Maura mulai terbiasa dengan ritme kehidupan gandanya yang ganjil. Meski rasa lelah sering kali terasa mencekik, ia sadar bahwa mengeluh adalah kemewahan yang tidak bisa ia beli di tengah kondisi sulit yang masih menghimpit. Langkahnya terhenti saat ia baru saja tiba di apartemen Samudra. Di ruang tengah, Samudra tidak sendirian, ia sedang terlibat rapat serius dengan tangan kanannya, Tommy. Kehadiran Tommy membuat Maura mendadak canggung hanya untuk sekadar melangkah masuk menuju kamar guna meletakkan tasnya yang sarat akan buku perkuliahan. Tommy, dengan keramahan yang sedikit berlebihan, segera menyapanya. "Halo, Maura. Kita bertemu lagi." Maura mengangguk kecil, memberikan jawaban yang sangat kikuk. "Y--ya, halo, Pak." Dalam benaknya, Maura berusaha keras mengingat di mana ia pernah

