Raka memaksakan sebuah senyuman tipis, mencoba menutupi rasa tidak nyaman di tubuhnya agar sang kakak tidak cemas. "Raka enggak apa-apa, Kak. Cuma sedikit lemas." Pikiran Maura langsung berkecamuk hebat. Dalam otaknya, ia segera menghitung tanggal pemeriksaan rutin adiknya ke rumah sakit. Masih tiga hari lagi. Rasa gelisah yang hebat mulai merayap di dadanya. Pasca-operasi besar, Raka kini hanya hidup dengan mengandalkan satu ginjal yang tersisa di tubuh kecilnya. Kenyataan bahwa satu organ itu harus bekerja dua kali lebih keras untuk menopang metabolisme tubuh Raka selalu sukses membuat Maura diliputi ketakutan ekstrem akan adanya penolakan organ atau komplikasi. Dokter spesialis anak yang menangani Raka sebelumnya sudah mewanti-wanti Maura mengenai gejala-gejala penurunan kondisi fisik

