Bab 11. Bantuan

1078 Words
Sisilia manatap tumpukan barang-barang yang ada di hadapannya dengan tenang. Belum disusun rapi karena ia juga belum membeli rak untuk menyusun barang-barangnya. Mungkin nanti ia akan mencari sendiri toko yang menjual rak-rak yang bisa dibeli secara langsung. "Mbak yakin mau ninggalin barang-barang Mbak yang lagi berantakan kayak gini?" Rana baru saja ke luar dari kamar dengan mengenakan seragam guru yang memang dibawanya. Ekspresi wajahnya terlihat agak tercengang melihat tumpukan barang-barang yang memang sangat banyak. Kemarin mereka terlalu asik membeli dan memilih sehingga tidak menyadari jika ternyata barang-barang yang mereka beli jumlahnya menumpuk jika dikumpulkan. "Biarin aja, nanti bakalan dirapikan pelan-pelan. Mau sarapan dulu nggak? Mbak ada rencana buat nasi goreng dulu," sahut Sisilia sambil menatap Rana. "Mbak memangnya bisa masak?" Rana menatap ragu-ragu pada Sisilia karena tidak yakin jika perempuan muda di hadapannya ini bisa memasak. "Untuk asin gurihnya, Mbak bisa menakarnya. Soal rasa, entah enak atau enggak, Mbak juga nggak yakin dengan selera kamu." Kedua perempuan itu kemudian memutuskan untuk pergi ke dapur dan memilih untuk memasak nasi goreng yang sudah disebutkan oleh Sisilia. Sementara Rana bertugas untuk membersihkan dapur sekaligus mencuci peralatan kotor atau mengerjakan pekerjaan yang bisa dikerjakan olehnya. "Anak-anak yang kos tempat Mbak, pada bebas memangnya? Maksudnya boleh bawa pasangan?" "Kalau bawa pasangan memang boleh, tapi harus yang udah sah. Kalau belum sah, mana boleh mereka tinggal bareng. Mbak nggak izinkan mereka untuk melakukan perbuatan yang bakalan merugikan." Sisilia menjawab sambil memotong cabai dan bakso untuk topping nasi goreng mereka. "Benar juga. Tapi, kayaknya nggak ada pasangan suami istri yang nge-kost di sini. Rata-rata kayaknya pada anak kuliah dan anak sekolah." "Memang. Rata-rata mereka yang sekolah di sini, terus lanjut kuliah. Mereka yang nge-kos dari SMA, tetap lanjut. Ada juga yang pekerja," timpal Sisilia. "Mbak nyaman-nyaman aja sama mereka. Enak dan pada ringan tangan." "Hmmm. Mereka pasti nyaman tinggal di kosan ini, karena punya induk kos yang baik kayak mbak Sisilia." Rana menganggukan kepalanya. "Tapi nggak ada yang protes kalau kos ini campuran?" "Nggak ada 'sih untuk sementara. Lagian juga, Mbak percaya mereka nggak akan berbuat jahat." Rana menganggukkan kepalanya hingga tak terasa nasi goreng yang dibuat oleh Sisilia akhirnya selesai juga. Mereka menyantap sarapan bersama baru kemudian bersiap untuk berangkat ke sekolah. Sisilia menatap ke arah Bagaskara yang sudah berdiri di depan rumah. Hari ini motornya akan dibawa oleh Bagaskara ke sekolah karena ia akan menumpang dengan Rana. Pulang nanti baru ia naik motor sendiri. "Kamu pulang nanti bareng sama Ibu juga nggak? Kalau pulang bareng nanti ditunggu, atau kamu yang nunggu Ibu kalau Ibu lagi ada tugas." Sisilia berkata pada Bagaskara setelah berdiri di hadapan pemuda itu. "Aku pulangnya nanti sama temen karena mau kerja kelompok." "Kerja kelompok? Di mana? Sama siapa? Kirim alamatnya nanti kalau kamu mau kerja kelompok di rumahnya siapa, biar kalau ada apa-apa gampang bisa cari kamu," sahut Sisilia cepat. "Iya. Nanti aku WA ibu. Oh, motornya Pak David lagi mogok, makanya nanti Pak David berangkatnya bareng aku." Teringat dengan tetangga kosannya yang memang berniat untuk menumpang motor Sisilia, barulah kemudian Bagaskara langsung mengatakannya. Mendengar itu, Sisilia yang tidak pelit menganggukan kepalanya. Mengerti jika motor David saat ini sedang tidak bersamanya melainkan berada di bengkel. "Ya udah kalau begitu Ibu berangkat naik mobil dengan Bu Rana. Kamu bawa motornya nggak usah ngebut-ngebut. Kamu nggak ada cita-cita buat jadi pembalap, jadi nggak usah sok-sokan di jalanan," peringat Sisilia pada Bagaskara. Pemuda itu menganggukkan kepalanya, mengiyakan apa yang dikatakan oleh guru bk-nya. Segera setelah itu Sisilia naik mobil bersama Rana meninggalkan area rumah dan juga kos-annya. Tak lama kemudian muncul David dengan mengenakan kemeja putih dan juga celana berwarna hitam sambil menyelendang tasnya. "Mbak Sisilia udah berangkat?" "Udah tadi, Pak. Baru aja berangkatnya," jawab Bagaskara. "Pak David yang bawa motornya?" David mengangguk setuju kemudian menyambut lemparan kunci motor dari Bagaskara sebelum akhirnya ia mengendarai motor dengan Bagaskara yang duduk di belakang. Pemuda itu tersenyum merasakan jika saat ini ia membawa motor Sisilia. ___ Sisilia menghela napas melihat kamarnya yang gelap karena tiba-tiba saja lampu kamarnya padam dan tidak menyala sejak tadi berusaha untuk ia hidupkan. Perempuan itu baru saja tiba di rumahnya setelah tadi mengunjungi beberapa toko untuk mencari rak yang diperlukan. Rumahnya ini mungkin akan terlihat penuh dengan barang-barang karena Olivia sendiri belum mendapatkan ruang atau tempat untuk menyimpan barang-barang jualannya. Mungkin nanti ia akan membuat ruang lain di halaman belakang rumahnya yang memang masih banyak space kosong yang bisa dibuat bangunan sekaligus tempat untuk berjualan. Rumah Sisilia hanya memiliki dua buah kamar dan dua buah kamar itu masing-masing berukuran 4 kali 5 untuk kamar depan, dan 4 kali 3 untuk ukuran kamar belakang. Sementara kamar mandi sendiri berukuran 2 kali 3 meter karena memang Sisilia sangat menyukai kamar mandi dengan ukuran yang luas. Ada laundry room yang langsung menyatu dengan tempat penjemuran. Sedang memikirkan bagaimana caranya agar lampu bisa dinyalakan dan bersiap untuk memanggil orang, tiba-tiba saja suara ketukan pintu terdengar membuatnya berpikir jika yang datang adalah Debora mengingat jika sahabatnya itu mengatakan jika dia akan bermalam di rumahnya. Saat membuka pintu, bukan wajah Debora yang muncul di hadapannya melainkan sosok pemuda dengan wajah tampan dan tubuh tinggi bersih, berdiri dengan senyum tipis menghiasi wajahnya. "David? Ada apa? Ada keperluan? Bukannya kamu tadi ada di toko?" Sisilia ingat jika manajer tokonya berkata jika David tidak bekerja sebagai pramuniaga, melainkan sebagai teknisi di mana keberadaan dibutuhkan jika ada masalah pada sistem di toko. Pak Rully juga mengatakan jika kehadiran David memang sangat dibutuhkan karena sistem mereka sering mengalami trouble sehingga kadang menghambat kinerja para karyawan. Sisilia tidak terlalu peduli dengan hal semacam itu selama tidak mengganggu operasional tokonya. Lagipula orang seperti David yang memiliki keahlian di bidangnya memang dibutuhkan. "Mbak, tadi Pak Rully bilang sama saya kalau lampu di kamar Mbak mati. Pak Rully minta saya buat membetulkannya. Apa Mbak nggak keberatan?" David bertanya pada Sisilia, tentang kehadirannya di depan rumah wanita ini. Hal ini membuat Sisilia menepuk dahinya pelan karena tadi ia memang sempat menghubungi manajernya itu dan mengatakan jika ia membutuhkan manusia yang bisa membantunya membenarkan lampunya. "Hampir aja lupa kalau tadi memang saya minta sama Pak Rully buat bantu benerin lampu. Kamu nggak keberatan?" Sisilia tidak merasa curiga sama sekali. "Nggak sama sekali, Mbak. Kebetulan, saya juga lagi nggak ada pekerjaan di toko." Segera Sisilia mempersilakan David untuk masuk ke dalam rumahnya. Melihat tinggi plafon dengan lantai, perempuan itu memutuskan untuk mencari tangga di halaman belakang rumahnya yang memang ada tangga yang membuat David segera membantu membawanya. "Thanks," ucap Sisilia. "Sama-sama, Sayang--" "Sil! Kalian lagi berjaenah?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD