122

1015 Words

“Baiklah... Ayo kita habiskan...” Dipta berucap cukup lirih. Ia mulai mengangkat garpu dihadapannya. Menyendok mie di dalam mangkuk dengan alat serupa garukan ditangan laki-laki itu. “Kiamat udah deket Dip…” ujarnya memelas. Benar kata Ariana. Ia harus memakan makanannya. Menyiapkan energi sebanyak mungkin. Siapa tahu ini adalah momen terakhir ia dapat menatap wajah cantik sang istri. Dipta mengunyah mie dalam mulutnya. Ia menatap pintu kamar Arsa yang tertutup rapat. "Bener-bener adek durhaka lo, Yol!" Laki-laki itu berdecak. Bisa-bisanya Arsa bahkan tak keluar untuk sekedar menemani dirinya yang berada di antara hidup dan mati. "Nggak bisa diharepin." Desah Dipta sebelum kembali memasukkan mie ke dalam mulut. "Huaaah… Kenapa enak banget. Beda sama buatan Dira di rumah." Dipta sam

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD