Jelita tidak menolak. Wanita itu hanya menurut dan diam-diam meneteskan air mata. Hanya keheningan yang terasa terlalu padat untuk dihirup. Jelita duduk di tepi ranjang kamar tamu, Arka terbaring di hadapannya. Bayi itu baru selesai menyusu. Matanya setengah terpejam, jemarinya menggenggam kain baju Jelita dengan refleks kecil yang tak tahu apa-apa tentang dunia. Tangannya sendiri bergerak pelan. Seperti ada komando dalam dirinya sendiri. Ia memilihkan baju untuk Arka. Pakaian yang paling lembut, yang tidak membuat lehernya terlipat. Jelita memakaikannya perlahan, memastikan kancing tidak menekan d**a mungil itu. Topi kecil sematkan di kepalanya. Selimut dilipat rapi, untuk berjaga-jaga jika nanti bocah kecil membutuhkannya. Semua dilakukan dengan sangat sadar. Seolah-olah ia sedang

