
Sementara Aurora terdiam dengan kedua mata yang terbuka lebar, ia benar-benar tidak menyangka kalau Arnold akan berbicara seperti itu pada kedua orang tuanya.
Entah kenapa, tiba-tiba saja jantung Aurora berdebar kencang, ia takut Arnold akan menikahinya.
“Arnold, what are you say?” tanya bu Puspa dengan kedua mata yang menatap penuh interogasi ke arah putranya.
Dari raut wajah dan sorot matanya saja, Aurora sudah dapat membaca kalau wanita paruh baya itu tidak setuju jika putranya memilih Aurora.
“Aku kan cuma mengatakan kalau Senja mau menjadi mantunya Papa,” jawab Arnold dengan santai.
“Iya, jadi menantunya Papa itu artinya dia harus menjadi istri salah satu anaknya Papa, kamu atau Gama,” ucap bu Puspa yang membuat Gama seketika terbatuk.
Pria itu tersedak makanan yang belum sempat ia kunyah sampai halus, akan tetapi sudah ia telan.
“Ya ampun, Mas Gama, minum dulu!” Melihat itu, Aurora segera mendekat ke arah Gama dan menyodorkan segelas air minum.
Ia lupa kalau saat ini mereka sedang berada di masa lalu, jiwa Aurora sebagai istrinya Gama, langsung bergerak ketika melihat pria itu tersedak.
Gama menatap ke arah Aurora yang sedang berdiri di sampingnya sambil menyodorkan segelas air minum.
“Gak usah panggil gue Mas,” protes pria itu, akan tetapi ia mengambil segelas air minum yang tadi disodorkan Aurora padanya.
“Maaf, aku cuma refleks aja tadi,” balas Aurora seraya menundukkan kepalanya.
“Tapi, dilihat-lihat, kok kalian cocok ya,” celetuk pak Danuarta yang membuat Gama kembali tersedak.
Pria itu yang sedang meneguk segelas air, ia seakan tak bisa menelan air tersebut setelah mendengar ucapan papanya barusan.
“Mas, hati-hati, kamu kesedak terus.” Aurora mengambil tisu dan dengan sigap wanita itu mengelap sudut bibir serta dagu Gama yang basah oleh air yang sedang ia minum.
Pria itu terdiam ketika mendapat perlakuan lembut dari Aurora, ia menatap wanita itu yang dengan telaten mengusap sudut bibir serta dagunya.
Entah kenapa, Gama merasakan getaran yang berbeda di dalam hatinya.
Terlebih lagi, ketika ia melihat sorot mata Aurora yang seolah menggambarkan suatu hal besar dalam kehidupan.
“Senja, aku yang mengajakmu ke sini, jangan terlalu dekat dengan Gama,” celetuk Arnold yang sepertinya merasa tak suka Aurora dekat dengan Gama.