Mobil melaju dengan kecepatan yang tidak stabil. Kadang terlalu cepat, kadang melambat mendadak karena Bella tiba-tiba meringis dan memukul dashboard dengan kesal. “Ah ... sakit! Liam, ini sakit banget!” teriak Bella sambil memegangi perutnya. Liam menggenggam setir lebih kuat, berusaha tetap fokus pada jalan. “Sabar, Bella. Sedikit lagi sampai rumah sakit.” “Sabar?” Bella menoleh tajam, wajahnya basah oleh air mata dan keringat. “Kamu kira ini cuma kram biasa? Ini rasanya kayak perutku diremas-remas!” Kontraksi kembali datang. Bella menjerit, tubuhnya menegang, napasnya terengah-engah. Begitu rasa sakit itu sedikit mereda, amarahnya justru meledak. “Aku nyesel!” bentaknya tiba-tiba. “Kalau tahu bakal begini, aku nggak mau hamil!” Liam terdiam sejenak. “Bella—” “Aku nggak mau tubuhk

