Bab 41. Sidang yang Belum Final

1493 Words

Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya. Lampu kamar hanya menyala redup. Tirai jendela setengah tertutup, membiarkan cahaya lampu jalan menyusup tipis, membelah gelap dengan warna kekuningan yang muram. Jelita duduk di tepi ranjang, punggungnya bersandar ke kepala tempat tidur. Sementara Arka terlelap di pelukannya. Napas bayi itu teratur. Hangat dan nyata. Jelita menunduk, menempelkan hidungnya ke rambut halus Arka, menghirup aromanya dalam-dalam, seolah-olah takut besok ia tak bisa lagi mengingatnya dengan utuh. Tangannya mengusap punggung kecil itu perlahan, berulang-ulang, seperti gerakan yang dihafal tubuhnya sendiri. “Besok…,” bisiknya lirih, nyaris tak bersuara. Kata itu menggantung, tak pernah selesai. Matanya panas, tapi ia menahan air mata. Ia tak mau Arka bangun denga

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD