Bab 48. Kehilangan Arka

1999 Words

Pagi itu terasa biasa saja. Tidak ada tanda khusus yang menandai bahwa hidup Jelita sudah bergeser ke fase lain. Matahari masuk lewat celah tirai dengan intensitas yang wajar. Udara tidak terlalu dingin, tidak terlalu hangat. Semuanya berada di titik yang netral. Seperti dirinya sekarang. Jelita berdiri di depan cermin kamar. Rambutnya disisir rapi, diikat rendah. Wajahnya tidak lagi pucat, meski masih ada bayangan lelah yang menetap di bawah matanya. Namun sorot itu kini utuh. Ia menatap pantulannya lama, lalu mengangguk kecil pada dirinya sendiri, seolah-olah mengakui sesuatu yang sudah ia perjuangkan berminggu-minggu. Di ruang tengah, Aditya sedang menata berkas-berkas medis ke dalam map. Ia melakukannya dengan teliti, kebiasaan lama yang tak pernah berubah. Begitu mendengar langkah

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD