bc

Istri yang Dibuang Kembali dengan Identitas Rahasia

book_age16+
0
FOLLOW
1K
READ
revenge
dark
family
HE
arranged marriage
kickass heroine
heir/heiress
drama
loser
city
small town
like
intro-logo
Blurb

Naura Stevani pernah memiliki segalanya, cantik, cerdas, dan pewaris perusahaan besar milik keluarganya. Namun satu kesalahan menghancurkan hidupnya. Hamil di luar nikah membuatnya dibuang oleh keluarga sendiri dan dinikahkan dengan pria desa demi menutupi aib.

Di sebuah Desa, pinggir Danau Toba, Naura menjalani hidup penuh hinaan bersama suami dingin, rumah reyot, dan kemiskinan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Saat semua orang meninggalkannya, hanya ibu mertua tua dan anak dalam kandungannya yang menjadi alasan ia bertahan hidup.

Bertahun-tahun kemudian, ia kembali ke Jakarta dengan identitas baru.

Bukan lagi Naura yang lemah dan mudah dihancurkan.

Kini, ia datang sebagai wanita asing yang perlahan masuk kembali ke kehidupan orang-orang yang pernah mengkhianatinya, ayahnya, adik tirinya, mantan kekasihnya, bahkan suaminya sendiri.

Namun, bagaimana jika mereka mengetahui bahwa wanita culun yang mereka remehkan itu adalah Naura Stevani?

Dan rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan oleh suami yang dulu membuangnya?

chap-preview
Free preview
Hanya Pemberkatan
Hanya Pemberkatan Danau Toba, diselimuti udara dingin ketika pesta pasu-pasu raja itu akhirnya selesai dilaksanakan. Tidak ada gondang meriah. Tidak ada tarian adat. Tidak ada keluarga besar yang memenuhi halaman rumah. Pernikahan itu hanya sebuah pemberkatan sederhana di gereja kecil desa, lalu makan seadanya bersama beberapa tetangga dan saudara dekat. Yang paling menyakitkan, tidak ada satu pun keluarga dari pihak mempelai wanita yang hadir. Naura Stevani, atau yang kini lebih sering dipanggil Vani, duduk diam di atas ranjang kayu kecil di kamar pengantin sederhana itu. Jemarinya saling bertaut gugup di atas perutnya yang mulai membuncit. Ruangan itu pengap. Dinding papan yang mulai lapuk mengeluarkan aroma kayu tua bercampur udara lembap khas pinggir Danau Toba. Dari celah-celah lantai, angin malam masuk menusuk kulit. Sungguh berbeda jauh dari kamar mewah yang biasa ia tempati di Jakarta. Vani menunduk pelan. Rasanya seperti mimpi buruk yang tidak kunjung selesai. Dika Sinaga berdiri di dekat jendela dengan wajah dingin. Tatapannya jatuh pada perut Vani tanpa sedikit pun kelembutan. “Tinggallah di sini. Besok aku kembali ke Jakarta untuk kerja lagi,” ujarnya datar. Vani langsung mengangkat wajahnya. “Abang kenapa langsung pulang?” Dika menoleh perlahan. “Maksud kamu apa?” “Maksudku, temani aku satu hari saja. Aku belum tahu apa-apa tentang kampung abang.” Tatapan lelaki itu berubah tajam. Ada rasa jijik yang begitu jelas di sana. “Kamu menganggapku suami sungguhan?” Pertanyaan itu membuat d**a Vani sesak. “Ya, abang suamiku.” Dika tertawa kecil tanpa humor. “Heh, dengarkan aku baik-baik. Aku ini cuma disuruh Pak Sudung menikahi kau. Bukan untuk jadi suami sungguhan.” Kalimat itu menghantam hati Vani begitu keras. “Kalau sudah menikah berarti kita pasangan suami istri, Bang,” ucapnya lirih. Namun Dika justru menatapnya dengan dingin. “Aku menikahi kau supaya anak yang kau kandung itu punya bapak. Supaya dia tidak disebut anak haram.” Ia mendekat sedikit, lalu melanjutkan dengan nada menusuk, “Dia bukan anakku. Jadi buat apa aku bertanggung jawab?” Vani terdiam. Ternyata benar dugaannya. Lelaki itu bersedia menikahinya hanya demi uang. Bukan karena peduli, bukan karena cinta. “Tapi abang mau menikah denganku,” suaranya mulai bergetar. “Ya, aku menikahimu. Tapi bukan berarti aku wajib memberimu nafkah batin.” Dika tersenyum sinis. “Lagipula, bagaimana mungkin kau meminta itu dari lelaki asing sepertiku? Aku saja tidak pernah menyentuhmu.” Ucapan itu terasa seperti pisau yang mengiris harga dirinya sedikit demi sedikit. “Cantik-cantik tapi tidak bisa menjaga diri,” lanjut Dika. “Untuk apa?” Vani memejamkan mata sesaat. Kadang, satu kesalahan memang cukup untuk menghancurkan seluruh hidup seseorang. “Aku sudah jadi menantu di rumah ini, kan?” tanyanya pelan. “Ya. Kau menantu di rumah ini.” Dika mengangguk singkat. “Dan aku tetap suamimu. Tapi hanya di atas kertas. Aku tidak akan jadi bapak untuk anakmu.” Ia menunjuk perut Vani. “Tapi kau boleh memakai margaku untuk anak itu.” Kalimat itu membuat Vani semakin hancur. Jadi beginikah hidupnya sekarang? Menjadi wanita buangan yang diterima setengah hati. Semua percakapan itu ternyata didengar oleh Inang Lisda dari balik pintu. Wanita tua berusia tujuh puluh tahun itu berdiri diam sambil memegangi dinding papan rumahnya. Hatinya terasa nyeri. Kini ia mengerti. Menantu yang dibawa anaknya ternyata bukan perempuan yang mengandung darah daging Dika. Bahkan putranya sendiri menolak wanita itu. Tatapan iba memenuhi wajah keriputnya. Selama ini ia hidup sederhana bersama putrinya, Mesnur, yang memiliki keterbelakangan mental. Rumah papan tua itu bahkan nyaris roboh diterpa angin. Namun malam ini, penderitaan baru kembali masuk ke rumahnya. “Kenapa kalian membuangku di sini,” bisik Vani lirih. Suara itu begitu rapuh. Ia yang dulu hidup bergelimang kemewahan kini terdampar di desa terpencil yang bahkan tidak memiliki kamar mandi layak. “Kau harusnya bersyukur,” balas Dika acuh. “Aku sudah menikahimu walaupun cuma pasu-pasu raja. Setidaknya keluargamu tidak malu.” “Lalu bagaimana denganku?” “Kau tinggal di sini.” “Lalu abang?” “Aku pulang ke Jakarta.” Dika menatapnya tajam. “Kau tidak berharap aku melakukan malam pengantin denganmu, kan?” Deg. Rasa sakit itu kembali menghantam d**a Vani. Baru beberapa jam menjadi suami istri, lelaki itu sudah menghancurkan semua harapan kecil yang masih tersisa dalam dirinya. “Jadi aku tinggal sendiri di sini?” tanyanya pelan. “Di rumah ini ada ibuku dan kakakku yang i***t itu,” jawab Dika tanpa perasaan. “Mereka bisa jadi temanmu.” “Aku tidak bisa hidup di tempat seperti ini.” “Makanya jadi perempuan harus bisa menjaga kehormatan,” potong Dika dingin. “Kalau sudah bunting begini, memangnya masih ada lelaki yang mau?” Vani menggigit bibirnya menahan tangis. “Tapi dulu abang suka padaku.” “Itu dulu, Naura Stevani.” Dika menatapnya rendah. “Sebelum kau menyerahkan kehormatanmu pada lelaki lain.” Vani merasa tubuhnya lemas. Dulu lelaki ini pernah mengejarnya. Pernah memujanya. Namun sekarang, ia bahkan dipandang hina. “Jangan berharap terlalu tinggi,” lanjut Dika. “Lihat dirimu sekarang. Kau hamil anak pria lain, lalu mengharapkan cintaku? Egois sekali.” Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Vani. “Apa daddy memberimu uang untuk menikahiku?” “Ya.” Jawaban Dika begitu cepat. “Pak Sudung memberiku uang. Dan beliau bilang dia tidak ingin melihatmu lagi.” Hancur, iItulah yang dirasakan Vani malam itu. Ayahnya sendiri membuangnya demi menjaga nama baik keluarga. Setelah Dika keluar dari kamar, Vani hanya duduk diam di atas ranjang. Tidak menangis. Tidak berteriak. “Untuk apa menangis?” bisiknya pada diri sendiri. “Aku harus kuat.” Tak lama kemudian terdengar ketukan pelan di pintu. Saat pintu dibuka, tampak Inang Lisda berdiri sambil membawa lampu minyak. “Ayo makan dulu, Inang,” ucap wanita tua itu lembut. “Namboru, aku mau mandi dulu.” “Kalau mau mandi, pergi ke danau sana.” Wanita tua itu membuka jendela dan menunjuk langsung ke arah Danau Toba yang gelap. Mata Vani membelalak. “Mandi, di danau?” “Di sini tidak ada kamar mandi,” jawab Inang Lisda polos. “Kalau mau buang air, pergi ke belakang rumah. Ada gubuk kecil di dekat pohon.” Vani menatap kosong. Ya Tuhan. Ia benar-benar seperti dilempar ke dunia lain. “Aku tidak bisa hidup seperti ini,” gumamnya frustrasi. “Aku akan bicara sama Bang Dika.” Ia segera keluar kamar mencari lelaki itu. Di dapur kecil, Dika sedang duduk di dekat tataring, tungku kayu tradisional yang dipakai untuk memasak. Asap tipis memenuhi ruangan. Vani kembali tertegun. Ini pertama kalinya ia melihat orang memasak menggunakan kayu bakar secara langsung. “Ya ampun,” batinnya. “Aku seperti terdampar di zaman batu.” “Aku tidak mau tinggal di tempat ini,” katanya cepat. “Aku ingin pulang.” Dika mengangkat wajahnya malas. “Takdirmu memang di sini, Vani. Setidaknya sampai anak itu lahir.” “Kembalikan saja uang dari keluargaku, lalu biarkan aku pergi.” “Tidak bisa.” Dika menggeleng. “Tugasku menyingkirkanmu dari keluargamu. Itu permintaan Pak Sudung.” Ucapan itu membuat tubuh Vani terasa dingin. Jadi, ayahnya benar-benar ingin membuangnya selamanya? Saat mereka berdebat, tiba-tiba seorang tetangga masuk sambil membawa senyum lebar. “Horas! Selamat ya, Dika! Mana pengantinnya?” Namun senyum wanita itu perlahan menghilang ketika mendengar percakapan mereka. Tatapan penasaran langsung jatuh pada Vani. Inang Lisda yang berdiri di sudut dapur hanya bisa menghela napas panjang. Ia tahu. Besok pagi, seluruh desa pasti akan membicarakan menantu baru anaknya. Dan kehidupan Vani di Desa Sabulan tidak akan pernah mudah. Namun tanpa mereka sadari, di balik wajah rapuh wanita hamil itu, tersimpan sesuatu yang kelak membuat seluruh desa terkejut. Karena malam itu, seseorang diam-diam datang ke rumah papan mereka. Seseorang dari Jakarta. Dan orang itu membawa rahasia besar tentang Naura Stevani. Bersambung…

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.7M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
654.6K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.3M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
892.0K
bc

A Warrior's Second Chance

read
314.7K
bc

Not just, the Beta

read
320.7K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook