keindahan di tengah Limbah

769 Words
Pagi menyambut Virian dengan nyeri pada lutut dan punggung. Dinding kamar kos yang tipis gagal meredam bising knalpot kendaraan, menciptakan melodi yang asing dan pengap. Virian, sang CEO yang kini menyandang nama "Vir", terbangun dengan keluhan fisik—sebuah realitas yang lebih jujur daripada jadwal rapat jutaan dolarnya. Peran barunya ini memberinya sensasi kebebasan yang brutal, sekaligus harga diri yang harus diuji ulang. Ia memutuskan untuk memulai riset di lapangan terdekat. Sambil berjalan kaki tidak jauh dari kos-kosannya. Virian memilih warung kopi sederhana di seberang jalan situs konstruksi besar yang dicurigai. Ia memesan kopi, lalu fokus pada ponsel rahasianya. (ucap Virian, mengirim pesan teks): “Zen, aku butuh daftar lengkap kontraktor yang menerima transfer besar dari PGG selama enam bulan terakhir. Prioritaskan perusahaan yang menangani limbah B3.” (ucap Zen, membalas pesan, nadanya tertekan): “Aku sudah kirimkan, Vir! Aku juga harus hadapi Direksi dan Bianca! Gaji ku naikkan 200% atau aku resign!” Virian mengabaikan ancaman itu. Matanya menyusuri daftar yang dikirimkan. PT. Wijaya Beton muncul sebagai kandidat utama yang mencurigakan. (ucap Virian, mengirim pesan, instruksi cepat): “Fokus ke Wijaya Beton. Kamu harus masuk ke sana hari ini, Zen. Siapkan identitas palsu ‘Inspektur Jasa Konstruksi Negara’. Aku akan memandumu dari jarak jauh.” (ucap Zen, membalas pesan, nada kepanikan yang diselingi arogansi khasnya): “Baiklah! Tapi kalau ketahuan, aku bilang saja aku lagi cosplay! Sial, kenapa aku harus jadi mata-matamu!” Virian tersenyum tipis, sebuah ekspresi langka yang menandakan ia puas dengan kepanikan Zen. Tekanan dari kantor justru melindunginya. Virian menghabiskan beberapa jam memantau truk, menganalisis pola, dan menunggu koordinat Zen. Virian memutuskan untuk berjalan mengelilingi wilayah, merekam lingkungan dengan matanya. Setiap sudut, setiap gang, adalah data yang harus diolah. Ia berjalan di trotoar, menjaga pandangannya tetap waspada. Saat Virian sedang berjalan, matanya sibuk melihat area, perhatiannya tiba-tiba terhenti. Di depannya, seorang wanita berjalan perlahan. Rambutnya lurus terurai rapi, ia membawa setangkai bunga Aster, dan yang paling penting—ia adalah Karina, sedang berjalan menggunakan tongkat putih. Virian langsung mematung. Sifat dingin CEO-nya berbenturan dengan gejolak emosi yang asing. (ucap Virian, suaranya sedikit kaku, penuh pengekangan): “Karina?” Karina menghentikan langkahnya. Senyum tipis terukir di bibirnya, seolah indra penciuman atau pendengarannya yang tajam sudah mengonfirmasi siapa yang menyapanya. (ucap Karina, hangat, seolah mengenali getaran atau aroma tubuh Virian): “Apakah Anda Tuan yang kemarin jatuh itu? Dan Anda yang membeli Mawar Putih saya?” (ucap Virian, malu-malu memuncak, sifat CEO dinginnya terkikis): “Iya, aku—maksudku, saya. Saya Vir. Aku tidak menyangka bertemu Anda di sini. Sedang apa Anda disini?” (ucap Karina, tertawa kecil, nada riang): “Dunia sempit, Tuan. Saya sudah hafal irama langkah kaki dan aroma yang berbeda di sini. Saya sedang mencari toko bunga di ujung jalan.” (ucap Virian, kini lebih berani, mengesampingkan misi): “Anda harus Hati-hati. Trotoar di sini banyak lubang.” Virian mau mencoba menuntunnya tapi mengurungkan niatnya. Saat Virian menatap Karina, ponsel rahasianya berbunyi dan bergetar hebat. Itu adalah telepon dari Zen. (ucap Virian, bergegas menjauh dari Karina): “Tunggu sebentar. Ada panggilan masuk di ponselku.” (ucap Karina, pandangan lurus ke depan, nada singkat): “Silakan, Tuan.” Tapi Karina berjalan pelan-pelan meninggalkan Vir. Virian langsung menjauh dari Karina. Ekspresinya berubah total, kembali ke mode CEO yang serius. (ucap Virian, berbisik tegang): “Zen, ada apa?” (ucap Zen, melalui telepon, suara panik dan terengah-engah): “Vir! Aku berhasil masuk! Tapi aku hampir ketahuan! Ada tumpukan drum PGG dan pekerja sedang membakar limbah! Aku kabur! Aku kirim fotonya sekarang!” Virian melihat foto-foto yang masuk ke layar. Wajahnya langsung mengeras, semua kelembutan yang ia rasakan tadi menguap. Amarah menggantikan rasa malu dan canggungnya. (ucap Virian, dingin, kembali ke mode CEO yang kejam): “Bagus. Kamu aman?” (ucap Zen, di seberang sana): “Aman, tapi aku butuh kenaikan gaji 300% setelah ini!” (ucap Virian): “Nanti kita bahas. Sekarang, kembali ke kantor, jangan hubungi aku lagi.” Virian menutup telepon, lalu menoleh ke tempat Karina berdiri. Karina sudah melanjutkan langkahnya. Virian ingin menghampirinya tapi tidak jadi, dan membiarkan Karina meninggalkannya. Bukti kejahatan Ayahnya kini jauh lebih nyata daripada sentuhan romantis yang baru ia rasakan, dan kegagalan mendekati Karina terasa menyakitkan. Virian melihat foto-foto di layar: Drum PGG dan limbah dibakar. Ayahnya terlibat langsung. Dukungan logistik yang membuatnya merasa bergantung pada Zen, kini terbayar dengan harga yang sangat mahal. Ia harus menjatuhkan Ayahnya. Ia butuh keberanian dan data konkret yang nyata, bukan yang didapat dari kemewahan. Dan sepertinya, ia tahu di mana ia bisa mendapatkan semua dan ketenangan itu—di tempat di mana keindahan ada meski tanpa penglihatan. Besok, ia harus bertemu Karina.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD