Menyusun Rencana

1628 Words
Semua orang yang melihat itu terkejut, termasuk Arnold yang hanya terdiam dengan kedua mata menatap heran ke arah Aurora. Tiada angin, tiada hujan, tiba-tiba saja Aurora menyiram Kimberly dengan segelas jus. “What? Apa-apa lo? Gila ni cewek, stres lo ya!” Kimberly langsung bangkit dari duduknya, gadis itu menunjuk ke arah Aurora dengan penuh amarah. “Sayang, lihat apa yang cewek ini lakukan! Dia menyiram wajahku dengan jus,” adu Kimberly kepada Gama yang masih diam tercengang. “Lo ngapain? Kenapa lo nyiram cewek gue pake jus?” sergah Gama yang ikut bangkit dari duduknya. Aurora semakin merasa dongkol ketika mendengar ucapan Gama barusan. “Aku cuma ngikutin kata otak,” jawab Aurora sambil meletakkan kembali gelas yang tadi ia pegang ke atas meja dengan cara kasar. Namun, di dalam hatinya ia tertawa puas ketika melihat wajah Kimberly yang dipenuhi oleh jus mangga. Ia menahan bibirnya agar tidak melepaskan tawa. “Sayang, muka aku perih banget,” adu Kimberly lagi kepada Gama agar ia bisa mendapat perhatian lebih dari pria itu. Gama akan mengambil tisu yang terletak di atas meja, namun dengan gerakkan cepat Aurora mengambil kotak tisu itu dan menyembunyikan di balik punggungnya. “Balikin tisunya! Stres lo ya!” Gama menatap heran ke arah gadis itu. “Ambil aja kalau bisa!” ucap Aurora dengan nada mengejek, tidak masalah ia dikatakan stres oleh Gama, yang penting ia bisa lebih dekat dengan pria itu. “Woy cewek gila! Ngapain sih lo ke sini dan tiba-tiba nyiram gue pake jus!” Kimberly kembali menunjuk kesal ke arah Aurora yang malah tersenyum penuh kemenangan. Ia merasa puas karena melihat gadis itu tersiksa. “Balikin tisunya! Siapa sih yang bawa lo ke sini?” Gama mendekat ke arah Aurora, ia akan mengambil kotak tisu yang disembunyikan di balik punggung gadis itu. “Aku ke sini sama dia!” Aurora menunjuk ke arah Arnold yang malah mematung di dekat pintu. “Kak, lo ngapain bawa dia ke sini? Ni cewek udah ganggu gue dari kampus,” protes Gama kepada Arnold. “Gama, kayaknya memang ada yang gak beres sama Senja, semenjak dia kena lemparan bola dari kamu, Senja jadi kayak kehilangan sebagian ingatannya. Jadi, aku bawa dia ke sini karena dia gak ingat jalan ke rumahnya, terus biar sekalian dia diperiksa sama dokter,” jelas Arnold yang membuat Gama mengacak rambutnya sendiri. Tak lama kemudian, terdengar suara derap kaki yang melangkah masuk ke dalam rumah itu. Mereka langsung menoleh ke arah pintu, terlihat dua orang paruh baya masuk ke dalam rumah itu dengan posisi sang wanita menggandeng lengan pria di sampingnya. Aurora masih ingat betul kalau itu adalah kedua mertuanya alias orang tua Gama dan Arnold. Aurora tersenyum, karena ia bisa melihat kedua orang itu lagi dalam keadaan sehat. Di masa depan, ayahnya Gama sudah meninggal dan disaat itu juga mulai terjadi peperangan antara Gama dan Arnold yang saling merebutkan kekuasaan. Padahal, mereka sudah diberi bagian masing-masing sebelum ayah dari Gama yang bernama Danuarta Domani meninggal dunia. Namun, karena keserakahannya, Arnold yang mendapat bagian lebih sedikit dari Gama, malah gelap mata sampai berani melakukan hal keji kepada saudaranya sendiri. Ada rasa bahagia yang Aurora rasakan saat ini, karena ia bisa melihat mertuanya kembali. Ia tahu pak Danuarta adalah sosok mertua yang baik baginya. Namun, sayangnya pria itu meninggal disaat anaknya dan Gama belum lahir. Aurora hampir meneteskan air mata ketika ia melihat pria paruh baya itu masih bisa berdiri tegak, tubuhnya terlihat gagah dan sehat. Ingin rasanya ia mendekat dan mencium punggung tangan papa mertuanya, namun ia sadar ini adalah masa lalu, semua orang akan semakin menganggapnya gila jika ia melakukan hal itu. “Selamat sore semuanya! Papa sama Mama pulang,” ucap pak Danuarta yang terkenal baik dan ramah. Sementara bu Puspa yang berjalan di sampingnya hanya tersenyum ke arah Arnold. “Tumben rame banget di rumah, eh ya ampun … Kim, apa yang terjadi? Kenapa wajahmu? ….” Pak Danuarta menatap heran ke arah Kimberly karena wajah gadis itu masih dilumuri jus mangga. “Pak, tadi Kimberly menumpahkan segelas jus, dia mau minum jus sambil tiduran, dan akhirnya jus itu tumpah mengenai wajahnya sendiri,” jelas Aurora yang membuat Kimberly dan Gama seketika menatap ke arahnya. Bahkan Arnold juga ikut menatap ke arah Aurora, ia merasa heran kenapa Aurora bisa berkata seperti itu? Akan tetapi, Arnold masih menganggap kalau ini semua akibat benturan bola pada kepala Aurora yang membuat gadis itu menjadi aneh seperti sekarang. “What? Lo jangan ngarang cerita ya!” Kimberly menunjuk kesal ke arah Aurora yang malah tersenyum tipis. Gama memperhatikan wajah Aurora yang malah terlihat santai, padahal ini pertama kalinya gadis itu datang ke rumahnya dan bertemu dengan orang tuanya, akan tetapi respon Aurora terlihat seperti orang yang sudah lama kenal. “Sudah … sudah … Kim, lebih baik sekarang bersihkan wajahmu dan pulang. Saya tidak mau orang tua kamu marah-marah lagi karena kamu kelamaan di sini,” ucap pak Danuarta, pria paruh baya itu mengusir Kimberly secara halus. Aurora tersenyum semrik ke arah Kimberly, ia benar-benar merasa jadi pemenang. “Iya, Om, aku ikut ke kamar mandi dulu.” Mau tidak mau Kimberly harus meninggalkan tempat itu, ia tahu papanya Gama kurang menyukai dirinya, karena ada persaingan bisnis diantara orang tuanya dan juga orang tua Gama. Melihat Kimberly meninggalkan ruangan itu, Gama mengikuti langkah kekasihnya yang kini berjalan ke arah belakang, Kimberly akan membersihkan wajahnya terlebih dahulu sebelum ia pulang. “Sayang, kamu mau langsung pulang?” tanya Gama yang membuntuti Kimberly dari belakang. “Iya, Papa kamu kurang menyukai keberadaanku,” jawab Kimberly dengan nada kesal. Ia segera mencuci wajahnya yang terasa lengket. “Maaf, Sayang, aku akan usahakan supaya Papa merestui hubungan kita,” ucap Gama meyakinkan. “Sebenarnya bukan cuma papamu aja yang gak setuju, orang tuaku juga gak setuju. Tapi, karena aku cinta sama kamu, makanya aku membantah mereka. Aku pulang dulu.” Kimberly terlihat kesal, gadis itu berjalan dengan cepat setelah ia selesai mencuci wajahnya. “Mau aku antar?” tawar Gama seraya mengikuti langkah gadis itu kembali. “Gak usah, aku bisa pulang sendiri!” Kimberly keluar dari rumah itu tanpa berpamitan lagi kepada siapapun, ia lebih memilih pulang dengan menaiki taksi saja. Gama hanya membuang nafas kasar, ia tahu Kimberly sedang ngambek padanya. Pria itu kembali ke ruangan tadi, sepertinya semua orang masih berada di sana. “Arnold, ini siapa? Sepertinya Papa baru pertama kali melihatnya,” ucap pak Danuarta sambil menunjuk ke arah Aurora. Gadis itu tersenyum manis, ia menatap pak Danuarta dengan wajah yang menunjukkan binar bahagia. “Arnold, ini bukan pacar kamu kan?” tanya bu Puspa sambil menatap ke arah putranya. Wanita paruh baya itu cukup selektif soal pasangan untuk putranya. Tapi itu hanya berlaku untuk Arnold yang memang anak kandungnya. Soal Gama, ia tidak pernah mengatur apapun kepada pemuda itu, apalagi tentang pasangan. “Emmm … bukan, Mah. Ini namanya Senja, dia adik tingkatku dan Gama di kampus. Tadi siang, Senja terkena lemparan bola dari Gama saat bermain basket sampai Senja pingsan. Dan sekarang … aku merasa sepertinya ada sedikit masalah dengan otaknya Senja,” jelas Arnold yang membuat pak Danuarta dan bu Puspa merasa terkejut. “Kak, jangan percaya, dia itu gadis gila,” celetuk Gama yang datang mendekat. Pria itu tidak membenarkan ucapan Arnold barusan. Aurora langsung menatap kesal ke arah Gama. ‘Awas ya kamu Maa Gama, berani-beraninya kamu bilang kayak gitu sama aku,’ gerutu Aurora di dalam batinnya. Ia meremas jemari tangannya sendiri, padahal ia sudah merasa gatal ingin meremas rambut Gama. “Aku gak gila, aku cuma sedikit lupa aja. Karena lemparan bola itu sangat kencang dan tepat mengenai kepalaku. Jadi, mungkin ada sedikit ingatanku yang geser,” jelas Aurora yang membuat pak Danuarta semakin merasa terkejut. “Gama … Gama … kamu ini ada-ada aja, gimana kalau dia sampai hilang ingatan? Rumah kamu dimana, Nak?” Pak Danuarta menatap ke arah Aurora. “Justru itu, Pah, Senja gak ingat alamat rumahnya, makanya aku bawa dia ke sini,” jawab Arnold. “Waduh … bahaya ini, kalau orang tuanya tahu, Gama bisa kena kasus. Ya sudah, karena ini sudah sore dan dokter Danu sedang di luar kota, kalian istirahat saja dulu. Papa juga capek, besok kita bawa anak ini ke rumah sakit. Semoga saja orang tuanya tidak sampai melapor ke polisi,” tutur pak Danuarta yang merasa khawatir. “Emmm … kebetulan saya yatim piatu, Pak,” celetuk Aurora yang membuat semua orang tercengang. “Terus, kamu tinggal sama siapa?” tanya pak Danuarta lagi. Sementara bu Puspa lebih banyak diam, sepertinya wanita paruh baya itu juga tidak terlalu peduli. Aurora terdiam sejenak, wanita itu terlihat berpikir. Ia masih ingat jelas kedua orang tuanya meninggal ketika ia masih SMA dan ia hanya tinggal bersama dengan kakak laki-lakinya. Aurora pikir, kakaknya tidak akan mencarinya. Karena terkadang kakaknya juga tidak pulang ke rumah karena sibuk bekerja. Jadi, ini kesempatan ia untuk tetap berada di rumah itu agar ia bisa lebih dekat dengan Gama. Selain itu, ia juga bisa sekaligus mengumpulkan rencana untuk beberapa tahun ke depan agar Arnold tidak bisa membunuh Gama. “Aku tinggal sama kakakku, tapi kakakku jarang pulang karena sibuk bekerja, kadang juga ke luar kota,” jawab Aurora. “Hmmm … ya sudah, kamu disini saja dulu sampai keadaan kamu membaik, saya takut kamu malah pergi tidak jelas karena tidak tahu arah pulang. Nanti biar ART siapkan kamar untuk kamu,” tutur pak Danuarta yang membuat Aurora merasa semakin menang. Dalam hatinya ia sedang jingkrak-jingkrak. “Pah, kenapa dia malah diizinin untuk tetap di sini?” protes Gama. Aurora langsung melempar tatapan sinis pada pria itu. ‘Sekarang kamu ngomong kayak gitu, Mas. Padahal di masa depan kamu bucin banget sama aku. Kamu selalu uring-uringan kalau aku gak kasih kamu jatah di ranjang,’ gumam Aurora dalam benaknya, ia merasa kesal sekaligus merindukan suaminya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD