Walaupun Samudra terus bersikap ketus dan dingin, nyatanya setiap untai tindakan yang pria itu lakukan sepanjang malam justru menanamkan rasa hangat yang asing di lubuk hati Maura. Menyaksikan bagaimana seorang Samudra Reynand Hadiningrat—pria yang biasanya memandangnya dengan tatapan merendahkan—rela terjaga untuk mengganti kompresannya, perlahan-lahan mengikis dinding pertahanan Maura. Pria itu memang tidak mengobral kata-kata manis, namun perlakuan terselubungnya justru menjadi perangkap tak kasat mata yang menjerumuskan Maura untuk jatuh semakin dalam pada pesonanya. Ketika pendar matahari pagi mulai menembus tirai jendela, Maura perlahan membuka mata. Tubuhnya sudah terasa jauh lebih baik, meskipun sisa-sisa pening masih berdenyut di pangkal kepalanya. Ia mendudukkan diri, menatap

