Lantai marmer yang mengkilap di lobi utama PT. Pratama Gold & Gem (PGG), di Kota terbesar Jayadwipa. Tiba lah mobil mewah melaju sampai depan lobi utama, memantulkan bayangan dingin, gagah, dan menawan. Ya, sosok itu adalah Virian Pratama yang sedang memasuki gedung. Pukul 07.30 pagi, ia melangkah dengan tenang, seolah setiap pijakannya adalah perintah dan tanggung jawab.
Di belakangnya, menyusul cepat adalah Zen Adipura. Zen adalah sekretaris pribadi Virian dan juga teman kecilnya. Ia berlari menghampirinya, terlihat berusaha keras mengatur napasnya.
Saat mereka melintasi portal keamanan dan penjagaan yang ketat, suasana lobi yang ramai seketika mereda dan melirik ke arah lobi utama. Hanya suara sepatu Virian yang mendominasi keheningan itu. Semua staf menunduk.
“Selamat pagi, Pak Virian.” (ucap Kepala Keamanan).
“Pagi, Pak CEO.” (ucap para resepsionis).
Virian membalas hanya dengan anggukan kaku. Tatapan matanya tegas dan dingin, seperti permukaan danau yang membeku. Zen, yang berjalan di sampingnya, berbisik sangat pelan, memastikan hanya Virian yang mendengar. (ucap Zen, berbisik): “Pak Vir, kamu yakin harus membawa ransel hiking itu hari ini? Sangat mencolok sekali. Menurutku itu jelek sekali.”
Virian melirik Zen agak kesal dengan raut wajah geregetan. (ucap Virian, nada agak bisik-bisik dengan geregetan): “Itu urusanku. Kau fokus urus jadwal Bianca dan keluarga besar Pratama!”
(ucap Zen, nadanya cemas dan panik karena Virian kesal): “Eeh.. Sudah, Pak Vir. Aku sudah bilang kalau Anda mau ada rapat tertutup di luar kota sampai minggu depan.” Zen memaksakan senyum sopan dengan panik. “Tadi Bianca menelepon lagi. Dia bilang akan mampir ke kantor jam dua belas. Nadanya sepertinya Bianca tidak senang sekali, Vir.. eh..., Pak Vir maksudku...”
Saat mereka berdua berdiri di depan pintu lift dan menunggu lift pribadi terbuka, dua staf perempuan di sudut lobi saling berbisik.
(ucap Staf B): “Aduuh Aduuh, Gimana nggak ganteng sekali, dia kan CEO di PT ini. Tapi ketampanannya dingin sekali, seperti patung marmer.”
(Ucap Staf C): “Hei kamu kalo bicara hati-hati. Kamu tidak tau? Kalau Pak Virian itu sudah bertunangan dan dijodohkan dengan Ibu Bianca Sasmita, pemilik perusahaan di PT. Permata Indah Abadi. Ibu Bianca juga sangat cantik sekali dan itu sangat cocok dengan Pak CEO Virian. Andai saja aku bisa mendapatkan pria seperti Pak CEO.”
(Ucap Staf B): “Duh, kamu berharap tinggi sekali. Sudahlah, lupakan, kita lanjutkan tugas pekerjaan kita lagi.”
Di dalam lift, cermin mengembalikan bayangan dua pria yang sama-sama tertekan. Zen baru berani berbicara lebih santai. (ucap Zen, nadanya santai namun cemas): “Mereka bilang kamu Dingin, Vir. Padahal aku tahu kamu hanya kurang tidur dan jiwamu lelah seperti Es.”
(ucap Virian, menatap Zen tanpa ekspresi): “Lebih baik dianggap dingin, Zen, daripada mereka tahu tentang perusahaan ini yang mulai kerugiannya makin membesar oleh oknum-oknum yang merugikan orang lain. Aku sudah muak dengan setiap inci di kehidupan ini.”
Di ruang kantor Virian. Virian mencium aroma tajam kopi mahal dan tumpukan kertas baru yang menguar, aroma kesepian yang dibalut kemewahan.
(ucap Virian, suaranya tajam dan serius): “Laporan limbah.”
Zen meletakkan dokumen tebal di meja. (ucap Zen): “Ini laporannya, Pak Vir. Laporan resmi dari PGG mengklaim semuanya mengganjal menurutku. Sepertinya laporan ini palsu. Aku merasakan ada keganjilan pada laporan ini. Walau terlihat seperti asli, tapi ada keanehan pada isi laporan ini.”
Virian lalu mengeceknya dan membalik halaman dokumen. Jari-jarinya mengetuk tepi meja kaca. (ucap Virian): “Tentu saja palsu. Mereka membuang limbah berbahaya dekat dengan daerah permukiman padat. Banyak kerugian besar nanti pada perusahaan kita ini. Aku harus masuk ke sana. Dan Aku harus melihatnya sendiri.”
(ucap Zen, berjalan mondar-mandar cemas): “Ya Tuhan. Itu kriminal. Jadi, rencana gilamu: Menyamar. Sendirian. Demi mencari bukti kecurangan limbah Ayahmu. Ini bunuh diri karir mu sendiri, Vir!”
(ucap Virian): “Aku harus menjadi Vir. Aku tidak menolak perlindungan dari mu, Zen. Tapi jangan sampai mereka semua tahu. Atur tim pengawas untuk diriku dari jarak radius 500 meter untuk terus memantau ku. Dan Jangan ada yang mendekat sebelum ku kasih instruksinya.”
(ucap Zen, menghela napas panjang): “Baiklah. Aku akan pantau kamu dan menelepon kamu dua hingga tiga kali dalam sehari. Dan tolong, tolong jangan sampai kamu terlibat perkelahian jalanan. Atau ke hal lain yang merugikan dirimu. Aku tidak mau Ayahmu tahu.”
Setelah perbincangan selesai, Virian kembali ke penthouse untuk terakhir kalinya. Ia merasakan kelegaan yang aneh saat menyentuh kemeja katun murah di ranselnya.
Tiba-tiba, ponsel resminya berdering. Bianca Sasmita. Nama itu saja sudah terasa seperti belenggu.
(ucap Virian, mengangkat teleponnya dengan nada formal): “Ya, Bianca.”
(ucap Bianca, suaranya halus, tetapi terdengar jelas ada controlling tone di sana): “Sayang, Zen bilang kamu mengambil cuti? Apa kamu tidak memikirkan perjodohan kita? Kita harus terlihat stabil di hadapan media. Apa pun yang kamu lakukan, itu mempengaruhi rencana pernikahan kita nanti.”
(ucap Virian): “Itu semua sudah di atur oleh Zen. Dan Aku juga sedang ada urusan mendesak yang bersifat pribadi, Bianca. Aku akan kembali tepat waktu untuk pernikahan kita. Semua jadwal PGG sudah diurus Zen.”
(ucap Bianca, nada suaranya sedikit meninggi): “Aku tidak khawatir, Virian. Aku hanya tidak suka menunggu karena itu menyebalkan. Aku benci jika rencana pernikahan ini berantakan. Jangan sampai ada yang mengganggu rencanaku. Aku harap kamu mengerti.”
(ucap Virian, singkat, rasa muak menjalar di tenggorokannya): “Aku mengerti.” Ia memutus panggilan.
Pukul 02.00 dini hari. Virian mengenakan kemeja katun murahan dan celana cargo lusuh. Ia merasa asing, namun anehnya, nyaman. Ia mengirimkan lokasi persimpangan besar itu kepada Zen, bersama dengan alamat kos-kosan yang sudah disiapkan sebelumnya.
(Teks Virian kepada Zen): "Cepat jemput aku di [Nama Persimpangan Dream sleeping]. Sekarang. Ada yang ingin ku tanyakan. alamat kosan."
(Teks Zen kepada Virian): "HAH?! Sekarang?! Ini jam berapa sekarang, Vir?! Aku baru saja tidur tiga jam! Ponsel ku tinggal beberapa persen lagi baterai nya!"
(Lalu Pukul 04.15 pagi. Udara dingin pagi yang menusuk tulang dan tubuh yang masih mengantuk. Zen menuju lokasi menemui Virian.)
Tiba di lokasi titik pertemuan. (ucap Zen, nadanya mengantuk dan ceplas-ceplos): “Ada apa sih, Vir? Kamu seperti anak kecil yang kehilangan permennya dijalan. Apakah kamu mau membatalkan semua rencana ini dan mau kembali ke kantor?!”
(ucap Virian, ekspresinya serius dan frustrasi): “Penyamaran ini gagal, Zen. Aku masih terlalu terlihat seperti Virian. Aku butuh perubahan total. Aku ingin wajah yang tidak akan pernah dikenali sebagai Virian Pratama. Seperti rambut palsu atau kumis dan juga tanda-tanda di wajahku yang tidak sperti Virian yang dikenal di negri ini.”
(ucap Zen, tawanya konyol): “Hahahahahaha! Kau ada-ada saja, Vir! Itu buat repotku aja! Wajahmu sudah terlalu tampan untuk disembunyikan!”
(ucap Virian, matanya langsung menyipit. Suasana dalam mobil seketika menjadi tegang): “Apa kamu bilang? Buat repot?”
Zen langsung panik. (ucap Zen, keringat dingin mengucur di dahinya): “Eeh, eeh, engga, engga, Vir! Maksud ku, Pak Virian terlalu visioner! Tolong jangan tatap aku begitu!”
(ucap Virian, suaranya tenang, namun mengandung ancaman mematikan): “Aku butuh janggut palsu. Kumis. Rambut palsu yang berantakan. Jika kamu tidak menyiapkannya hari ini juga, maka…”
(ucap Virian, berbisik mengancam): “Bulan depan, gaji kamu ku potong tiga puluh lima persen, Zen.”
(ucap Zen, nadanya memelas): “Aah, hehehehe. Pak Virian, kalau lagi marah jangan serem-serem ya. Hehehe. Baiklah, aku carikan! Aku janji!”
(ucap Virian, mengangguk singkat): “Aku tunggu. Dan ingat, Zen. Nyawa pekerjaanku ada di tangan kamu. Jaga rahasia ini.”
Zen pergi meninggalkan lokasi. Selama 2 jam pencarian peralatan itu, Zen kembali membawa tas besar. Virian memasang janggut, kumis, dan wig. Ia mengamati bayangannya—seorang pria yang benar-benar baru.
(ucap Zen, nada formalnya kembali, bercampur kekhawatiran): “Sama-sama, Pak Vir. Hati-hati.” Zen mengulurkan uang tunai. “Ini sisa uang tunai kamu. Ingat pesananku.”
Setelah beberapa menit, Virian keluar dari mobil, berdiri di lokasi yang sangat asing. Ia menarik napas dalam-dalam, udara pagi yang kotor terasa nyata di paru-parunya. Ia berjalan kaki menuju tempat jual dan beli unit kendaraan seken yang sudah di atur oleh Zen untuk menemui seseorang yang bernama Pak Eko, pemilik usaha di bidang otomotif jual beli kendaraan roda dua dan empat seken.
(ucap Virian): “Selamat pagi, maaf, Pak.” Seorang bapak-bapak berjenggot putih melihat seorang anak muda berdiri di depan tokonya.
(Ucap Pak Eko): “Iya, silakan Nak, masuk. Mau cari kendaraan?” (senyum yang ramah)
(Ucap Virian): “Saya Vir. Mau beli motor bekas, Pak. Yang penting bisa jalan. Budget saya pas-pasan. Adakah?”
(ucap Pak Eko, menunjuk motor bebek butut): “Motor yang ini, Nak, lima juta. Mesinnya bandel. Nego tipis aja.”
Virian, merasakan gatal di janggut palsunya, bernegosiasi. (ucap Virian): “Empat juta, Pak. Saya harus hemat untuk sewa kos. Gimana?”
(ucap Pak Eko, nadanya tegas): “Paling banter, empat setengah. Itu sudah harga damai.”
(ucap Virian): “Empat juta tiga ratus, Pak. Itu sudah semua uang saya. Tolonglah.”
Pak Eko akhirnya mengangguk dan menyetujui tawaran Virian.
(ucap Pak Eko): “Baiklah. Empat juta tiga ratus. Deal.”
Setelah pengurusan unit kendaraan roda dua selesai, Virian menaiki motor bebek tua itu dan menuju ke alamat yang berikutnya. Koplingnya berderit, baunya bensin dan oli bekas. Virian, yang bertahun-tahun tidak mengemudi motor, mulai mengendarai motor itu dengan goyah.
(Monolog Virian): Sial. Aku harus fokus. Aku harus terlihat normal. Keseimbangan dan koplingnya sulit sekali!
Tiba di sebuah tikungan ke arah kanan, Virian terlambat mengerem. Motor butut itu meluncur kikuk dan menghantam tong sampah plastik. Bunyi ‘BRAaaaAAK!’ memekakkan telinga. Virian terjatuh ke sisi jalan.
(ucap Virian, ia bangkit dengan ringisan pelan, lututnya nyeri): “Sial! Sulit sekali membawa motor ini!”
Ia segera menarik motornya. Ia mendongak.
Beberapa meter dari tong sampah yang tumbang, dari ujung sekitar 7 meter, terdapat siluet yang sangat kontras.
Seorang gadis sedang duduk di kursi kecil di pinggiran trotoar. Ia dikelilingi oleh keranjang-keranjang penuh bunga segar, warnanya semarak, kontras dengan jalanan kumuh itu. Ia memegang payung lebar.
Gadis itu sangat cantik, tenang, dan tidak menoleh sedikit pun ke arah suara keras motor jatuh. Mata gadis itu, tertutup sempurna, menatap kosong ke kejauhan.
Virian berjalan pelan ke arah gadis itu. Setiap langkahnya terasa ragu.
(ucap Virian, nadanya lebih lembut dari yang pernah ia gunakan): “Permisi, Maaf. Apakah saya mengganggu? Motor saya terjatuh.”
Gadis itu sedikit terkejut. Wajahnya memancarkan ketenangan dan kecantikan yang natural. Wajah Virian terpesona melihat gadis itu.
(ucap Gadis itu, suaranya jernih dan manis, seperti lonceng kecil): “Tidak apa-apa, Tuan. Saya mendengarnya. Saya harap Tuan tidak terluka. Saya sudah terbiasa dengan kebisingan di sini.”
(ucap Virian, ia memperkenalkan diri): “Saya Vir. Bunga-bunga ini indah sekali. Apakah kamu sedang berjualan?”
(Ucap Gadis itu): “Iya, saya sedang menjual bunga-bunga indah ini yang segar aromanya."
(Ucap Virian): “Maaf... Tapi bagaimana Anda tahu bunga mana yang harus dipilih jika…” Virian berhenti mengatakannya khawatir menyinggung perasaan gadis itu.
Tetapi Gadis itu mengangguk pelan, memahami maksudnya.
(ucap Gadis itu): “Nama saya Karina Puspita Sari. Tidak apa-apa, Tuan. Saya tahu. Saya tunanetra, tidak bisa melihat.” Ia mencium aroma seikat mawar putih. “Saya tahu mana yang segar dari baunya, dari sentuhannya.”
(Monolog Virian): Aromanya, aura wajahnya, dan suaranya... ia melihat dunia dengan cara yang jauh lebih dalam daripadaku. Aku yang memiliki segalanya, justru buta terhadap realitas ini.
(ucap Virian, ia membeli semua mawar putih yang ada): “Jadi kalau ku beli, Berapa semuanya, Karina? Aku akan ambil semua mawar putih itu.”
Karina tersenyum. (ucap Karina): “Tuan pembeli yang boros ternyata. Totalnya seratus dua puluh ribu.”
Virian membayarnya.
(ucap Karina): “Terima kasih banyak, Tuan. Semoga bunga ini membawa kebaikan di hari Anda.”
(ucap Virian, ia berbisik. Suaranya nyaris tercekat): “Aku harap juga begitu, Karina, apakah kita bisa bertemu lagi lain waktu?”
(Ucap Karina): “Tuan, mencari ku dan mau bertemu lagi? Tuan tinggal datang di sini, di tempat ini. Saya selalu berjualan di hari Selasa, Rabu, dan Kamis.”
Virian menatapi wajah indah itu membuat dirinya lupa akan misi-misinya. (Ucap Virian): “Baiklah Karina, terima kasih, Sampai jumpa.”
Virian pergi, membawa mawar putih di ranselnya.
(Monolog Virian): Aku datang mencari kebenaran yang menyakitkan. Aku malah menemukan keindahan yang buta.
Beberapa jam setelah perjalanan dengan motor bebeknya, Virian berhasil mencapai kamar kos-kosan. Ruangan itu sempit, berbau pengap, kontras tajam sangat jauh sekali dengan penthouse-miliknya.
Ponsel rahasianya berdering keras. Itu Zen.
(ucap Virian, segera mengangkatnya): “Apa?”
(ucap Zen, nadanya histeris, terdengar di balik suara bising mobil): “VIRIAN PRATAMA! APA YANG KAMU LAKUKAN?! AKU MENDAPAT LAPORAN KAMU JATUH BERSAMA MOTOR DAN MENABRAK TONG SAMPAH! KAMU TIDAK APA APA?! APA TANGAN DAN KAKIMU COPOT?!”
(ucap Virian, menahan ringisan di lututnya): “Jangan lebay, Zen. Aku hanya jatuh sedikit. Aku baik-baik saja. Jangan membuat drama.”
(ucap Zen, merengek konyol): “Jatuh?! Itu kecelakaan! Bagaimana jika kamu patah kaki?! Aku akan dipecat, Pak Vir! Gaji 35% itu bukan main-main! Kenapa kamu tidak bisa mengendarai motor dengan benar?!”
(ucap Virian, suaranya kembali dingin dan menekan): “Lupakan, Vir. Aku baik-baik saja. Bagaimana tugasmu? Semua aman? Jangan sampai keluarga pratama dan Bianca mengetahui misi ini, aku tidak mau! Aku tidak mau kamu merusak penyamaranku hanya karena kamu panik.”
(ucap Zen, menarik napas dalam-dalam): “Baiklah! Tapi aku akan meneleponmu lagi nanti malam. Dan please, demi Tuhan, jangan berinteraksi dengan wanita manapun! Itu bahaya!”
(ucap Virian, ia menyunggingkan senyum kecil sinis, melihat mawar putih di sudut kamar): “Tidak ada Urusan itu denganmu, Zen.”
Virian menghabiskan sisa hari itu merawat lukanya dan merencanakan misi yang sudah disiapkannya.
(Monolog Virian): Aku tidak terluka oleh preman, tapi oleh kecanggunganku sendiri. Di sini, aku yang harus belajar, bukan mereka. Di sini, aku menemukan prinsip yang kucari.
Karina dan bunga-bunganya tetap menjadi satu-satunya titik fokus yang indah di tengah kekumuhan.
Virian tahu ia harus segera memulai misi limbahnya.
Ia mengeluarkan ponsel rahasianya.
(Ucap Virian dalam text pesan): "Misi berlanjut. Aset aman. Aku hari ini bertemu kebenaran yang aku cari selama ini. Aku bertemu nya di jalan. Namanya Karina."
Zen menjawab dalam hitungan detik.
(Teks Zen kepada Virian): "Siapa dia?! Jangan buat masalah romansa baru, Vir! Aku takut kamu mengacaukan semuanya!"
Virian tersenyum.
(Monolog Akhir Virian): Aku adalah CEO PGG, yang mencari bukti kecurangan-kecurangan perusahaanku sendiri. Aku ingin mencari bukti yang kuat dan aku sekarang sedang menyamar menjadi orang lain. Dengan penyamaranku ini, bersama motor butut dan sosok gadis buta yang baru saja ku temui beberapa jam lalu, di area yang akan ku gusur. Dan akan tetapi aku baru saja memiliki perasaan jatuh cinta pada gadis itu bernama Karina Puspita Sari, penjual bunga yang buta di pinggir jalan.
(Monolog Virian): Misi ini baru kita mulai, Zen. Dan ini akan jauh lebih besar daripada kecurangan limbah. Ini adalah takdir di ujung yang harus ku selesaikan dengan caraku ini.