Aldric berdiri di balkon menatap halaman luas didepannya, matanya menatap jauh tanpa batas. Sebuah tangan menepuk bahunya membuatnya tersadar dan menoleh, Aldric melihat Chen sudah berdiri disebelahnya sama sama bersandar di pagar balkon dengan membawa dua gelas champagne dan memberikan padanya satu gelas. “apa yang kamu pikirkan Al?” Aldric menerima segelas champagne dari tangan Chen dan meneguknya sampai habis kemudian melemparkan gelas champagne itu jauh. “kenapa kamu tidak pulang bersamanya Al?” “mau ditaruh dimana mukaku ini, dia sudah menolakku dan aku tidak punya nyali lagi bertemu atau bicara dengannya.” “hei… mana Aldric yang angkuh dan cuek, tak perduli apapun, kenapa kini kamu perduli apa yang dipikirkan Kanaya tentangmu?”

