Pagi itu terasa berbeda. Cahaya matahari masuk lembut melalui jendela besar ruang keluarga, memantul di lantai marmer dan menyentuh wajah kecil Arka yang sedang tertawa lepas. Dokter Aditya duduk di karpet, berselonjor santai. Pemandangan yang tak pernah Jelita bayangkan sebelumnya dari seorang pria setenang dan seteratur itu. Di tangannya, sebuah boneka jerapah kecil digoyang perlahan, membuat Arka terkekeh, kaki mungilnya menendang-nendang udara dengan antusias. “Arka … ini apa?” suara Aditya dibuat lebih tinggi, hampir lucu. “Jerapah atau dinosaurus?” Arka menjawab dengan suara khas bayi. Ocehan tak beraturan yang justru membuat Aditya tertawa. Tawa yang lepas dan jujur. Seolah-olah tanpa sekat. Jelita berdiri di ambang pintu sambil memeluk lengannya sendiri. Ia tidak ingin menggang

