Sosok bertubuh tinggi melangkah dengan jaket tebal yang menutupi kepalanya, menuju sebuah lorong yang posisinya tidak begitu jauh dari kos-kosan tempatnya tinggal.
Langkah kakinya perlahan, namun pasti, melewati tembok kosong sebelum akhirnya ia berdiri di tengah-tengah dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya.
Ekspresi wajahnya tenang. Di bawah sorot lampu yang tidak begitu terang alias remang-remang, matanya terlihat tajam dengan rahang tegas, juga wajahnya yang terlihat tidak ada ekspresi sama sekali.
Dia adalah David Jackson yang saat ini berdiri memunggungi satu orang pria mengenakan setelan jas eksekutif melangkah di belakangnya.
"Apa yang membawa kamu kemari?" Adalah pertanyaan dingin yang diajukannya pada sosok yang beberapa waktu lalu ia sadari sudah mengikuti kegiatannya.
Sebagai seseorang pengamat yang mengandalkan insting, tentu David tahu jika orang ini sudah mengikutinya beberapa waktu yang lalu.
Terlalu malas jika hidupnya selalu dipantau, David memilih untuk keluar dari zona nyamannya dan bertanya langsung.
"Tuan David, Tuan besar meminta agar Tuan bisa kembali ke rumah. Tuan besar ingin agar Tuan David melanjutkan bisnisnya," kata pria itu, dengan nada sama dinginnya.
David tersenyum miring mendengar pernyataan tersebut. Pemuda itu memutar tubuhnya ke belakang dan menatap langsung sosok pria paruh baya yang sudah ia ketahui sejak lama jika pria ini adalah pengikut 'Tuan besar' yang tidak lain adalah kakeknya.
"Apa Daniel masih kurang mumpuni untuk mengurus perusahaan? Kenapa harus terus mencari keberadaanku?" Pemuda itu memiringkan kepalanya ke sisi kanan menatap Ilyas--tangan kanan kakeknya--yang sudah menemukan keberadaannya.
"Tuan besar hanya ingin keturunannya tetap bekerja di perusahaan dan membesarkan perusahaan. Jika Tuan Daniel bisa membuat perusahaan mendapatkan keuntungan yang besar, tidak menutup kemungkinan jika Tuan David juga bisa melakukan hal yang sama. Terlebih lagi Tuan besar sangat tahu jika kemampuan Tuan David tentu jauh lebih baik daripada Tuan Daniel," jawab Ilyas dengan tenangnya.
David terkekeh mendengar ucapan tersebut. Tidak merasa bangga ataupun terharu sama sekali atas pujian yang secara tidak langsung dilontarkan.
Pemuda itu adalah laki-laki yang bebas mengekspresikan apapun yang diinginkannya, tidak pernah terkurung ataupun terkukung akan sesuatu.
Cukup Daniel--kakaknya--yang mau menjadi b***k keluarga tersebut. Dirinya ingin bebas melakukan apapun yang diinginkan olehnya.
"Katakan pada kakek kalau aku nggak tertarik sama sekali untuk bergabung dengan perusahaan. Lakukan apa yang dia mau karena aku nggak akan berurusan dengan hal-hal yang terikat. Kak Daniel jauh lebih baik daripada aku," ujar David dengan tenangnya. "Katakan juga pada Kakek jangan serakah, karena nanti bisa saja dia akan kehilangan keduanya."
David tersenyum miring, kemudian segera pemuda itu melangkah pergi meninggalkan Ilyas sendiri di dalam lorong sepi tak berpenghuni.
Pria paruh baya itu kemudian mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya dan meletakkan ponsel tersebut di telinganya.
"Tuan sudah mendengar langsung apa jawaban dari Tuan David?"
"Ilyas, apa kamu pikir aku tuli sehingga aku tidak bisa mendengar apa yang dikatakan oleh cucuku?" Sambutan dingin diikuti suara dengusan terdengar, membuat Ilyas mengangguk, kemudian berdehem saat sadar jika tuannya tidak akan mungkin bisa melihat anggukan kepalanya mengingat mereka terpisah jarak ribuan KM jauhnya.
"Jadi, Apa yang harus saya lakukan?" Ilyas bertanya karena ia tidak akan bergerak tanpa komando dari atasannya.
Terdengar suara hembusan napas di seberang telepon. "Biarkan saja dia mau melakukan apapun. Kamu awasi dia dan lindungi dia, jangan sampai dia melakukan sesuatu yang merugikan dirinya sendiri."
"Baik, Tuan."
Sambungan telepon berakhir begitu saja, dengan Ilyas yang kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, sebelum pria baru baya itu berputar dan meninggalkan lorong tersebut.
Sementara David yang sudah berada di area kos-annya kini berdiri di depan rumah di mana di dalam rumah tersebut ada sosok yang sangat diinginkannya untuk dimiliki.
Sisilia.
Membayangkan senyum dan juga tawa perempuan itu membuat David tanpa sadar tersenyum.
David kemudian berbalik, pergi menuju kamar kos-annya dan melakukan aktivitas biasa yang sering ia lakukan, apalagi jika bukan memantau keadaan rumah Sisilia.
Pemuda itu tampak tersenyum melihat Sisilia yang saat ini sedang menata barang-barang yang dibeli beberapa waktu lalu.
Ada juga sosok lain yang saat ini duduk di sofa, terlihat santai memainkan ponselnya.
Jarum jam sudah menunjukkan di angka 12, namun kedua perempuan itu masih sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Tidak ada yang beranjak langsung masuk ke dalam kamar dan tidur.
"Deb, kamu seriusan nggak ada niat untuk menerima tawaran Ezra buat balikan lagi?"
Debora yang sedang men-scroll video di ponselnya sedikit menghentikan gerakannya ketika mendengar nama yang disebutkan oleh sahabatnya itu.
"Nggak ada niat dan nggak ada minat. Lagian juga, cinta lama itu udah nggak ada lagi. Aku pacaran dengan dia waktu umur 16 tahun, waktu itu baru tahu kalau papa ternyata sudah berkhianat. Jadi, di bawah umur, aku sudah mengalami dua kali patah hati. Jadi, nggak ada minat lagi untuk menjalin hubungan ataupun patah hati untuk yang ketiga kalinya."
Debora menjawab dengan santai, sambil kembali melihat-lihat video yang lewat berandanya. Ingin sekali ia membuat video joget-joget seperti ini, namun Debora masih tidak terlalu paham dengan cara kerja aplikasi ini.
Maka dari itu, sudah 5 hari ia mendownload aplikasi ini dan mempelajarinya agar ia paham.
"Padahal kejadiannya, kayaknya udah 13 tahun yang lalu. Tapi, kamu masih trauma sampai sekarang. Kalau kamu nggak mau dengan Ezra, kenapa nggak buka hati dengan cowok lain aja?"
"Kalau aku gagal move on dari Ezra, masih masuk akal. Dia ganteng, kaya raya, pekerjaannya sekarang mapan, pokoknya idola banyak perempuan. Kecuali, me. Sayangnya, aku udah nggak tertarik lagi mau menjalin hubungan dengan dia. Nah, kamu--" Debora menatap Sisilia yang saat ini sedang memilah-milah pakaian dan melanjutkan kalimatnya dengan santai, "pacaran sama pulu-pulu, udah gitu dikhianatin, keluarganya bukan yang kaya raya banget. Eh, double dong sakitnya karena nikahnya cuma 100 hari."
"Ish, Deb, bisa nggak kamu nggak usah ungkit tentang orang itu lagi? Muak aku, kalau diingatkan dengan kebodohanku," sungut Sisilia. "Tapi, bagiku mereka sudah kaya banget. Buktinya mereka mengganti rugi satu miliar lebih untuk aku. Belum lagi uang yang diberikan oleh laki-laki itu, yang aku gunakan untuk bisnis sekarang."
"Kalau menurut versiku, itu nggak kaya. Masih sederhana."
"Kayak gitu kamu sebut sederhana, kalau aku ini apa?"
"Miskin 'sih. Tapi, anehnya kok aku betah banget bersahabat sama kamu?"
Sisilia menggelengkan kepalanya, tidak tersinggung sama sekali dengan ungkapan yang dilontarkan oleh Debora karena memang kenyataannya, keluarganya berasal dari keluarga sederhana bukan keluarga kaya raya dengan banyak aset dan juga uang ratusan miliar seperti Debora.