Cemburu

1632 Words
Seketika Aurora terdiam, hatinya terasa sakit setelah ia mendengar ucapan Gama barusan. Walaupun ia tahu ini adalah masa lalu dimana ia dan Gama belum menjalin hubungan, apalagi pernikahan. Akan tetapi hatinya tetap saja merasa sakit ketika melihat Gama bersama dengan Kimberly, apalagi pria itu sempat mengatakan dirinya mahasiswi stres. Kimberly menggandeng tangan Gama dan mengajak pria itu untuk melanjutkan langkah, mereka berjalan sejajar dan menuju motor. Kimberly dan Gama naik ke atas motor gede dan melaju keluar dari kampus. “Mas Gama … Tuhan kenapa jadi begini? Kapan aku bisa kembali ke masa depan? Aku kangen Mas Gama, aku kangen Ganda. Sekarang mereka lagi ngapain? Apa Ganda sebenarnya belum lahir? Apa dia masih ada di perutku? Tapi aku belum hamil? Apa aku juga masih perawan?” ucap Aurora sendiri sambil memperhatikan perutnya yang terlihat rata. Ini persis tubuhnya ketika ia masih gadis dan belum menikah dengan Gama. Aurora menangis sendiri, ia masih berdiri di tempat semula. Ia ingin kembali ke masa depan, namun ia tidak tahu caranya. Aurora jadi teringat hal menyeramkan yang ia lihat soal Gama. Ia takut hal buruk itu benar-benar terjadi, mungkinkah tujuan ia kembali ke masa lalu adalah untuk menggagalkan rencana pembunuhan terhadap Gama? Aurora menyeka air matanya dengan cepat, seketika dadanya bergemuruh. Namun, kali ini bukan karena ia merasa cemburu melihat Gama bersama dengan Kimberly. Melainkan karena dendam yang mulai membara di jiwanya. Dendam kepada seseorang yang akan membunuh Gama di masa depan. Aurora tahu kejadian itu masih beberapa tahun lagi, akan tetapi ia harus mencari cara agar hal tersebut tidak benar-benar terjadi. “Hai, belum pulang?” Suara itu cukup mengejutkan Aurora, ia langsung menoleh ke arah seseorang yang kini sudah berdiri di sampingnya. Aurora semakin terkejut setelah melihat wajah pria itu. Arnold sedang menatapnya dengan bibir tersenyum. Wajah Aurora terlihat panik, entah kenapa setiap melihat pria itu, ia merasa ketakutan yang luar biasa. Namun, Aurora harus bisa mengendalikan diri agar ia bisa melawan apa yang akan terjadi di masa depan. “Kenapa? Kok muka kamu kayak orang takut gitu? Santai saja, aku ini bukan Kakak tingkat yang jahat kok.” Arnold kembali tersenyum. Pria itu terlihat lebih ramah daripada Gama. Namun, di balik itu semua Aurora sudah mengetahui ada akal busuk yang akan meracuni pikiran Arnold. Aurora berusaha menenangkan diri, ia harus bermain secara halus. “Emmm … i-iya, Kak. Sorry, aku lagi nyari motorku,” ucap Aurora sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia merasa bingung sendiri, sampai saat ini ia masih belum ingat apakah ia datang ke kampus membawa motor atau tidak. Ah, rasanya memori di kepala Aurora sedang berpindah-pindah tempat antara masa lalu, masa sakarang, dan masa depan. Empat tahun yang lalu bukanlah masa yang sebentar, ia membutuhkan banyak waktu untuk mengingat semuanya. Tidak mungkin juga Aurora mengingat semua kejadian hari ini. “Motor kamu yang mana? Disini tinggal tersisa tiga motor lagi, yang itu motorku, berarti salah satu dari dua motor itu adalah motormu.” Arnold menunjuk ke arah tiga motor yang masih berada di sana. “Emmm … sepertinya yang itu deh!” Aurora menunjuk ke arah dua motor matic yang terparkir bersebelahan. “Sepertinya? Kamu lupa motormu yang mana?” Arnold menatap gadis itu dengan dahi mengerut. “E-enggak, motorku yang itu … iya, yang itu ….” Dengan penuh percaya diri, Aurora berjalan ke arah sebuah motor. Namun, belum juga langkah kakinya tiba di samping motor tersebut, ada dua orang yang datang secara bersamaan. Mereka menaiki motor masing-masing, dan salah satunya adalah motor yang akan Aurora tuju. Kedua mahasiswi itu langsung membawa motor tersebut keluar dari kampus. Aurora terdiam dengan tangan yang perlahan ia turunkan, padahal tadi ia sudah hampir memegang stang motor tersebut. “Kenapa? Itu bukan motormu kan?” Arnold berjalan menghampiri Aurora yang berdiri mematung. Gadis itu menoleh ke arah Arnold dengan wajah yang terlihat memerah, ia merasa malu atas tingkahnya sendiri. Aurora hanya tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Hehehe … aku lupa, sepertinya aku gak bawa motor ke kampus.” Aurora tersenyum tipis, ia merasa malu sendiri. “Hmmm … sepertinya gara-gara terkena lemparan bola dari Gama, sebagian ingatanmu hilang. Seharusnya Gama yang bertanggung jawab, tapi tidak apa-apa. Aku sebagai kakaknya Gama, akan menggantikan dia. Aku antar kamu pulang, yang itu motorku, ayok!” Arnold mengajak Aurora untuk berjalan ke arah motornya. Di sana hanya tersisa motor itu satu yang menandakan kalau semua mahasiswa sudah meninggalkan kampus. “Senja, ayok!” ajak Arnold yang kini telah naik ke atas motornya. “Nggak, aku gak mau pulang sama kamu, kamu itu ….” Seketika Aurora menghentikan ucapannya setelah ia menyadari kalau saat ini ia sedang berada di masa lalu. Hampir saja ia keceplosan menyebut Arnold adalah pembunuh. Gadis itu menggigit ujung jarinya sendiri. “Kamu kenapa? Apa ada yang salah denganku? Aku cuma mau nganterin kamu pulang. Kampus udah sepi, sebentar lagi hujan turun, aku cuma mau ngantar kamu pulang,” jelas Arnold dengan mata yang menatap heran ke arah Aurora. “Emmm … baiklah, maaf tadi aku tiba-tiba ingat drama yang semalam aku tonton, jadi terbawa suasana deh,” ucap Aurora sambil berjalan ke arah Arnold. “Nanti setelah sampai rumah, kamu kompres kepalamu ya, biar gak demam,” ucap Arnold ketika Aurora naik ke atas motornya. “Aku baik-baik aja kok,” balas gadis itu yang kini telah duduk di belakang Arnold. “Tapi sepertinya ada sedikit masalah pada jaringan ingatanmu. Apa mau sekalian diperiksa dulu? Biar aku antar kamu ke rumah sakit,” tawar Arnold sambil menjalankan motornya keluar dari kampus. “Nggak usah, aku baik-baik aja kok,” tolak Aurora dengan cepat. Ia memperhatikan punggung Arnold yang sedang membawa motor, Aurora menjaga jarak agar punggung Arnold tidak menempel pada dadanya. Bahkan ia sampai memindahkan tasnya ke tengah-tengah sebagai pembatas antara ia dan Arnold. Jika mengingat apa yang akan pria itu lakukan di masa depan kepada Gama, ingin rasanya Aurora menghantam punggung Arnold sampai pria itu mati. Namun, Aurora harus mencari cara lebih halus, agar apa yang ia lakukan juga tidak membahayakan dirinya. “Rumahmu dimana? Belok atau lurus?” Arnold bertanya ketika mereka sudah berada di tengah perjalanan. Aurora terdiam ketika mendengar pertanyaan pria itu. Ia berusaha mengingat jalan rumahnya dulu, karena yang ia ingat hanyalah jalan menuju rumah yang ia tempati bersama dengan Gama. “Kita kemana ini?” tanya Arnold lagi yang merasa bingung, karena tidak ada jawaban dari Aurora. “Aku lupa,” jawab gadis itu jujur. “Lah, terus kita kemana? Masa kamu lupa jalan ke rumahmu sendiri? Ini sebentar lagi hujan loh, udah mulai gerimis, kita harus sampai sebelum hujan turun,” ucap Arnold yang membuat Aurora semakin merasa bingung, sepertinya ia membutuhkan waktu untuk mengingat jalan menuju rumahnya. Karena jalan saat ini dan jalan di masa depan, ada perbedaan, mulai dari bangunan dan juga suasana. Terlebih lagi, ketika ia telah menikah dengan Gama, rumahnya yang dulu sudah dijual, karena kakaknya yang dulu tinggal bersamanya sudah pindah kota. Jadi, di masa depan Aurora sudah tidak pernah datang ke rumah itu lagi. “Aku ikut sama kamu aja,” jawab Aurora setelah ia berusaha mengingat-ingat jalan, tapi ingatannya belum terkumpul semua dan entah ide dari mana ia malah meminta untuk ikut bersama dengan Arnold saja. Padahal, ia tahu pria itu adalah orang jahat yang akan membunuh suaminya. “What? Ikut sama aku? Ke rumahku?” tanya Arnold. “Iya, gak papa, daripada kehujanan,” jawab Aurora. Ada baiknya juga ia ikut bersama dengan Arnold, karena pria itu adalah kakaknya Gama, jadi kemungkinan besar jika ia ikut ke rumah Arnold, ia akan bertemu dengan Gama. Meskipun Aurora tahu saat ini Gama bersikap biasa saja bahkan sangat cuek padanya, akan tetapi setidaknya ia bisa mengobati rasa rindunya pada pria itu. “Ya sudah, biar sekalian nanti aku minta dokter buat meriksa kondisi kamu di rumah. Sepertinya kamu sedang tidak baik-baik saja.” Arnold menjalankan motor itu ke arah rumahnya. Aurora tahu keluarga Arnold dan Gama memiliki dokter pribadi yang bisa datang kapan saja ke rumah. Benar saja, Arnold membawa Aurora ke rumahnya. Pria itu menghentikan roda dua tersebut di halaman rumah mewah yang berukuran luas. Aurora segera turun, ia mengamati rumah tersebut, bangunannya masih sama dengan rumah di masa depan. Hanya saja ada sedikit perubedaan di bagian warna dan pohon yang tumbuh di halaman rumah itu. “Ayo masuk! Ini rumahku,” ajak Arnold dengan ramah. Aurora melihat ada sebuah motor yang juga terparkir di sana, ia tahu itu adalah motor Gama. Dengan penuh semangat, Aurora mengikuti Arnold masuk ke dalam rumah tersebut. Ia sudah tak sabar ingin bertemu dengan Gama. Ia mengamati sekeliling, ada beberapa adegan di masa depan yang ia ingat di rumah itu. Terlebih lagi adegan ketika ia dan Gama sudah menikah dan ia dibawa ke rumah itu sebagai istrinya Gama. Hal tersebut membuat bibir Aurora mengembangkan senyum. “Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?” tanya Arnold secara tiba-tiba yang membuat Aurora cukup terkejut. “Eh, nggak papa, aku cuma kagum aja sama rumah kamu, bagus banget,” elak Aurora. “Biasa aja, ini rumah orang tuaku, ya walaupun mungkin nanti akan menjadi milikku,” ucap Arnold yang membuat detak jantung Aurora seketika berdegup kencang. Ia langsung teringat adegan tragis itu. “Ayo masuk, jangan bengong aja!” Arnold menarik tangan Aurora agar ikut masuk ke dalam rumahnya. Sorot mata Aurora langsung tertuju ke arah ruang televisi, di sana ia melihat dua orang yang sedang duduk sambil menonton televisi. Namun, cara duduknya membuat darah Aurora langsung mendidih. Ia melihat Kimberly sedang duduk santai sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Gama. Aurora yang melihat itu, tak dapat menahan diri, ia berjalan dengan cepat ke arah ruang televisi. Dan dengan gerakkan cepat Aurora mengambil segelas jus yang terletak di atas meja. Byur!!! Tanpa basa-basi, Aurora menyiramkan jus tersebut pada wajah Kimberly yang sedang duduk santai di samping Gama sambil menyandarkan kepalanya pada bahu pria itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD