Twenty

1305 Words

“Al…!! hati hati, kamu mau buat kita mati? Kalau menyetir jangan melamun, bahaya!” omel Kanaya pada Aldric.             “sorry sorry.”            “kamu kenapa sih? tidak biasanya seperti orang bingung.”          Aldric kembali menghela nafas panjang, rasa pusing karena mabuk sudah hilang tapi datang pusing mengenai hal lain, tentang rasa. Rasa yang sejak kemarin ia rasakan semakin aneh terjadi pada dirinya, apalagi ucapan Chen yang semakin membuatnya memikirkan semuanya.        Setelah mengantarkan Kanaya ke unit apartemennya, Aldric juga turun ke unit apartemennya di lantai 7 dan duduk di sofa ruang tamu. Ia acak rambutnya kenapa ucapan Chen berputar putar di kepalanya dan tak berhenti.        “You are jealous with me.”     “kamu yang gila dan tidak menyadari jika kamu sudah j

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD