Bab 3 Serius Naksir

882 Words
Hujan masih turun ketika mobil di belakang mereka mulai membunyikan klakson panjang. Lucas akhirnya menginjak pedal gas. Mobil bergerak perlahan menembus lampu hijau yang sudah lama menyala. Ia belum menjawab. Rahangnya menegang. Tatapannya lurus ke depan, terlalu fokus pada jalan yang basah. “Sisil,” ucapnya akhirnya, suara rendah dan terkendali. “Kalian baru saja putus.” “Aku tahu.” “Aku juga paman mantanmu.” Sisil mengangguk lagi. “Itu aku juga tahu.” “Ini bukan permainan.” Ada sesuatu dalam nada Lucas yang membuat udara di dalam mobil terasa lebih berat. Sisil tersenyum kecil, tapi bukan senyum bercanda. “Aku nggak main-main, Om.” Lucas akhirnya menoleh. Tatapan mereka bertemu. Untuk pertama kalinya, Sisil melihat jelas, bukan penolakan di mata pria itu, melainkan pengendalian diri. Terlalu kuat dan sadar batas. Lucas menghela napas panjang. “Kamu lagi emosi. Jangan bikin keputusan gegabah cuma karena sakit hati. Balas dendam ke Kristian dengan cara ini nggak akan...” “Aku nggak balas dendam.” Sisil memotongnya pelan. “Aku serius naksir, Om.” Keheningan langsung turun. Kening Lucas mengernyit. “Kamu apa?” “Aku naksir Om.” Nada Sisil tetap ringan, tapi tatapannya tidak main-main. Lucas menatapnya lama, seperti mencoba membaca apakah ini sekadar remaja yang patah hati atau perempuan yang benar-benar tahu apa yang ia mau. “Kalau Om nggak percaya…” Sisil memiringkan kepala sedikit. “Aku bisa buktiin.” “Dengan cara apa?” “Om maunya bukti apa?” Sudut bibir Lucas bergerak tipis, hampir tak terlihat. Ia menahan diri untuk tidak tersenyum. “Sisil,” bisiknya pelan, lebih seperti peringatan, “jangan goda aku.” Jantung Sisil berdegup keras. “Nanti kamu nyesel.” Ancaman itu tidak terdengar seperti penolakan. Itu terdengar seperti pria yang takut pada dirinya sendiri. Hujan makin deras. Wiper bergerak cepat, seolah menyingkirkan sesuatu yang tak ingin mereka lihat terlalu jelas. “Aku wanita yang bertanggung jawab, kok,” gumam Sisil. Lucas menggeleng tipis. “Jangan bahas ini sekarang. Kamu lagi rapuh. Aku nggak mau dicap mengambil keuntungan.” Kalimat itu membuat Sisil terdiam. Bukan karena ditolak melainkan karena merasa dihargai. Mobil berhenti di depan kontrakannya. Lucas mematikan mesin, lalu meraih sesuatu dari kursi belakang dan menyerahkannya. “Ini buat kamu.” Sisil menerima bungkusan cokelat itu. “Apa ini?” “Bawa aja. Kamu pasti butuh.” "Makasih, Om." Sisil turun dari mobil. Hujan mulai mereda. Mobil Lucas menjauh tanpa banyak kata. Ia membuka bungkusan itu di teras. Obat demam, handuk kecil dan termometer digital. Beberapa kotak makanan hangat. Sisil tersenyum lebar. “Dasar om-om cenayang…” Ia masuk ke dalam kontrakan sambil bersiul kecil. Dhea baru keluar dari kamar mandi dengan rambut masih setengah basah ketika Sisil masuk. “Ciee… yang diantar pulang Darling.” Sisil meletakkan bungkusan di meja. “Darling apaan? Gue barusan putus.” Dhea berhenti mengeringkan rambut. “Hah? Putus? Terus muka lo kenapa cerah banget?” “Karena gue lega.” Dhea mendekat, matanya membesar. “Jangan bilang lo mutusin dia?” “Dia duluan selingkuh.” Sisil membuka salah satu kotak makanan. “Tadi pas gue mau ngasih kejutan, dia lagi belajar biologi sama sekretarisnya.” Dhea terdiam dua detik. “Lo nggak jambak tuh sekretarisnya?” “Kagak. Gue cuma bilang putus.” “Bego,” gumam Dhea, tapi nadanya lebih kagum daripada marah. Sisil menyengir. “Terus ini dari siapa?” Dhea menunjuk bungkusan. “Om Lucas.” Dhea langsung duduk. “Oke. Cerita.” Sisil menceritakan semuanya mulai dari hujan, mobil, sampai pengakuannya. Dhea menatapnya lama setelah cerita selesai. “Jadi… lo baru putus lima menit dan langsung nembak pamannya?” Sisil berpikir sebentar. “Kalau dirangkum gitu sih terdengar brutal, ya.” “Brutal banget.” Sisil tertawa kecil. “Tapi gue udah lama ngerasa dia selalu ada.” Dhea menyilangkan tangan. “Ya iyalah dia selalu ada. Dia literally selalu ada.” Sisil terdiam sejenak. “Dia tadi nolak?” tanya Dhea. “Dia bilang gue lagi rapuh.” Dhea mengangguk pelan. “Itu bukan nolak. Itu nahan diri.” Sisil mengangkat alis. “Bedanya?” “Kalau nolak, dia bakal bilang nggak. Kalau nahan diri, artinya dia takut.” “Takut kenapa?” “Takut dia juga ngerasa perasaan yang sama.” Hening sebentar. Sisil menatap makanan di tangannya. “Tapi dia mandang gue kayak anak kecil yang harus dikasih makan,” gumamnya. Dhea mendengus. “Dia ketipu sama muka polos lo aja. Padahal lo perempuan dewasa siap dibuahi karena berani nembak om-om.” “Bahasa lo tolong dijaga,” protes Sisil. Dhea terkikik. “Jadi sekarang rencana lo apa?” Sisil berpikir. Ia teringat tatapan Lucas di mobil. Tatapan yang bukan kosong melainkan yang terlalu sadar batas. “Nggak nyerah,” ucapnya mantap. Dhea menyeringai. “Berarti PDKT.” “PDKT?” “Ya. Masa habis putus langsung jadian lagi? Pelan-pelan. Bikin dia sadar lo bukan bocah.” Sisil mengangguk pelan. Masuk akal. Senyum kecil mulai muncul di wajahnya. “Berarti gue harus bikin dia berhenti nganggap gue anak kecil, ya?” Dhea menunjuknya dengan sumpit. “Exactly.” Sisil bersandar di sofa. Kepalanya kini mulai penuh dengan ide. Kalau Lucas takut melangkah, maka dia yang akan maju duluan. Kali ini, bukan karena pelarian melainkan karena memang hatinya memilih Lucas sebagai pujaan hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD