"Aku bahkan enggak punya ruang di kepalaku buat memikirkan soal asmara," cicit Maura dengan suara serak. Kalimat itu adalah sebuah penyangkalan, sebuah upaya untuk memberitahu Samudra bahwa hidupnya terlalu hancur untuk sekadar jatuh cinta pada siapa pun—termasuk Vino sekali pun. Maura mengusap air matanya kasar menggunakan punggung tangan, menarik napas dalam-dalam hingga dadanya terasa sesak. Ia berusaha keras mengumpulkan serpihan harga dirinya yang baru saja dihancurkan oleh kecemburuan buta Samudra. Ting tong! Suara bel apartemen memecah ketegangan yang nyaris meledak. Samudra segera berbalik dan keluar dari kamar tanpa sepatah kata pun, meninggalkan Maura yang menatap nanar punggung lebar pria itu. Punggung yang terlihat begitu kokoh namun menyimpan otoritas yang mencekik. "Maka

