Malam pertama sebagai istri tidak membawa ketenangan bagi Naura Stevani, atau Vani, seperti semua orang di desa itu memanggilnya sekarang.
Sepanjang malam ia tidak benar-benar tidur. Tubuhnya memang berbaring di atas ranjang kayu sempit itu, tetapi pikirannya terus terjaga. Ia takut memejamkan mata terlalu lama.
Takut saat bangun nanti, Dika benar-benar pergi meninggalkannya.
Udara dingin Desa Sabulan merayap masuk dari celah-celah dinding papan. Angin malam dari Danau Toba terasa menusuk hingga ke tulang. Perlahan tubuh Vani meringkuk memeluk dirinya sendiri.
Namun menjelang subuh, rasa kantuk akhirnya mengalahkan ketakutannya.
Matanya tertutup tanpa sadar.
“Kukuruyuuukkk!”
Suara kokok ayam bersahut-sahutan membangunkannya.
Vani tersentak bangun. Matanya langsung mencari sosok Dika di dalam kamar.
Kosong , ranjang di sebelahnya sudah rapi dan dingin.
Seketika dadanya berdebar panik.
“Bang Dika?”
Tidak ada jawaban. Ia segera bangkit dan membuka pintu kamar dengan tergesa-gesa. Rumah itu sepi. Bahkan suara langkah lelaki itu pun tidak terdengar lagi.
Dika pergi.
Pagi-pagi sekali lelaki itu sudah menaiki kapal pertama menuju Mogang untuk kembali ke Jakarta.
“Tidak,” lirih Vani.
Tanpa sempat memakai sandal, ia berlari keluar rumah. Napasnya memburu. Rambut panjangnya berantakan diterpa angin pagi.
Ia terus berlari menuju pelabuhan kecil di samping rumah mertuanya.
Namun saat tiba di sana, semua kapal sudah berangkat.
Yang tersisa hanya riak air Danau Toba dan beberapa tali tambang yang bergoyang diterpa angin. Vani berdiri mematung. Dadanya terasa kosong.
Untuk keluar dari Desa Sabulan, ia harus menunggu kapal berikutnya besok pagi.
Artinya, Ia benar-benar terjebak di tempat itu.
“Dika b******k!” teriaknya keras.
Air matanya langsung jatuh tanpa bisa ditahan lagi.
Ia berjalan ke tepi batu besar di pinggir danau, berdiri dengan kaki telanjang tanpa memedulikan dinginnya air yang menyentuh jemarinya.
Lalu ia berteriak sekeras mungkin.
“Aaaahhh! AAAA!”
Suara itu menggema di sekitar Danau Toba.
Semua orang yang sedang beraktivitas pagi menoleh ke arahnya. Ada ibu-ibu yang mencuci pakaian, anak-anak yang mandi di danau, dan para lelaki tua yang sedang mengambil air.
“Bah, nabohado doi?” tanya seorang kakek heran.
(Wah, kenapa itu?)
Namun Vani tidak peduli.
“Dika! Awas kamu! Aku akan membalasmu nanti!” teriaknya lagi sambil menangis. “Dasar kribo! Suami tidak berguna!”
Orang-orang mulai berbisik.
Dalam hitungan menit, keluarga Inang Lisda langsung menjadi bahan tontonan.
Padahal di desa itu ada mitos lama yang masih dipercaya warga. Perempuan berambut panjang dilarang berdiri sendiri di tepi Danau Toba sambil berteriak kasar.
Konon, penjaga danau akan marah dan meminta tumbal.
Karena itulah beberapa warga mulai kesal melihat ulah Vani.
“Hei! Jangan teriak-teriak di situ!” bentak seorang wanita tua.
“Nanti danau marah!”
Namun Vani terlalu marah untuk mendengarkan siapa pun.
Semua rasa sakit, penghinaan, dan ketakutannya pecah begitu saja pagi itu.
Tak lama kemudian, Inang Lisda datang tergesa-gesa sambil menarik tangan Mesnur, putrinya yang memiliki keterbelakangan mental.
“Ayolah pulang, Inang,” bujuk wanita tua itu malu. “Nanti kita bicara di rumah.”
Mesnur ikut mendekat sambil tersenyum aneh. Rambutnya kusut dan bajunya tidak rapi.
“Edakku! Pulang, pulang!” katanya sambil tertawa kecil.
Namun melihat wajah Mesnur justru membuat emosi Vani semakin meledak.
“Pergi sana!” bentaknya kasar. “Jangan dekat-dekat denganku!”
Mesnur hanya tertawa sambil memiringkan kepalanya ke kanan dan kiri seperti anak kecil.
Setelah puas mempermalukan dirinya sendiri di depan warga desa, Vani akhirnya pulang dengan langkah berat. Ia tidak punya pilihan lain.
Desa Sabulan berada di pinggir pegunungan dan hanya bisa diakses menggunakan kapal.Ia benar-benar terjebak di sana.
Setelah Dika pergi tanpa meninggalkan uang sedikit pun, kemarahan Vani semakin menjadi-jadi.
“Suatu hari nanti aku akan membalas kalian semua,” gumamnya kesal sambil mengunci diri di kamar.
Sementara itu, Inang Lisda dan Mesnur sudah pergi ke ladang sejak pagi.
Perut Vani mulai terasa lapar.
Dengan malas ia keluar menuju dapur.
Tatapannya langsung tertuju pada dapur tradisional itu. Asap hitam menempel di dinding kayu, sementara hudon, periuk nasi khas Batak, digantung di atas tungku kayu.
Dengan wajah bingung sekaligus jijik, Vani membuka tutup periuk itu.
Masih ada nasi.Namun sudah dingin dan keras. Ia mencari lauk lain.
Saat membuka piring tudung saji, wajahnya langsung berubah.
Hanya ada ikan asin dan jengkol mentah sebagai lalapan.
“Apa ini?” gumamnya tidak percaya. “Ini bukan makanan manusia!”
Kesal, ia membanting piring itu ke lantai.
Brak!
Nasi berserakan ke mana-mana.
Selama hidupnya, Vani tidak pernah makan makanan sesederhana itu.
Tadi malam, selama Dika masih ada, lelaki itu sempat membeli lauk dari lapo.
Namun sekarang?Tidak ada siapa-siapa. Ia membuka dompetnya dan menghitung sisa uang yang dimilikinya.
Sedikit.
Namun masih cukup membeli makanan.
Akhirnya Vani berjalan menuju warung kecil yang letaknya cukup jauh dari rumah mertuanya. Jalan desa itu berbatu dan licin, membuat kakinya sakit karena hanya memakai sandal tipis.
Sesampainya di warung, semua mata langsung memandanginya.
Wanita hamil yang tadi pagi berteriak-teriak di tepi danau kini menjadi pusat perhatian seluruh desa.
Vani pura-pura tidak peduli.
“Selama aku tidak meminta makan pada kalian, aku tidak akan peduli dengan tatapan kalian,” batinnya.
Ia membeli telur dan mi instan karena hanya itu yang tersedia.
Namun sesampainya di rumah, ia kembali kebingungan.
Ia tidak tahu cara menyalakan tungku kayu.
Perutnya semakin lapar.
Mau tidak mau, ia kembali lagi ke warung tadi sambil membawa bahan makanan.
“Nantulang, bisa tolong masakkan ini?” tanyanya canggung.
Pemilik warung menatapnya iba.
“Dek, kenapa tidak masak di rumah mertuamu?”
“Aku tidak bisa menyalakan api.”
“Memangnya mama mertuamu ke mana?”
“Tidak tahu.”
“Coba tengok ke ladang atas. Mungkin mereka di sana.”
“Ya, Nantulang.”
Setelah makan, Vani kembali ke rumah dan langsung masuk kamar.
Ia mengambil ponselnya.
Tangannya gemetar saat mencari nama Andre.
Lelaki yang telah menghancurkan hidupnya.
Pria yang menjadi kekasihnya menghilang begitu saja.
Vani mencoba menelepon berkali-kali.
Namun tidak ada jawaban.
Sekali. Dua kali. Sepuluh kali.
Tetap tidak diangkat.
Bahkan beberapa saat kemudian, layar ponselnya menunjukkan bahwa nomornya telah diblokir.
Bukan hanya Andre.Semua teman-temannya, Semua orang yang ia kenal.
Dadanya terasa semakin sesak.Di saat yang sama, jauh di Jakarta, seorang pria paruh baya dengan jas mahal sedang berbicara lewat telepon.
“Bagaimana?” tanyanya dingin.
“Sudah, Pak,” jawab Dika dari seberang sana. “Saya sudah menikahinya dan meninggalkannya di rumah mama saya.”
“Bagus.” Lelaki itu mengembuskan napas lega. “Aku tidak ingin melihatnya lagi.”
Itu adalah Sudung Ayah kandung Vani sendiri.
“Pastikan semua nomor diblokir,” lanjutnya. “Aku tidak mau dia menghubungi siapa pun lagi.”
“Baik, Pak.”
“Tapi kamu meninggalkan uang untuknya, kan?”
Dika terdiam sesaat.
“Ya, Pak.”
Padahal itu bohong.
Tidak ada uang yang ia tinggalkan untuk Vani.
Semua uang pemberian Sudung sudah dibawa kabur olehnya.
Ia hanya memberikan sedikit pada ibunya di desa.
Sementara Vani, Benar-benar ditinggalkan tanpa apa-apa.
Namun tanpa Dika sadari, kebohongan itu perlahan akan menjadi awal petaka besar dalam hidupnya.
Bersambung