“Apa yang kalian lakukan?” Liam dan Jelita menunduk. Keduanya segera membentang jarak ketika sosok yang ada di pintu kediaman itu masuk dan langsung memasang wajah penuh marah. Saat itu, Liam membuang napasnya dengan kasar dan mencoba untuk menjelaskan semua yang terjadi. “Ma, kami–” “Kalian sudah jatuh cinta? Nonsense. Mana mungkin ada yang seperti itu. Kamu hanya kasian dan butuh saja Liam. Sudahlah jangan pakai perasaan. Ini tidak akan berhasil,” jelas Sora. Liam hendak menimpali ketika kemudian sang mama beralih pada Jelita yang masih menunduk. Gadis itu sudah tidak menangis, tapi sama sekali tak berani mendongak. Sementara Sora mengulurkan tangannya dan mengangkat dagu Jelita perlahan. “Dan untuk kamu, Jelita. Jangan pernah berharap lebih pada keluarga ini. Sesuai dengan keputusa

