Bab 39. Kontraksi Bella

1383 Words

Langkah Jelita terasa ringan sekaligus goyah saat ia keluar dari ruang sidang. Lorong pengadilan yang panjang dan dingin itu seperti menelan suaranya sendiri. Matanya panas, tapi air mata belum jatuh. Seolah-olah tubuhnya masih berusaha bertahan sebelum benar-benar runtuh. Begitu pintu ruang sidang tertutup di belakangnya, sebuah tangan hangat menyentuh bahunya. “Jelita.” Ia menoleh. Dokter Aditya berdiri di sana, wajahnya serius namun lembut. Tatapannya langsung menangkap keguncangan di mata Jelita. Tanpa banyak kata, Aditya menggeser posisinya sedikit, seolah menjadi tameng dari dunia luar. “Ini belum selesai,” katanya pelan tapi tegas. “Sidang baru ditunda. Bukan diputuskan.” Jelita menggeleng, bibirnya bergetar. “Dia berubah, Dok … Dia pakai perjanjian itu. Padahal ... padahal dia

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD