Bab 44. Menyerang Psikis Jelita

1978 Words

Lampu kamar hanya menyala setengah, temaram, seolah ikut menjaga napas kecil Arka yang akhirnya terlelap di gendongan Jelita. Bayi itu baru saja menyusu, bibirnya masih sedikit terbuka, pipinya memerah hangat. Tapi tubuh Jelita justru dingin, kaku, seolah-olah seluruh tenaganya tersedot habis. Tangannya memeluk Arka terlalu erat karena takut kehilangan. Setiap suara kecil membuatnya tersentak. Derit pintu. Langkah kaki. Bahkan dengusan AC. Pikirannya dipenuhi bayangan yang sama sejak beberapa waktu ke belakang. Sora berdiri dingin, Liam di sampingnya, dan kata sekarang yang terus menggema di kepalanya. Sekarang kita ambil Arka. Jelita menelan ludah. Napasnya tersengal pelan. Ia menunduk, mencium ubun-ubun Arka berulang kali, seperti ingin memastikan bayi itu benar-benar ada di peluka

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD