Bab 5 Kiss Me, Om?

940 Words
Sisil merebahkan diri di kasur dengan tas mahal itu masih tersampir di lengannya. Ia menatap langit-langit kamar kos sambil tersenyum sendiri. Rasanya aneh karena ia deg-degan seperti remaja, padahal usianya sudah jauh dari masa pakai pita rambut dan buku harian bergembok. Tetap saja, setiap mengingat Lucas, dadanya terasa hangat. “Kesambet setan mana lo?” Suara Dhea memecah lamunannya. Perempuan itu baru keluar dari kamar mandi dengan handuk masih melilit rambutnya. Tatapannya langsung tertuju pada tas di tangan Sisil. Ia mendekat dengan mata membulat dramatis. “Ini tas yang empat ratus juta itu, kan? Lo nyolong di mana?” Sisil langsung duduk tegak. “Gue nggak nyolong. Gue dikasih.” Dhea makin terperangah. “Si Kristian nyogok lo biar nggak diputusin?” “Kagak. Dari Om Lucas.” Hening sesaat. Lalu Dhea bersiul pelan. “Om dokter royal juga ya. Jadi gimana? Lanjut plan B?” Sisil mengangguk santai, senyum percaya dirinya muncul lagi. Menurutnya, Lucas sudah mulai goyah sedikit. Cara pria itu menatapnya meyakinkannya kalau reaksi pria itu tidak sepenuhnya tidak tertarik. Dhea mendengus melihat tingkat kepercayaan diri temannya yang kelewat tinggi. “PD banget lo. Kalau berhasil, ajarin gue tips dapet cowok tajir. Gue tiap deketin orang, yang dateng model mokondo semua.” Sisil langsung tertawa sampai hampir tersedak. Suasana kamar kecil itu dipenuhi tawa mereka berdua. -- Dua hari kemudian, Sabtu pagi, Sisil memutuskan menjalankan rencananya. Lucas terlalu dingin lewat chat. Balasannya singkat dan formal, lebih mirip pesan otomatis rumah sakit daripada percakapan dengan perempuan yang terang-terangan menyatakan suka. Ia tidak pernah suka diabaikan, apalagi oleh pria yang jelas-jelas tidak sepenuhnya ogah padanya. Maka pagi itu, Sisil datang ke rumah sakit tempat Lucas bekerja. Ia mengenakan dress peach sederhana yang mempermanis wajahnya dan membawa tas kecil di bahu. Wajahnya ia buat sedikit pucat saat mendekati meja pendaftaran. “Saya mau periksa,” katanya pelan. Ketika ditanya keluhannya, ia menjawab jujur, “Deg-degan.” Perawat hanya tersenyum tipis dan mencatat namanya sebelum mempersilahkannya menunggu. Tak lama kemudian, pintu ruang praktik terbuka. Lucas sedang membaca berkas pasien saat Sisil masuk. Tangan pria itu berhenti di udara. Tatapan mereka bertemu dalam keheningan yang cukup panjang untuk membuat udara terasa lebih berat. Begitu pintu ruang praktik tertutup dan perawat keluar, Lucas langsung berdiri. Tatapannya ke Sisil bukan marah, tapi jelas tidak santai. Ia sempat memandang dress peach yang dipakai gadis itu sebelum akhirnya kembali menatap wajahnya. “Kamu sakit apa?” tanyanya, nada profesional yang terasa dipaksakan. Sisil duduk manis di kursi pasien. “Deg-degan, Om.” Lucas tidak terpancing. Ia mengambil stetoskop dan mendekat. “Deg-degan itu gejala. Penyebabnya?” Sisil pura-pura berpikir serius. “Kalau lihat Om.” Tangan Lucas sempat berhenti sepersekian detik, tapi tetap melanjutkan tugasnya. Stetoskop menempel di d**a Sisil. Profesional. “Tarik napas.” Sisil menurut, menarik napas panjang sambil menatap wajahnya tanpa malu. “Buang.” Ia menghembuskan napas pelan. “Detaknya normal,” ujar Lucas akhirnya. “Iya, soalnya Om belum mepet banget.” Lucas menurunkan stetoskopnya perlahan. “Sisil.” “Apa? Aku pasien. Harus jujur.” Ia bangkit tanpa diminta, membuat jarak mereka otomatis mengecil. Lucas refleks mundur setengah langkah, tapi Sisil justru terlihat makin santai. “Om balas chat aku kayak notifikasi bank,” keluhnya. “Singkat, kaku dan nggak ada emoji.” “Aku kerja.” “Aku juga kerja, tapi masih bisa kirim stiker.” Lucas menahan napas. Jelas sekali ia sedang berusaha tidak tersenyum. Sisil berjalan mengitari ruangan, memeriksa rak buku dan lemari kecil di sudut. “Ruangannya rapi banget. Om tipe yang lipat handuk simetris ya?” “Sisil, jangan sembarang sentuh.” Sudah terlambat. Tangannya hampir membuka laci ketika Lucas sigap menangkap pergelangannya. Tarikan itu membuat Sisil terhuyung sedikit dan tanpa sengaja masuk ke jarak yang sangat dekat, nyaris seperti dipeluk. Dada mereka hampir bersentuhan. Tangan Lucas masih memegangnya. Ruangan terasa mengecil. Mata mereka bertemu. Beberapa detik sunyi. Dengan suara pelan yang jelas dibuat polos, Sisil berbisik, “Om… ini pas banget buat ciuman, kan?” “Sisil,” tegur Lucas, suaranya lebih rendah. “Kalau aku miring dikit, bisa pas banget loh.” Tatapan Lucas turun sekilas ke bibirnya dan itu kesalahan fatal. Sisil langsung nyengir. “Om lihat bibir aku ya?” Lucas berdeham dan akhirnya melepaskannya. “Pulang.” “Loh, belum diperiksa lengkap.” “Sudah.” “Belum. Aku belum dicek tekanan darahnya.” Lucas menatapnya. “Kamu nggak punya tekanan darah.” Sisil mengernyit. “Punya dong.” “Bukan itu maksudku.” Ia tertawa kecil. “Om takut ya?” “Aku nggak takut.” “Berarti boleh?” “Boleh apa?” “Cium.” Lucas memejamkan mata satu detik penuh. “Kamu ini…” “Kenapa? Aku cuma konfirmasi. Biar nggak salah prosedur.” Ia akhirnya mundur satu langkah. “Ini rumah sakit.” “Ya makanya wajar.” Lucas hanya menghela napas panjang. “Kamu baru putus,” katanya akhirnya. “Jangan impulsif atau cari masalah.” Sisil tersenyum lembut, tidak lagi sepenuhnya menggoda. “Aku cuma mengejar orang yang aku suka.” Lucas diam beberapa detik lalu berusaha tetap netral. “Pulang, Sisil. Kamu bikin sakit kepala.” Sisil mengangguk patuh, “Oke, tapi lain kali aku datang lagi, Om,” katanya sambil mengedipkan sebelah matanya. Ia pun keluar. Setelah Sisil pergi, Lucas mendekati laci yang hampir Sisil buka. Di sana ada sebuah sapu tangan putih terlipat rapi dengan inisial S.M. Lucas tersenyum, menatap sapu tangan itu penuh arti. “Untung nggak ketahuan,” ucapnya pelan, lega tapi juga ada rasa hangat yang sulit dijelaskan. Dia menyadari satu hal, Sisil memang polos, tengil, tapi tanpa disadari, gadis itu sudah lama meninggalkan jejak di hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD