Bab 9. Istri yang Sesungguhnya

1152 Words
“Emmhh … aah.” Liam tak bisa menahan dirinya saat ini. Kali ini, ia melakukannya dengan perlahan. Sangat lembut hingga Jelita bahkan sampai beberapa kali. Entah apa yang membuatnya begitu menikmati permainan malam ini. Nyatanya, ia bertekad membuat istri keduanya itu merasakan nikmatnya bercinta. Bukan hanya dirinya sendiri seperti biasa. “Liam, aku ….” Jelita tak melanjutkan ucapannya. Ia memejam dan melengkungkan tubuhnya perlahan. Sementara tangannya mencengkeram sprei dengan erat. Sang suami sedang bergerak liar dan ia kembali merasa akan terbang. Jelita benar-benar merasa disayangi oleh Liam malam ini. Dia dimanja, bahkan dibuat berkali-kali terlena dan menegang. Ketika semuanya telah terkumpul di ujung, baik Liam maupun Jelita sama-sama mengerang tertahan. Pelukan dan ciuman dari pria itu menjadi akhir petualangan mereka selama beberapa jam ke belakang tadi. Sampai akhirnya, Liam melepaskan diri dari sang istri dan merebah di sampingnya. Keduanya berebut oksigen demi mengisi paru-paru yang terasa panas. Napas mereka putus-putus dengan d**a yang berdegup dengan kencang. Setelah semuanya mereda, Liam menoleh. Ia mengambil tangan Jelita dan mencium punggung tangannya dengan lembut. “Terima kasih, Jelita,” katanya. Gadis itu hanya mengangguk lemah. Ia tak tahu harus berkata apa. Liam telah memberikan sesuatu yang belum pernah Jelita rasakan sekarang. Terlebih, pria itu bahkan sampai berterima kasih. Apakah ia boleh berharap lebih setelah semua ini. Liam kemudian mendekati tubuh sang istri dan mendekapnya. Ia juga menyematkan kecupan di kening, di pipi, dan yang terakhir pada bibir Jelita dengan lembut. Sama seperti tempo hari. Bedanya, Jelita merasa ini begitu nyata. Ini sama seperti waktu itu. Jadi, apakah yang itu juga bukan mimpi. “Liam,” panggil Jelita kemudian. Pria itu menunduk demi bisa melihat wajah istri keduanya yang kini ada di depannya. Ia mengangkat alis sebagai ganti tanya apa pada Jelita. “Aku … mimpi yang seperti ini kemarin,” katanya lirih. Jelita merasa sangat jengah ketika mengakui bahwa dirinya sampai memimpikan sang suami dengan segala kelembutan yang ada. Sementara Liam malah tersenyum kecil. Mimpi katanya? Jadi, waktu itu Jelita tidak sadar jika semuanya adalah nyata. “Kamu enggak mimpi,” kata pria itu pelan. “Hah?” “Aku minta maaf karena kemarin terlalu kasar,” imbuh Liam. Jelita menggeleng lemah. Wajah Liam yang memelas membuatnya jadi tidak tega. Tidak-tidak. Ia tak masalah dengan sikap sang suami. Memang sudah sewajarnya Liam bersikap demikian. Siapa pula yang mau menikah dengan paksa, terlebih dengan gadis yang seperti Jelita. Jelita sadar diri atas semua itu. “Enggak-enggak. Aku paham kenapa kamu bersikap begitu,” ucap Jelita. Liam kemudian mengubah posisinya. Ia melepas dekapan pada Jelita dan terlentang. Liam menatap langit-langit ruangan kamarnya dengan nanar, lalu menjelaskan situasinya pada sang istri. “Mama terlalu otoriter. Terlalu mengatur semuanya. Aku kadang merasa tidak berhak atas hidupku sendiri, Jelita,” jelas Liam. Jelita tak menimpali. Ia juga merasakan hal yang sama. Namun, sama seperti Liam. Ia juga tidak punya kekuatan untuk melawan. Jadi, ia memilih manut dan diam saja. Bukankah sejak lama, hidupnya memang milik Sora? “Mama mau yang terbaik buat kita, Liam,” kata Jelita. “Menurutmu begitu? Lantas, bagaimana jika keinginannya membuat mimpi seseorang hancur. Sepertimu? Maafkan aku Jelita. Aku juga tidak kuasa melakukan apa pun. Bella ingin menjadi model top dunia. Aku tidak bisa menghancurkan mimpinya begitu saja,” jelas Liam. Jelita terdiam. Jika Liam tidak mau mimpi Bella hancur, lantas bagaimana dengan dirinya? Gadis itu kembali menyadarkan diri. Ia hanya penampung benih, bukan wanita yang diinginkan Liam. Jadi, jika tadi pria itu membuatnya terlena, semua karena perintah mamanya. Sudut mata Jelita tiba-tiba mengembun mengingat siapa dirinya. Namun, ia buru-buru mengusapnya. Sialnya, Liam melihat hal itu dan ia sadar dengan apa yang telah ia katakan. “Maafkan aku, Jelita. Aku berjanji akan membebaskanmu setelah semua keinginan Mama terpenuhi. Aku akan membantumu–” “Iya. Kamu enggak perlu menjelaskannya,” ucap Jelita yang kemudian beranjak untuk memunguti pakaiannya yang tadi dibuang sembarangan oleh Liam. Pria itu ikut bangkit, tapi tak melakukan apa-apa. Jelita tahu, ini hanya formalitas dan ia akan melakukannya. Ia paham, perasaan Liam tidak akan berubah dengan cepat. Jadi, ia tak mau memaksakan semuanya. Liam menunduk dalam. Lalu mengusap wajahnya dengan gusar. Rasa bersalah menyelimuti hatinya. Bagaimana mungkin ia bisa membicarakan Bella di depan Jelita yang jelas-jelas juga dirugikan dengan poligami ini. Nyatanya, ia tak peka sama sekali. Entahlah, ia juga tidak tahu apa yang ia rasakan ketika bersama gadis itu. Ia hanya merasa nyaman tanpa bisa menyebut nama perasaan apa yang ia rasakan. *** Beberapa hari ke belakang, Jelita tampak menghindari Liam. Gadis itu tak mau kecewa lagi seperti kemarin. Setelah diangkat tinggi ke awang-awang, kemudian kembali dijatuhkan dengan keras. Ia akan sadar diri dan tidak mengharapkan sesuatu yang jelas-jelas terlihat mustahil. Namun, tidak demikian dengan Liam. Pria itu merasa ada yang berbeda pada dirinya saat melihat Jelita tampak acuh. Ia hendak menegur, tapi gadis itu seolah-olah telah terluka terlalu dalam. Sampai akhirnya, malam itu mereka makan malam bersama. Sama seperti biasanya, tak ada obrolan berarti yang terjadi. Namun, ketika selesai makan dan Jelita hendak beranjak, Liam menahan lengannya. “Aku mau bicara,” katanya. Jelita mengangguk lemah. Kemudian kembali duduk dan menunggu apa yang akan dikatakan oleh Liam. Suaminya itu tampak gugup. Tidak seperti biasanya. Tangan Liam yang menggenggam jemari Jelita bahkan terasa basah karena berkeringat. “Ada apa?” tanya Jelita yang kemudian memutuskan untuk membuka suara. “Tolong jangan begini, Jelita. Aku tahu, aku jahat banget sama kamu, tapi aku mohon jangan menghindariku,” ucap Liam. “Aku hanya tidak mau terbiasa nyaman. Toh, nantinya kita juga akan berpisah. Aku sadar diri untuk tidak berharap lebih. Maafin aku,” kata Jelita yang sudah tidak bisa menahan air matanya. Ia beranjak dari meja makan dan berniat menangis di taman samping. Namun, Liam ikut bangkit dan langsung memeluk gadis itu dari belakang. Pria itu menempelkan dagunya di bahu Jelita sembari mengutarakan apa yang ia rasakan. “Aku sayang kamu, Jelita,” ucapnya dengan sedikit berteriak. Sementara Jelita hanya bisa mematung. Tangisnya pecah tanpa bisa dicegah. Mana bisa seperti itu, jika nanti pada akhirnya Liam akan menceraikannya. Jangan sampai ada perasaan di antara mereka. “Jangan begini, Liam. Aku benar-benar ketakutan. Aku takut makin kecewa nantinya,” kata Jelita. Liam membalik tubuh Jelita. Ia menatap mata gadis itu lekat demi meyakinkan dirinya. Ia sendiri merasa kosong selama beberapa waktu tanpa perhatian dan kasih sayang Jelita. Lantas, apa ini namanya? Apakah hanya kesepian saja? Dan Jelita hanya pelarian semata? Nyatanya, tidak begitu. Hati Liam benar-benar tertaut pada sosok sang adik angkat yang begitu hangat. Terlepas dari apa yang mendasari poligami ini, Liam merasa cinta ketika melakukan itu bersama Jelita dan ia tak mau menampik hal itu. “Katakan! Apa kamu mencintaiku?” tanya pria itu kemudian. Jelita masih diam dengan tangisnya. Liam makin gusar. Ia lantas memeluk gadis itu dan menenggelamkan wajah Jelita dalam dadanya. Saat itu, tiba-tiba pintu terbuka dari luar. Keduanya terkesiap, lalu menoleh. Sosok di balik pintu menatap Liam dan Jelita dengan nyalang. “Apa yang kalian lakukan?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD