Tawaran Sang Programmer

2251 Words
Udara di penthouse terasa dingin dan berat. Virian berdiri di depan jendela kaca, membelakangi Zen, seolah amarahnya yang terpendam di Rapat Dewan Direksi terpantul dari wajahnya yang tegang. Ia membutuhkan solusi dalam 24 jam. (ucap Virian, suaranya tajam, tidak sabar): “Zen, enkripsi ini harus pecah. Segera cari koneksi yang aku butuhkan sekarang! Aku tidak peduli dia siapa, atau dari mana.” Zen menunduk, menghela napas panjang hingga bahunya turun, lalu memasukkan kedua tangan ke saku celana suit mahalnya. Ekspresinya menunjukkan rasa malu bercampur ketakutan yang dalam. (ucap Zen, nadanya perlahan, jujur): “Vir, sebenernya ada... hanya satu harapan lagi. Sudah lama sekali saya tidak menghubunginya. Kalau saya tiba-tiba muncul, dia akan curiga besar.” (ucap Virian, membalikkan badan, pandangannya menajam, mengamati ekspresi Zen yang cemas): “Siapa dia? Jelaskan padaku.” (ucap Zen, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, matanya menghindari tatapan tajam Virian): “Namanya Kido. Dia dulunya seorang IT Bank Mandala Sentosa, lalu menjadi programmer handal di Prima Komputasi Asia (PKA). Dia itu guru saya dulu.” Virian tertegun. Ia menyilangkan tangan di d**a, menunjukkan kejutan dan penilaian yang tersembunyi. Mendengar nama-nama korporat top-tier itu mengusik naluri bisnisnya. (ucap Virian, nadanya dingin, namun ada minat yang jelas): “Apa? Kamu serius, Zen? Bank Mandala Sentosa? PKA? Kenapa aku tidak pernah mendengar namanya? Kenapa orang sehebat itu sekarang bersembunyi? Kenapa kamu tidak pernah cerita?” (ucap Zen, matanya bertemu Virian, penuh panik dan sedikit gelisah): “Iya, benar, Vir. Dia punya kode etik yang kuat. Alasan Kamu tidak tahu, Vir, karena dia hanya bekerja di back-end sistem dan hanya melayani kontrak project jangka pendek. Dia bukan orang yang suka dipublikasikan atau mencari ketenaran, juga tidak mencari posisi Direksi di perusahaan-perusahaan ternama. Kenapa saya tidak cerita, Vir? Karena... saya memiliki trauma besar dengan Kido. Saya menjamin dengan ilmu Kido. Cuma dia yang bisa memecahkan enkripsi Ayah Kamu, Vir!” (ucap Virian, pandangannya berubah menjadi tekad yang tajam, ia maju selangkah dan tanpa basa basi): “Bagus. Temui aku dengan Kido sekarang! Aku harus melihat sejauh mana kekuatan teman kamu itu untuk mengalahkan Bianca dan orang-orang licik yang serakah dengan aset PGG.” (ucap Zen, langsung panik, ia mondar-mandir histeris sambil mengibas-ngibaskan tangan): “TIDAK, VIR! Jangan gila! Tempat itu zona merah! Kamu selalu bawa ponsel resmi yang penuh data sensitif! Kalau data PGG hilang di sana, saya pasti dipecat oleh Bapak, Vir! Saya bisa dipenjara seumur hidup! Saya mohon! Cari solusi lainnya!” (ucap Virian, matanya menyipit, bibirnya membentuk senyum tipis, geregetan melihat drama Zen): “Zen! Kamu takut atau kamu takut aku melihat masa lalu kamu?” (ucap Zen, panik nadanya memelas, memaksakan tawa konyol yang terdengar seperti rintihan): “Aah, bukan begitu Pak.... intinya.... ah sudah lah saya nyerah Pak Virian! Bapak terlalu visioner! Saya hanya tidak mau Bapak kena masalah lebih besar. Tapi kalau Bapak bersikeras... baiklah! Saya menyerah! Tapi satu syarat mutlak!” (ucap Virian, mendengus): “Apa?” (ucap Zen, menunjuk Virian dengan telunjuk bergetar): “Jangan pecat saya pertama!! Kedua saya masih punya cicilan, dan roti keju leleh di restoran dekat kantor PGG itu lezat! Kalau Bapak pecat, saya tidak bisa jajan roti keju leleh itu lagi! Hahahaha....” (ucap Virian, dengan tegas dan wajah mendekat): “Kau buat ulah beribu ribu kali, pernahkah aku pecat kamu, Zen? Seriuslah sedikit!” (Zen keringat dingin, tidak bisa bercanda dan mulai serius wajahnya): “Eeh maaf Pak... jadi Bapak tidak boleh bawa SATU PUN barang elektronik yang terkait dengan PGG! Tinggalkan ponsel, tablet, smartwatch, dan dompet yang ada kartu kredit PGG! Bapak harus kosong! Kalau tidak, saya resign sekarang, gaji dipotong 100% pun saya terima daripada data PGG lenyap!” (ucap Virian, terpaksa tersenyum tipis karena kekonyolan Zen, namun tatapannya serius): “Baik. Deal. Aku hanya membawa uang tunai.” (Zen narik nafasnya dengan wajah terpaksa untuk mengantar kan Virian bertemu Kido): “Aaah wajahku mau di taro mana. Gue punya utang sama Kido $500!” (Ucap dalam hati Zen) Virian kembali menggunakan penyamaran 'Vir' dengan pakaian lusuh, janggut palsu, dan wig. Mereka pergi menggunakan mobil pinjaman Zen. Perjalanan ke Kota Karta—sebuah kawasan industri lama yang berfungsi sebagai kota penyangga Jayadwipa—memakan waktu hampir tiga jam. Ketegangan dan kecemasan Zen mendominasi suasana mobil. Virian bersabar mendengarkan ocehan Zen yang tiada henti sepanjang perjalanan. (ucap Zen, terus mengoceh, matanya waspada melihat spion): “Pak Virian, nanti kalau ada yang bertanya, Bapak harus diam saja, ya. Jangan bilang Bapak CEO. Bilang saja Bapak freelancer miskin yang mau bayar saya dengan sisa gaji saya! Dan tolong, jangan bersikap dingin! Bapak terlalu tampan untuk tempat ini!” (ucap Virian, menahan napas panjang, geregetan, tangannya mencengkeram lutut): “Zen! Aku tidak membawa apa-apa. Fokus menyetir dan jangan bicara lagi.” Tiba di Kota Karta—kawasan industri tua yang dipenuhi bangunan bobrok, gang-gang sempit, dan Bar-Bar pekerja. Zen memarkir mobil. Mereka mulai mencari Kido, Virian berjalan dengan langkah waspada, sementara Zen berjalan cepat penuh ketakutan. Beberapa jam berlalu. Mereka memutari bangunan tua, Virian sudah kehabisan kesabaran. (ucap Virian, nadanya menegas): “Kamu bilang dia guru kamu. Dimana dia, Zen? Aku tidak punya waktu.” (ucap Zen, panik, ia menggaruk kepala, menampilkan mimik konyol): “Sabar, Pak! Guru itu bukan hantu! Dia pasti ada di sekitar sini. Aduh! Jangan buat saya panik, Pak! Kalau saya panik, saya lupa semua password PGG dan roti keju leleh, lho!” Virian hanya mendengus. Saat mereka memutari tikungan, Zen tiba-tiba mematung, menunjuk ke sebuah Bar. (ucap Zen, berbisik histeris): “Itu! Di depan Bar itu! Itu siluetnya! Rambutnya... itu Kido!” Zen berlari ke arah Bar itu. Di depan Bar itu, duduklah seorang pria muda ber-hoodie, tatapannya tajam, sedang merokok. Dia menoleh dan melihat Zen, lalu melihat Virian, pria tak dikenal, yang berdiri di belakang Zen. (ucap Kido, terkejut, matanya membelalak penuh paranoid): “Zen? Loe... kenapa loe di sini? Dan siapa pria itu?!” Kido langsung membuang rokoknya, berlari dan melompati pagar di samping bar, memasuki gang sempit yang gelap. (ucap Kido, berteriak sambil lari, menoleh ke arah Virian): “Zen! Lo bawa orang Cyber Polisi?! Loe gak akan bisa nangkap gue! Data Bank Global Aksara gak ada di tangan gue!” Zen berlari mengejar, tetapi kecepatannya langsung turun drastis. Ia memegang lututnya, wajahnya memerah karena kelelahan. (ucap Zen, panik total, berteriak sambil mengejar, napasnya tersengal): “KIDO! TUNGGU!!! Saya mau bicara! Dia bukan polisi!!! Tunggu penjelasan saya dulu! Dia ini sahabat saya, Vir! Dia bos saya juga..!!!! Kido woy!!!! Astaga.... Hosh... Hosh... Hosh...” (Zen memegang sisi tubuhnya, napasnya mulai ngos-ngosan.) Zen berhenti sejenak, membungkuk, menunjuk Virian yang masih mengejar di depannya. (ucap Zen, suaranya putus-putus, mendesak): “Vir! Kamu kejar dia... Saya lelah....” Zen masih mencoba berjalan cepat, tetapi tubuhnya sudah menyerah. Virian, sang CEO berdarah atlet yang terlatih, mengambil alih. Ia mengabaikan rintihan Zen dan meningkatkan kecepatan. Gerakannya tajam, cepat, dan efisien. Virian melompati tembok setinggi pinggang, mengambil jalan pintas diagonal, dan mempersempit jarak dengan Kido. Pengejaran semakin intens. Kido memasuki gudang tua yang gelap, memanjat tumpukan peti besi tua yang berkarat. Virian melompat mengejar ke atas peti yang licin. Virian berhasil meraih hoodie Kido. Virian menariknya kuat. Kido jatuh dan Virian ikut terhuyung. (ucap Virian, menarik keras): “Berhenti! Aku tidak akan menyakiti kamu!” Kido tidak menjawab. Ia berbalik cepat. Dengan gerakan refleks beladiri jalanan, Kido menyikut perut Virian. Ugh! (Virian mendesis menahan sakit.) Kido memanfaatkan momentum. Ia menendang d**a Virian dan Virian terhempas ke tumpukan palet kayu di dekat dinding. (ucap Kido, terengah, berdiri dalam posisi waspada): “Gue tahu cara bertarung! Loe pikir gue cuma duduk di depan komputer!” Virian bangkit. Wajahnya kini terdapat lebam samar di tulang pipi akibat benturan keras. Virian menyeka sudut bibirnya. Darahnya mendidih, ia mengerti Kido adalah lawan yang tidak mudah. Virian bergerak menyerang. Dengan kecepatan superiornya, ia melayangkan pukulan lurus yang berhasil dihindari Kido. Kido membalas dengan tendangan sapuan, tetapi Virian melompat mundur. Mereka berdua terengah-engah. Kido kembali berlari ke arah cerobong asap kecil, berharap Virian tidak bisa mengejarnya. Virian mengejar, ia tahu ia harus mengakhiri ini sebelum Zen datang dan keadaan makin kacau. Pengejaran berakhir di lorong sempit. Kido, kehabisan pilihan, mencoba menghadapi Virian lagi. Kido melayangkan pukulan cepat. Virian menangkap pergelangan tangan Kido, memutarnya, dan dengan kekuatan fisiknya yang unggul, Virian membanting tubuh Kido ke dinding beton. Brakk! (Kido menjerit tertahan, tubuhnya terkulai.) Virian segera menduduki punggung Kido, menahan kedua tangan Kido di belakang tubuhnya dengan kuat. Virian terengah, bajunya kotor dan lusuh. Wajah Kido kini terdapat lebam di pelipis, dan pakaiannya robek. (ucap Virian, suaranya tajam, mengatur napas): “Selesai. Aku datang dengan damai. Kamu yang memilih bertarung.” Tak lama kemudian, Zen muncul, berjalan pincang dengan wajah konyol dan penuh lumpur di celananya. (ucap Zen, ngos-ngosan, menyeka wajahnya dengan lengan baju): “Paaak Virian! Hosh... Bapak... Bapak gila! Bapak benar-benar jago! Woi Kido... Saya bersumpah dia bukan orang cyber!” Virian bangkit, menarik Kido agar berdiri. Kido menyentuh lebam di pelipisnya, matanya penuh curiga. (ucap Kido, suaranya serak dan emosional): “Lepasin gue. Loe siapa hah!!??. Gue gak percaya Zen... loe salah satu sindikat orang cyber dan organisasi dari PGG. Data-data loe gue tau!! Loe berdua suruhan siapa???. Lepasin gue!” (ucap Virian, tegas): “Saya Virian Pratama!” (ucap Kido, tertawa sinis): “Hahahahahaha... Cuih! (Meludah) Anj***g!! Loe Virian? Hahahahahaha. Gue tau Virian Pratama sosok CEO PGG di Jayadwipa. Gue tahu Aryo Pratama. Gue tahu semua staf manajemennya. Gue tau semuanya.” (Kido kembali menarik diri dengan curiga.) (ucap Zen, panik): “Kido, dia itu Virian! Astaga, Kido!!! Percayalah...” (ucap Kido, sinis, meludah): “Cuihh! Bangs**t lo, Zen!! Loe selama ini gue ajarin ilmu ternyata menjadi penghianat!! Gue gak percaya dia Virian Pratama. Lepasin gue!!! Gak akan Virian mempertaruhkan segalanya untuk melawan Ayahnya sendiri hanya demi etika.” Virian menatap mata Kido. Ia tahu, kata-kata dan janji tidak cukup. Hanya kebenaran fisik yang akan meyakinkan hacker paranoid ini. Virian segera mengangkat tangannya, mencengkeram janggut dan kumis palsu yang ia kenakan, lalu menariknya lepas dengan gerakan cepat. Wig lusuhnya menyusul, terlepas dari kepalanya. Wajah tampan dan mata tajam Virian Pratama yang asli—meski kini ada lebam di pipi—terpampang jelas. Kido terkejut. Matanya membelalak, semua keraguan lenyap seketika. Virian Pratama yang sebenarnya, yang fotonya ia hafal dari database perusahaan, berdiri di depannya. (ucap Kido, suaranya pelan, kaget): “Ini... Loe benar-benar Virian Pratama.” (ucap Virian, nada suaranya mengeras, memanfaatkan keterkejutan Kido): “Ya. Aku adalah musuh Ayahku sendiri. Dan aku tidak punya waktu untuk bersandiwara. Bukti apa lagi yang kamu butuhkan?” Virian menyebutkan detail teknis yang hanya diketahui oleh orang di lingkaran Aryo Pratama: “Dengarkan baik-baik. Minggu lalu, Bianca dan Aryo menggunakan kode Tripartite-Sigma untuk mengatur transfer dana. Aku tahu kode PGG dari ujung ke ujung.” (ucap Kido, mengangguk perlahan, mengakui kebenaran Virian): “Tripartite-Sigma... Benar. Itu kode bank yang kuno. Gak mungkin loe tahu jika loe cuma security atau polisi. Loe benar. Loe adalah musuh sejati Aryo Pratama.” (ucap Virian, mengambil napas, memulihkan ketenangannya): “Aku musuhnya. Jadi, apa tawaran kamu?” (ucap Kido, mata Kido bersinar tajam, ia melihat peluang besar, ia menyeringai): “Gue akan memecahkan enkripsi Triple-DES sialan itu. Tapi bayarannya bukan uang. Gue punya syarat.” (ucap Virian, nada suaranya kembali dingin, curiga): “Katakan.” (ucap Kido, mata Kido bersinar tajam, ia melihat peluang besar, ia menyeringai): “Setelah loe berhasil mengambil alih PGG, gue gak butuh saham atau uang. Gue ingin akses penuh ke seluruh server cadangan PGG di Jayadwipa. Gue ingin semua data, source code, dan backdoor dari PGG untuk gue gunakan. Itu akan membuat gue menjadi hacker terkuat di Asia, dan gue bisa membongkar kebusukan korporat dari dalam. Loe setuju?” Tawaran itu bagai bom. Kido tidak meminta uang, melainkan senjata paling rahasia PGG. Virian harus mempertaruhkan keamanan data PGG di masa depan untuk menyelamatkan diri dan kebenasan saat ini. (ucap Virian, wajahnya mengeras, terkejut dan merasakan beratnya konsekuensi): “Kamu gila. Itu adalah aset negara. Aku tidak bisa memberikan kunci seluruh PGG hanya demi satu file enkripsi!” Zen, yang sedari tadi terdiam kaget melihat samaran Virian terbuka, kini membelalakkan mata mendengar tawaran Kido. Ia melangkah maju. (ucap Zen, berbisik, nyaris panik): “Pak Virian, jangan! Dia bercanda! Kita bisa dinegosiasikan dengan uang... Kido, kamu minta apa sih? Itu gila!” (ucap Kido, mengangkat bahu, senyum sinisnya tetap ada): “Ini komitmen gue. Pikirkan baik-baik, CEO. Tanpa gue, loe gak punya bukti. Tanpa loe, gue tetap buronan. Tapi dengan gue, loe mendapatkan perusahaan loe kembali. Gue cuma butuh kunci masuk. Loe setuju atau gue pergi sekarang juga?” Virian menatap Kido. Mata tajam Kido tidak menunjukkan negosiasi. Virian melihat ke Zen, yang wajahnya pucat pasi. Virian tahu ia tidak punya waktu lagi. (ucap Virian, menghela napas yang sangat berat, wajahnya penuh dilema): “Aku tidak bisa menjawab sekarang. Aku butuh waktu untuk mencerna permintaan kamu ini.” Virian menahan tangannya yang hendak mengulurkan tangan. “Aku akan kembali malam ini. Jika aku setuju, kamu harus segera bekerja. Jika aku tidak setuju, aku akan menjamin kamu aman dari pengejaran Cyber Polisi. Bagaimana?” (ucap Kido, terdiam sejenak, menimbang kejujuran Virian): “Baik. Gue akan nunggu di tempat ini. Tapi jangan coba-coba bawa polisi. Gue kasih loe waktu enam jam.” Kido berbalik, mengabaikan Virian dan Zen. Ia mulai berjalan tertatih menuju kedalaman lorong gelap, membiarkan dua elit Jayadwipa itu tertekan oleh keputusannya. Zen menatap Virian, wajahnya penuh kekhawatiran. (ucap Zen, lirih): “Vir, kamu tidak akan benar-benar memberikan kunci PGG kepada dia, kan?” Virian hanya menatap ke arah gelap tempat Kido menghilang, wajahnya mengeras penuh dilema.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD