Bab 45. Membawa Arka Pergi

1687 Words

Jelita duduk lebih tegak setelah Raka selesai menjelaskan. Air matanya sudah mengering, tapi wajahnya tampak kosong. Ia bukan tidak mengerti, justru karena terlalu mengerti bagaimana kondisinya saat ini. “Postpartum Anxiety Disorder,” ulangnya pelan. “Dengan gejala berat.” Raka mengangguk. “Iya. Kamu tahu definisinya.” “Aku tahu,” jawab Jelita lirih. “Aku juga tahu risikonya.” Kalimat itu membuat ruangan hening. Aditya menatap Jelita, dadanya sesak. Tidak ada penolakan. Tidak ada amarah. Hanya penerimaan yang pahit. “Ini bukan psikotik,” lanjut Jelita sendiri, seolah sedang mengisi rekam medis. “Aku masih orientasi baik. Nggak ada halusinasi. Nggak ada delusi.” “Benar,” sahut Raka cepat. “Makanya aku nggak bicara soal rawat inap.” Jelita menghela napas panjang. Tangannya refleks m

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD