Matahari pagi baru saja terbit menyinari halaman Yayasan Anyelir, membiaskan pendar keemasan di atas rumput yang masih basah oleh embun. Suara burung gereja yang hinggap di celah-celah atap panti berpadu selaras dengan derak halus kertas ampelas. Di dekat area workshop sederhana yang terletak di sudut panti, Kalandra sedang fokus merapikan selembar papan kayu mahoni yang baru saja dipotong. Lengan kemeja kerjanya tergulung rapi hingga mendekati siku, memperlihatkan otot-otonom tangannya yang makin terbiasa berkutat dengan pekerjaan fisik. Raut wajahnya tampak begitu tenang, menikmati ritme kerja manual yang kini menjadi bagian dari rutinitas harian yang amat ia cintai. Keringat tipis membendung di pelipisnya, namun tak ada lagi sisa kerut keletihan mental yang biasa menghiasi dahi Kaland

