Rumah besar itu terasa dingin meski siang belum benar-benar pergi. Sora duduk tegak di ruang keluarga, secangkir teh di tangannya sudah lama tak tersentuh. Wajahnya tenang seperti biasa, tapi sorot matanya tajam ketika Liam berdiri di hadapannya dengan punggung lurus dan rahang mengeras—tanda bahwa keputusan ini tidak main-main. “Apa yang mau kamu bicarakan?” tanya Sora akhirnya, nadanya datar. Liam menarik napas panjang. Ini bukan percakapan mudah, tapi ia tahu, semakin lama ditunda, semakin banyak luka yang tercipta. “Aku akan menceraikan Jelita,” ucapnya pelan, namun jelas. Cangkir di tangan Sora berhenti di udara. Alisnya berkerut tipis. “Apa maksudmu?” “Aku tidak akan mempertahankan pernikahan yang hanya menyisakan rasa tidak aman,” lanjut Liam. “Dan aku tidak akan mengambil Arka

