Tiga hari setelah putus, Sisil berdiri di depan cermin kamar kontrakannya. Dua hari terakhir ia pakai untuk berpikir dengan kepala dingin. Kristian tidak menghubunginya. Lucas juga menghilang seperti sengaja memberi jarak.
Kalau dia menunggu terus, bisa-bisa sampai tua tidak akan ada kemajuan tentang PDKT yang Dhea sarankan.
“Kalau dia nggak mau mendekat,” gumam Sisil pada bayangannya sendiri, “berarti gue yang maju.”
Hari ini Plan A dijalankan oelhnya. Blouse putih sederhana. Rok selutut yang manis tapi tetap dewasa. Rambut digerai rapi. Makeup tipis dan natural, tapi cukup membuat bibirnya terlihat lebih penuh.
Ia tersenyum pada cermin.
“Ini bukan mau ketemu mantan,” bisiknya. “Ini mau ketemu gebetan.”
Satu jam kemudian, ia sudah berdiri di depan mansion keluarga Kristian.
Gerbang terbuka seperti biasa. Para pelayan masih menyapanya dengan hormat. Sepertinya kabar putus belum menyebar.
Yang membuatnya lebih semangat adalah mobil hitam yang terparkir di halaman. Lucas ada di rumah.
Bagus. Hatinya bersorak gembira.
Ia melangkah masuk dengan ringan. Namun yang pertama kali ia lihat justru Kristian, duduk santai di ruang keluarga sambil memainkan ponsel.
Wajah pria itu berubah saat melihatnya.
“Sisil?” Ia berdiri cepat. “Lo datang?”
Sisil tersenyum manis. “Mampir bentar.”
Kristian mendekat dengan percaya diri yang masih sama seperti dulu. “Gue tahu. Lo pasti kangen.”
Sisil hampir tertawa.
Kangen? Mimpi.
“Gue cuma mau ambil barang yang ketinggalan,” jawabnya santai.
Wajah Kristian sedikit kaku. “Barang apa? Gue ambilin, tapi kita bisa ngobrol dulu, kan?”
Sisil mengangguk asal. Tatapannya menyapu ruangan lalu ia melihatnya.
Di tangga lantai dua. Lucas berdiri diam dan memperhatikan.
Tatapan mereka bertemu. Jantung Sisil berdebar.
“Om,” sapa Sisil ceria, sedikit lebih keras dari yang diduga.
Kristian menoleh. “Oh. Paman.”
Lucas turun perlahan. Hari ini ia memakai kemeja hitam polos dengan lengan sedikit digulung. Sederhana. Entah kenapa auranya terasa lebih berat.
"Kamu ke sini sendirian?” tanyanya pada Sisil.
“Iya.”
“Naik apa?”
“Mobilku, Om.”
Alis Lucas sedikit berkerut.
“Kenapa nggak naik taksi?”
Kristian tertawa kecil. “Paman, dia bukan anak kecil.”
Sisil menatap Kristian sekilas, lalu kembali pada Lucas.
“Kalau lain kali aku ke sini naik taksi…” ia tersenyum kecil, “…Om anterin aku pulang ya?”
Lucas menatapnya beberapa detik.
“Nanti aku antar kalau kamu naik taksi ke sini.”
Nada itu tenang tapi tegas.
Kristian mulai terlihat tidak nyaman karena obrolan mantan dan pamannya itu.
“Barang lo yang ketinggalan apa, Sil?” tanyanya cepat, mencoba mengambil alih suasana.
Sisil hampir kehabisan ide.
“Tas merah, kan?” Lucas tiba-tiba menyela.
Sisil mengangguk cepat. “Iya.”
“Ada di kamarku. Tunggu sebentar.”
Lucas berbalik pergi. Kristian memandangi interaksi itu dengan dahi berkerut.
“Kamu masih marah?” tanyanya pelan.
Sisil menoleh. “Menurut lo?”
“Kita bisa perbaiki.”
Sisil tersenyum tipis. “Kita nggak rusak, Kristian. Kita memang nggak cocok.”
“Itu cuma khilaf.”
“Karena ketahuan?”
Kristian terdiam lalu berusaha meyakinkannya.
"Sumpah, Sil, gue..."
“Nggak usah bersumpah,” potong Sisil santai. “Nanti lo kesambar petir.”
Kristian langsung menutup mulutnya.
Tak lama, Lucas kembali dengan sebuah tas.
Sisil menerimanya. Tas itu jelas baru.
“Makasih, Om.”
“Sama-sama.”
Tatapan Kristian makin tajam dan wajahnya ditekuk.
“Kalau sudah selesai, ya udah balik sana,” katanya ketus.
Sisil tersenyum manis. “Bye, Mantan.”
Ia berbalik dan berjalan keluar.
Baru saja hendak membuka pintu mobilnya, suara berat terdengar di belakangnya.
“Aku numpang.”
Sisil menoleh kaget. “Numpang?”
“Antar aku ke rumah sakit.”
Lucas sudah mengambil kunci mobil dari tangannya. “Aku yang nyetir.”
Perjalanan berlangsung hening. Sisil diam, tapi sesekali melirik Lucas dari sudut mata.
“Aku bisa luntur kalau diliatin terus,” tegur Lucas tanpa menoleh.
Sisil langsung menunduk, pipinya memanas. “Ketahuan?”
“Jelas.”
Beberapa menit berlalu sebelum Sisil membuka tas yang tadi diberikan.
“Om… ini tas baru?”
“Iya.”
“Buat aku?”
“Iya.”
Sisil tersenyum lebar. “Ini mahal.”
“Nggak.”
“Tapi mereknya—”
“Nggak mahal, Sil.” Lucas memotong cepat.
Sisil memeluk tas itu erat-erat sambil menahan agar tidak tertawa.
Tiba-tiba Lucas berkata, “Kamu nggak perlu datang ke rumah Kristian lagi.”
“Kenapa?”
“Tidak perlu.”
Sisil menoleh, menahan senyum. “Om cemburu?”
Lucas langsung menatapnya tajam.
“Jangan sembarang ngomong.”
“Aku cuma nanya.”
Sisil menyandarkan tubuhnya santai.
“Lagipula aku ke sana bukan buat Kristian.”
Tangan Lucas di setir sedikit mengeras.
“Aku ke sana karena Om ada di sana.”
Mobil sedikit tersentak sebelum kembali stabil.
“Sisil.” Nada suaranya lebih rendah sekarang. "Kamu lagi ngapain sebenarnya?”
Sisil tersenyum kecil.
“Bukannya jelas? Aku lagi PDKT.”
Lucas menghela napas panjang.
“Kamu pikir ini lucu?”
“Enggak.”
Ia menatap pria itu serius.
“Aku serius, Om.”
Hening beberapa detik.
“Jangan main-main sama perasaanku, Sil.”
Kalimat itu terdengar lebih seperti permintaan daripada ancaman.
Sisil mendekat sedikit, cukup untuk membuat jarak mereka terasa berbeda.
“Om boleh ragu,” bisiknya lembut, “tapi dilarang nggak percaya.”
Lucas menelan ludah.
“Karena aku bakal terus ganggu Om…” lanjutnya santai tapi pasti, “…sampai Om nggak bisa pura-pura biasa lagi.”
Mobil berhenti di depan rumah sakit. Lucas tidak langsung turun.
Untuk beberapa detik, ia hanya menatap lurus ke depan lalu sudut bibirnya terangkat tipis.
“Sisil.”
“Hm?”
“Kamu memang bahaya,” katanya lalu turun.
Sisil tersenyum puas.
Plan A baru dimulai. Hasilnya sepertinya tidak buruk. Plan B siap dijalankan.