Sisilia terperanjat dengan kehadiran Debora yang sudah tiba-tiba berada di dalam rumahnya.
Pintu rumahnya memang tidak tertutup karena memang disengaja oleh Sisilia mengingat jika di dalam rumah ini ada seorang laki-laki dewasa. Menghalangi dirinya dari fitnah ataupun prasangka buruk dari orang lain, tentu membuka pintu adalah hal yang harus dilakukan.
"Kamu bikin kaget aja, Deb. Bisa nggak, kalau lagi di depan pintu itu minimal kasih salam. Kalau nggak kasih salam, kasih kode. Sampai hampir jantungan aku gara-gara kamu," rutuk Sisilia merasa kesal.
Sementara David diam-diam merasa lega dengan kehadiran Debora. Bukan apa-apa, tadi tidak sengaja kelepasan memanggil Sisilia dengan sebutan 'Sayang' yang seharusnya belum direalisasikan mengingat jika hubungan masih sebatas rekan kerja maupun antara induk kos dan juga anak kos.
"Kalau aku kasih salam dari luar, Aku nggak bakalan melihat kalian berdua bersusah payah menggotong tangga dari belakang sampai ke dalam kamar," jawab Debora sambil masuk.
Ditatapnya tumpukan barang-barang milik Sisilia, dan memilih untuk duduk di salah satu sofa yang kosong.
"Kamu jadi beneran berarti mau jualan pakaian dan juga perlengkapan perempuan," komentarnya setelah duduk. Dari ruang tamu ia bisa melihat kamar Sisilia yang pintunya terbuka di mana perempuan itu sedang membantu membuka tangga bersama David yang juga sedang bersiap untuk memanjatnya agar bisa mengganti lampu kamar yang tiba-tiba saja padam.
"Iya. Kemarin habis belanja, terus rencananya mau cari tanggal yang baik buat mulai jualan. Aku nanti mau ngadain live juga, kamu mau ikut jualan nggak? Kamu selebgram, kayaknya kalau kamu jualan pasti bakalan laku juga."
"Boleh deh. Daripada nggak ada kerjaan," jawab Debora. "Kalian berdua udah pacaran?"
Sisilia nyaris melepaskan tangga yang sedang ia pegang ketika mendengar pertanyaan konyol dari sahabatnya. Sementara David yang sudah menaiki undakan anak tangga menghentikan gerakannya sejenak sebelum akhirnya melanjutkan dengan mulai memeriksa kabel di atas.
"Sembarangan kamu bilang. David ini 5 tahun lebih muda dari aku, nggak mungkin dia mau sama mbak-mbak yang udah tua, janda lagi," kata Sisilia, sambil terkekeh geli. Pemikiran sahabatnya ini memang terkadang tidak normal seperti pada umumnya karena bisa-bisanya berpikir dirinya dan juga David menjalin hubungan.
"Ada laki-laki umur 30 tahunan nikah sama nenek-nenek umur 60 tahunan. Ada juga yang laki-laki umur 20 tahunan, nikah sama ibu-ibu umur 40 tahunan. Apalagi kalian yang cuma beda 5 tahun doang, nggak apa-apa lah. Status janda juga nggak masalah. Semua janda di dunia ini berhak untuk bahagia," balas Debora dengan tenang.
Sisilia langsung menolehkan kepalanya menatap sahabatnya itu dengan kernyitan di dahinya.
"Kamu habis kesambet apa? Tumben-tumbennya kamu bijak. Biasanya juga kamu awur-awuran."
Terlihat Debora mengangkat bahunya. "Aku cuma lagi pengen bijak aja hari ini. Soalnya tadi aku habis menampar Ibu tiriku."
Sisilia tersedak ludahnya sendiri ketika mendengar pernyataan dari sahabatnya.
Menampar ibu tirinya sendiri? Hei, mungkin hanya Debora manusia satu-satunya yang begitu berani dengan ibu tirinya.
"Papa kamu nggak ngamuk kalau tahu kamu menampar istri kesayangannya?" Sisilia membayangkan betapa rusuhnya di kediaman orang tua Debora saat Debora menampar wajah ibu tirinya.
Papanya Debora pasti akan memberikan pelajaran pada sahabatnya itu.
"Oh, aku juga lupa kasih tahu sama kamu kalau aku hari ini habis memecahkan kepala papaku dengan sebotol anggur milik Opa yang baru saja sampai dari gudang opa yang ada di Italia."
Debora berkata dengan santai dan tenangnya membuat Sisilia menggigit lidahnya sendiri.
Hei, sepertinya label sebagai anak durhaka akan dinobatkan pada Debora yang tidak tanggung-tanggung bukan hanya ibu tirinya yang diberi pelajaran namun juga papa kandungnya pun mendapatkan pelajaran dari gadis ini.
"Terus apa kata mama kamu?"
"Mamaku memberikan tinju ke hidung perempuan itu dan sepertinya hidungnya patah hasil operasi 2 bulan yang lalu."
Tidak ada kalimat yang bisa dilontarkan oleh Sisilia lagi selain mengacungkan jempolnya pada sang sahabat yang memang tiada duanya dalam hal untuk membalas.
Papanya Debora memang menikah lagi dan memiliki istri muda. Meski begitu, mamanya Debora menolak untuk bercerai dan lebih memilih untuk menguras harta milik papanya Debora.
Berkat kedekatan mamanya dengan orang tua dari papanya, mamanya Debora dan juga Debora sendiri sudah mengantongi banyak aset dan juga pundi-pundi keuangan.
Bercerai dengan terburu-buru tanpa membawa apapun jelas merupakan kerugian bagi perempuan. Mamanya Debora selain tidak ingin harta benda akan dinikmati oleh perempuan yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah tangga mereka, ia juga akan membuat anak dari perempuan kedua itu tidak mendapatkan status yang sah.
Orang bilang anak-anak tidak bersalah, hei, maka dari itu sebagai orang tua sebelum melakukan sesuatu seharusnya berpikir panjang dulu, apakah keputusan yang diambil tepat atau tidak. Risiko untuk menjadi istri kedua, jelas bukan hal yang baik.
"Udah selesai, Mbak. Coba tolong nyalakan lampunya," kata David tiba-tiba.
Sisilia yang berada di bawah spontan mendongakkan kepalanya menatap David. "Udah selesai?"
Perempuan cantik itu segera menyalakan lampu dan benar saja lampu akhirnya menyala dengan terangnya. Sisilia tersenyum dan membantu David memegang tangga agar saat pemuda itu turun tidak terjatuh.
Keduanya kemudian secara bersamaan membawa tangga ke halaman belakang baru kemudian mereka kembali lagi ke ruang tamu yang memang langsung menyatu ke ruang tengah hingga dapur.
Sisilia mengambil minuman dari dalam lemari pendingin serta cake yang masih berada di dalam kotak dan belum ia makan karena memang Sisilia hobi menyimpan makanan.
"Kamu jadi bermalam di sini?" Sisilia meletakkan apa yang diambilnya dari dalam kulkas di atas meja sambil melemparkan tatapannya pada Debora.
Debora yang duduk di single sofa menganggukkan kepalanya. "Aku bermalam di sini. Malas sekali aku di apartemen ataupun di rumah. Di sini sepertinya ramai. Bagas mana?"
"Bagas sepertinya belum pulang dari kerja kelompok. Aku telepon dulu dia, kayaknya itu anak kelayapan setelah selesai kerja kelompok."
Baru saja Sisilia akan mengambil ponselnya tiba-tiba ia melihat Bagaskara yang melaju melewati rumahnya diboncengi oleh seorang pemuda.
"Udah pulang tuh bocah," kata Sisilia.
Saat akan mengambil posisi duduk, tidak ada tempat lain karena ia hanya memiliki tiga sofa.
Satu set sofa sudah dipenuhi dengan barang-barang yang diletakkan. Kemudian single sofa diduduki oleh Debora dan satu set sofa lainnya diduduki oleh David sehingga mau tidak mau Sisilia akhirnya duduk di sebelah pemuda itu.
"Diminum dulu airnya, Vid. Kamu pasti haus karena tadi harus angkat-angkat tangga dan juga manjat dulu," kata Sisilia menatap David.
"Terima kasih, Mbak." David tersenyum sambil mengambil botol minuman yang ada di atas meja lalu meneguknya membuat Sisilia menatap gerakan leher David saat air yang diteguk dengan lancarnya melewati tenggorokannya.
Sisilia fokus pada hal tersebut hingga membuat Debora menatap sahabatnya itu.
"Sil, liur kamu jatuh."
Pada saat itu rasanya wajah Sisilia terasa ditampar oleh sesuatu yang tidak kasat mata, merasakan sendiri perilakunya yang absurd.